
TUGUJOGJA – Simak panduan lengkap shalat Idul Fitri mulai dari niat, tata cara, jumlah takbir, hingga adab khutbah sesuai sunnah dan mazhab Syafi’i.
Shalat Idul Fitri menjadi salah satu ibadah penting yang sangat dianjurkan bagi umat Islam saat merayakan hari kemenangan. Ibadah sunnah muakkadah ini dilaksanakan sebanyak dua rakaat, umumnya secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka, lalu dilanjutkan dengan khutbah sebagai pelengkap.
Meski lebih utama dilakukan secara berjamaah, shalat Id tetap sah jika dikerjakan sendiri di rumah. Kondisi ini biasanya terjadi ketika seseorang terlambat mengikuti jamaah atau memiliki halangan tertentu. Dalam kondisi tersebut, melaksanakan shalat Id secara mandiri tetap lebih baik dibandingkan meninggalkannya.
Panduan pelaksanaan shalat Idul Fitri ini merujuk pada penjelasan ulama dalam kitab Fashalatan karya Syekh KHR Asnawi serta kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î, sehingga sesuai dengan praktik mazhab Syafi’i yang umum dianut di Indonesia.
Niat Shalat Idul Fitri
Niat merupakan bagian penting dalam setiap ibadah. Dalam shalat Idul Fitri, niat cukup dihadirkan dalam hati, sementara melafalkannya hanya bersifat sunnah untuk membantu kekhusyukan.
Berikut lafaz niat shalat Idul Fitri:
Sebagai makmum:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَــالَى
Ushallî sunnatan li ‘îdil fithri rak‘ataini ma’mûman lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: Aku niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Sebagai imam:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَــالَى
Ushallî sunnatan li ‘îdil fithri rak‘ataini imâman lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: Aku niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala.
Perlu diketahui, shalat Id tidak diawali dengan azan maupun iqamah. Sebagai gantinya, biasanya dikumandangkan seruan “ash-shalâtu jâmi‘ah” sebagai tanda dimulainya ibadah.
Tata Cara Shalat Idul Fitri Rakaat Pertama
Pelaksanaan shalat Id memiliki perbedaan dengan shalat pada umumnya, terutama pada jumlah takbir tambahan.
Setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, jamaah dianjurkan membaca takbir tambahan sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama.
Di sela-sela takbir tersebut, dianjurkan membaca tasbih dan tahmid, seperti:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Atau:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Setelah selesai takbir, dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Fatihah, kemudian disunnahkan membaca Surah Al-A’la. Selanjutnya, gerakan shalat dilanjutkan seperti biasa hingga berdiri untuk rakaat kedua.
Tata Cara Shalat Idul Fitri Rakaat Kedua
Pada rakaat kedua, terdapat takbir tambahan sebanyak lima kali yang dilakukan setelah berdiri.
Setiap takbir disertai dengan mengangkat tangan, dan di sela-selanya dianjurkan membaca bacaan tasbih seperti pada rakaat pertama.
Setelah takbir selesai, dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Fatihah, kemudian dianjurkan membaca Surah Al-Ghâsyiyah. Setelah itu, shalat dilanjutkan hingga salam seperti biasa.
Sebagai catatan, takbir tambahan pada kedua rakaat tersebut hukumnya sunnah. Artinya, jika terlupa, shalat tetap sah dan tidak perlu diulang.
Khutbah Idul Fitri dan Adab Mendengarkannya
Setelah shalat selesai, jamaah dianjurkan tetap berada di tempat untuk menyimak khutbah. Khutbah menjadi bagian penting dalam rangkaian shalat Id berjamaah.
Khutbah Idul Fitri umumnya disampaikan dalam dua bagian dan dipisahkan dengan duduk sejenak. Dalam praktiknya, khatib biasanya memulai khutbah pertama dengan sembilan kali takbir, sedangkan khutbah kedua diawali dengan tujuh kali takbir.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس”
“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)
Mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian merupakan bagian dari adab yang dianjurkan dalam pelaksanaan shalat Id.
Shalat Idul Fitri bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi momentum spiritual untuk menyempurnakan ibadah setelah menjalani bulan Ramadan. Dengan memahami niat, tata cara, serta bacaan yang benar, ibadah ini dapat dilakukan secara sah, tertib, dan penuh kekhusyukan.
Selain itu, kehadiran khutbah setelah shalat menjadi sarana refleksi sekaligus penguat nilai-nilai kebersamaan dan saling memaafkan di hari kemenangan.***