SLB Bhakti Wiyata Kulon Progo Hadapi Krisis Guru, Penerimaan Siswa Baru 2026 Dibatasi

Bagikan :
Wakil Bupati Kulon Progo mengunjungi SLB Bhakti Wiyata yang menghadapi keterbatasan guru dan sarana prasarana. (Dok Pemkab Kulon Progo)

TUGU JOGJA – SLB Bhakti Wiyata di Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, membatasi penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026 akibat keterbatasan tenaga pendidik dan sarana prasarana. Sekolah luar biasa yang melayani anak berkebutuhan khusus (ABK) tersebut hanya menerima 10 siswa baru dari 14 calon peserta didik yang mendaftar melalui Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Pembatasan kuota dilakukan untuk menjaga kualitas layanan pendidikan dan pendampingan siswa di tengah belum idealnya rasio guru dengan peserta didik. Saat ini SLB Bhakti Wiyata melayani 59 siswa dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB dengan dukungan jumlah guru yang masih terbatas, sementara kebutuhan pendampingan bagi siswa dengan kebutuhan khusus terus meningkat.

Kondisi tersebut mengemuka saat kunjungan Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko yang menjadi pembina upacara bendera di SLB Bhakti Wiyata, Senin (27/7/2026).

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan pendidikan khusus, pihak sekolah mengaku belum mampu menambah kapasitas secara maksimal karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki.

Pendaftar Meningkat, SLB Bhakti Wiyata Terpaksa Membatasi Kuota Siswa Baru

Tahun ini SLB Bhakti Wiyata mencatat jumlah pendaftar tertinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Sebanyak 14 calon peserta didik mendaftar melalui Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Namun, sekolah hanya menerima 10 siswa baru untuk menggantikan 10 siswa tingkat SMALB yang telah menyelesaikan pendidikan.

Baca juga  Meski Hujan Masih Turun, Warga Kalibawang dan Samigaluh Kulon Progo Sudah Ajukan Droping Air Bersih

Kepala SLB Bhakti Wiyata, Tresnaning Putri, mengatakan pembatasan penerimaan peserta didik baru dilakukan agar kualitas layanan dan pendampingan terhadap siswa tetap terjaga.

Peningkatan jumlah pendaftar tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya sosialisasi yang dilakukan sekolah. Selain pemasangan papan nama yang lebih representatif, promosi melalui media sosial juga dinilai efektif dalam memperkenalkan layanan pendidikan khusus kepada masyarakat.

Meski demikian, peningkatan minat masyarakat belum dapat diikuti dengan penambahan kapasitas sekolah karena keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung.

Jumlah Guru Belum Seimbang dengan Kebutuhan Siswa Berkebutuhan Khusus

Salah satu kendala utama yang dihadapi SLB Bhakti Wiyata saat ini adalah keterbatasan tenaga pendidik.

Sekolah tersebut saat ini melayani 59 siswa yang berasal dari berbagai kategori kebutuhan khusus, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, hingga autisme.

Dalam menjalankan layanan pendidikan, SLB Bhakti Wiyata didukung oleh 15 tenaga pendidik, 3 tenaga kependidikan, dan 3 guru kunjung.

Jumlah tersebut dinilai masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pendampingan ideal, terutama bagi siswa autisme yang membutuhkan perhatian dan pendekatan pembelajaran lebih intensif.

“Untuk siswa autis misalnya, idealnya satu guru menangani satu anak. Namun karena keterbatasan yang kami miliki, ada guru yang harus mendampingi dua sampai tiga siswa autis sekaligus,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan karena setiap peserta didik memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Guru harus menyesuaikan metode pembelajaran agar setiap siswa tetap memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.

Baca juga  Polda DIY Usut Laporan Korban Baru Kasus Mafia Tanah di Bantul

Seluruh Guru SLB Bhakti Wiyata Masih Berstatus Non-ASN

Selain keterbatasan jumlah tenaga pendidik, persoalan status kepegawaian guru juga menjadi perhatian pihak sekolah.

Hingga saat ini seluruh tenaga pengajar di SLB Bhakti Wiyata masih berstatus guru yayasan atau non-ASN.

Situasi tersebut turut memengaruhi pengelolaan sumber daya manusia, khususnya dalam menjaga keberlanjutan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus dalam menangani pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Ketersediaan guru dengan kemampuan memahami berbagai jenis kebutuhan disabilitas menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas pembelajaran di sekolah luar biasa.

Keterbatasan Sarana Prasarana Masih Menjadi Perhatian Sekolah

Selain persoalan tenaga pendidik, SLB Bhakti Wiyata juga masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.

Pihak sekolah telah menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, termasuk kebutuhan revitalisasi bangunan sekolah serta penyelesaian beberapa persoalan administratif yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan.

Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting seiring meningkatnya jumlah siswa yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.

Beberapa fasilitas sekolah masih perlu ditingkatkan agar mampu mendukung proses belajar mengajar yang lebih ramah dan sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.

Pemkab Kulon Progo Siap Kawal Aspirasi Sekolah ke Pemerintah Provinsi DIY

Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menegaskan pemerintah daerah akan membantu mengawal berbagai kebutuhan yang disampaikan oleh SLB Bhakti Wiyata.

Baca juga  Food Bank Lumbung Mataraman Gandeng Hotel, Restoran, dan Masyarakat Umum

Menurutnya, meskipun kewenangan pengelolaan sekolah luar biasa berada di bawah Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah kabupaten tetap memiliki tanggung jawab untuk mendukung pelayanan pendidikan bagi masyarakat.

“Kalau pemerintah tidak hadir dan melihat langsung, persoalan di lapangan tidak akan diketahui secara utuh. Aspirasi yang perlu didorong ke tingkat provinsi akan kami kawal dan kami dukung,” kata Ambar.

Kunjungan langsung tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengetahui berbagai kebutuhan sekolah secara lebih menyeluruh, termasuk persoalan tenaga pendidik maupun fasilitas pendidikan.

Tetap Berprestasi Meski Menghadapi Keterbatasan

Di tengah berbagai kendala yang dihadapi, SLB Bhakti Wiyata tetap mampu mencatatkan sejumlah prestasi di tingkat daerah maupun regional.

Siswa sekolah tersebut berhasil meraih penghargaan dalam berbagai ajang, mulai dari bidang olahraga, Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), hingga Lomba Kompetensi Siswa (LKS).

Prestasi tersebut diraih melalui berbagai cabang, seperti tenis meja, atletik, menyanyi, pencak silat, hingga keterampilan kriya.

Capaian itu menunjukkan bahwa keterbatasan sarana dan sumber daya tidak menghalangi siswa serta tenaga pendidik SLB Bhakti Wiyata untuk terus mengembangkan kemampuan dan berkompetisi di berbagai bidang.

sydney night

bento4d

bento4d

bento4d

bento4d

situs toto

situs gacor

situs toto

bento4d

situs toto

slot gacor

situs gacor

slot gacor

bento4d

toto

bento4d

bento4d

slot gacor

rtp slot

situs togel

Berita Terbaru

tugu-diy
Inflasi DIY Naik 2,54 Persen pada Juli 2026, Emas Perhiasan hingga Beras Dongkrak Biaya Hidup
hb-x
Sri Sultan HB X Terima Dubes Qatar, DIY Sambut Delegasi Seni Peringati 50 Tahun Hubungan RI-Qatar
pp-qatar
Muhammadiyah dan Qatar Jalin Kolaborasi Pendidikan hingga Lapangan Kerja, Dimulai dari Yogyakarta
melon sumberharjo
BUMKal Sumberharjo Sleman Panen Melon Premium Perdana, Lahan Tidur Disulap Jadi Penggerak Ekonomi Desa
6305380052505399873
Rekayasa Lalu Lintas Jalan Bantul Hari Ini, Jembatan Winongo Berlakukan Sistem Buka-Tutup

Sedang Banyak Dibaca

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

hutri80_fa_secondary-logo_on-red_ratio-16x9

Rangkaian Kegiatan HUT RI 80 Resmi, Ada Berbagai Acara Mulai 1 hingga 24 Agustus 2025