
TUGUJOGJA – Panduan lengkap tata cara shalat gerhana bulan atau shalat khusuf sesuai tuntunan ulama, lengkap dengan bacaan niat, hukum pelaksanaan, khutbah, dan ketentuan berjamaah.
Gerhana bulan bukan sekadar peristiwa astronomi. Dalam pandangan Islam, fenomena ini termasuk tanda kebesaran Allah yang patut disikapi dengan meningkatkan ibadah dan ketundukan. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika terjadi gerhana, salah satunya dengan melaksanakan shalat sunnah yang dikenal sebagai shalat khusuf.
Lalu seperti apa tata cara shalat gerhana bulan yang benar menurut tuntunan para ulama? Berikut penjelasan lengkapnya.
Pengertian Shalat Gerhana Bulan atau Shalat Khusuf
Gerhana bulan dalam bahasa Arab disebut khusuf. Shalat yang dikerjakan saat peristiwa ini berlangsung dinamakan shalat sunnah khusuf. Para ulama sepakat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.
Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa shalat gerhana termasuk ibadah sunnah yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Anjuran ini juga ditegaskan dalam berbagai literatur fikih klasik, termasuk dalam karya Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Iโanatut Thalibin.
Dasar anjuran ini bersumber dari hadis riwayat Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah, dan ketika gerhana terjadi, umat Islam diperintahkan untuk berdoa dan mendirikan shalat.
Hukum Shalat Gerhana Bulan
Mayoritas ulama menetapkan hukum shalat gerhana bulan sebagai sunnah muakkad. Artinya, ibadah ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan meskipun tidak bersifat wajib.
Anjuran tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa gerhana bukanlah pertanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kebesaran Allah. Karena itu, ketika gerhana terlihat, umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak doa, takbir, shalat, dan sedekah.
Apakah Shalat Gerhana Harus Berjamaah?
Shalat gerhana bulan boleh dikerjakan sendirian. Namun, pelaksanaan secara berjamaah lebih utama, sebagaimana shalat hari raya. Jamaahnya terbuka untuk seluruh umat Islam.
Imam yang memimpin dianjurkan adalah pemimpin wilayah setempat atau orang yang ditunjuk mewakilinya. Setelah shalat, disunnahkan menyampaikan dua khutbah yang berisi nasihat, ajakan bertobat, memperbanyak istighfar, sedekah, serta meningkatkan ketakwaan.
Berbeda dengan khutbah Idul Fitri dan Idul Adha, khutbah shalat gerhana tidak diawali dengan takbir.
Niat Shalat Gerhana Bulan
Niat dibaca dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Lafal niatnya sebagai berikut:
ุฃูุตููููู ุณููููุฉู ุงูุฎูุณูููู ุฑูููุนูุชููููู ููู ุชูุนูุงููู
Ushalli sunnatal khusufi rakโataini lillahi taโala.
Artinya: Saya niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat karena Allah Taala.
Jika dilaksanakan berjamaah, boleh menambahkan lafaz sebagai imam atau makmum.
Tingkatan Pelaksanaan Shalat Gerhana
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, terdapat tiga tingkatan dalam pelaksanaan shalat gerhana bulan.
Pertama, tingkatan paling minimal, yaitu dua rakaat seperti shalat sunnah biasa.
Kedua, tingkatan pertengahan, yakni dua rakaat dengan dua kali rukuk pada setiap rakaat.
Ketiga, tingkatan sempurna, yaitu memperpanjang bacaan Al-Qurโan, rukuk, dan sujud sesuai kemampuan, sehingga durasi shalat berlangsung selama gerhana masih terjadi.
Tujuan memanjangkan bacaan adalah agar ibadah tetap berlangsung hingga gerhana berakhir.
Tata Cara Shalat Gerhana Bulan Dua Rakaat
Secara umum, shalat gerhana bulan terdiri atas dua rakaat dengan satu kali salam. Perbedaannya dengan shalat sunnah biasa terletak pada adanya dua kali rukuk dalam setiap rakaat.
Berikut langkah pelaksanaannya secara lengkap:
- Berniat di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah, taawudz, lalu membaca Surat Al-Fatihah.
- Setelah Al-Fatihah, membaca surat panjang seperti Al-Baqarah dengan suara lantang.
- Rukuk pertama dengan durasi cukup lama.
- Bangkit dari rukuk dan membaca Surat Al-Fatihah kembali.
- Membaca surat yang lebih pendek, misalnya Ali Imran.
- Rukuk kedua dengan durasi lebih singkat dari rukuk pertama.
- Bangkit dari rukuk dan membaca doa itidal.
- Sujud pertama dengan durasi yang disesuaikan.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
- Berdiri untuk rakaat kedua dengan tata cara yang sama, tetapi bacaan surat lebih pendek dari rakaat pertama. Dianjurkan membaca An-Nisa pada bacaan pertama dan Al-Maidah pada bacaan kedua.
- Tasyahud akhir.
- Salam.
Setelah salam, imam menyampaikan dua khutbah yang berisi nasihat dan ajakan untuk memperbanyak istighfar, tobat, sedekah, serta amal saleh lainnya.
Apakah Boleh Membaca Surat Pendek?
Sebagian orang mungkin bertanya, apakah bacaan harus sepanjang yang dianjurkan? Para ulama menjelaskan bahwa membaca Surat Al-Fatihah saja pada setiap berdiri tetap sah. Mengganti surat panjang dengan surat pendek juga diperbolehkan.
Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menjelaskan bahwa tujuan memanjangkan bacaan adalah agar shalat berlangsung selama gerhana masih terjadi. Jika kondisi tidak memungkinkan, bacaan pendek tetap diperkenankan.
Ketentuan Penting dalam Shalat Gerhana
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan shalat gerhana bulan:
Pertama, tidak ada adzan dan iqamah. Sebagai pengganti, diserukan kalimat โAsh-shalatu jamiโahโ untuk mengajak jamaah berkumpul.
Kedua, shalat tetap disunnahkan selama gerhana masih terlihat. Jika gerhana telah berakhir, maka kesunnahan shalat pun selesai.
Ketiga, dua khutbah setelah shalat boleh tetap dilaksanakan meskipun gerhana sudah usai.
Hikmah Shalat Gerhana Bulan
Shalat gerhana bulan mengajarkan umat Islam untuk tidak terjebak pada mitos atau takhayul saat menyaksikan fenomena alam. Gerhana bukan pertanda musibah karena wafatnya seseorang, melainkan momen untuk memperbanyak doa dan mempertebal iman.
Ibadah ini juga menjadi pengingat bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas alam semesta. Bulan dan matahari bergerak atas kehendak Allah semata. Dengan mendirikan shalat khusuf, seorang muslim menunjukkan sikap tunduk dan penuh harap kepada Sang Pencipta.
Demikian panduan lengkap tata cara shalat gerhana bulan beserta niat, hukum, dan ketentuannya. Semoga penjelasan ini dapat menjadi referensi yang jelas dan mudah dipahami ketika fenomena gerhana kembali terjadi. Wallahu aโlam.
***