
TUGUJOGJA – Teks khutbah Jumat tentang Nuzulul Quran dan pentingnya perintah membaca dalam Islam. Simak makna turunnya Al-Quran serta pesan membangun peradaban melalui ilmu.
Teks khutbah Jumat tentang Nuzulul Quran dan pentingnya perintah membaca dalam Islam. Simak makna turunnya Al-Quran serta pesan membangun peradaban melalui ilmu.
Peristiwa turunnya Al-Quran kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Peristiwa yang dikenal dengan sebutan Nuzulul Quran tersebut bukan sekadar peringatan tahunan yang dirayakan setiap bulan Ramadhan, melainkan juga pengingat bagi umat Islam tentang pentingnya menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup.
Momentum ini mengajarkan bahwa kebangkitan manusia dimulai dari ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bukanlah perintah shalat atau zakat, melainkan perintah untuk membaca. Pesan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju ketakwaan dan kemajuan peradaban tidak dapat dipisahkan dari tradisi membaca, memahami, dan mengamalkan ilmu.
Naskah khutbah Jumat dengan tema “Nuzulul Quran dan Spirit Membaca untuk Peradaban” mengajak umat Islam untuk kembali merenungkan makna di balik turunnya Al-Quran pertama kali. Melalui khutbah ini, jamaah diharapkan tidak hanya memperingati peristiwa tersebut secara seremonial, tetapi juga menjadikannya sebagai motivasi untuk memperkuat hubungan dengan Al-Quran.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ، خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ، اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ، الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ، عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Salah satu kewajiban utama bagi setiap muslim adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual semata, tetapi juga melalui ketaatan dalam menerima, memahami, serta mengamalkan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran.
Pada bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, umat Islam kembali diingatkan pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu turunnya Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah Nuzulul Quran.
Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah perintah membaca yang tertuang dalam lima ayat pertama Surat Al-Alaq. Perintah tersebut menegaskan bahwa jalan menuju ketakwaan dan kemajuan dimulai dari membaca, memahami, serta merenungkan ayat-ayat Allah.
Ketakwaan tanpa didasari ilmu pengetahuan akan mudah goyah. Sebaliknya, ilmu tidak akan berkembang tanpa adanya kebiasaan membaca. Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Quran menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk membangun budaya membaca, baik membaca Al-Quran maupun memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Sejarah Turunnya Wahyu Pertama
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Nuzulul Quran merupakan peristiwa ketika wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saat beliau sedang berkhalwat di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan. Pada saat itu, Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu berupa lima ayat pertama dari Surat Al-Alaq:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Artinya: “(1) Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. (4) Yang mengajar manusia dengan pena. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ulama tafsir Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab At-Tibyan fi Ulumil Quran menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah dari Lauh Mahfuzh menuju langit dunia yang dikenal dengan Baitul Izzah pada malam Lailatul Qadar. Tahap kedua adalah penurunan wahyu secara bertahap dari langit dunia kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 23 tahun.
Pendapat lain disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Jilani dalam kitab al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqq. Ia menjelaskan bahwa turunnya Al-Quran secara bertahap memiliki hikmah besar bagi umat manusia.
Beliau mengatakan:
أَنَّ اللهَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ جُمْلَةً وَاحِدَةً وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ مُتَفَرِّقًا. فَقِيْلَ أَيُّهُمَا أَحْسَنُ نُزُوْلًا؟ اَلْقُرْأَنُ أَحْسَنُ
Artinya: “Sungguh, Allah menurunkan Kitab (sebelum Al-Quran) satu kali secara keseluruhan, dan menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) secara terpisah. Maka, jika ditanyakan: di mana yang lebih baik turunnya? (Maka jawabannya) Al-Quran lebih baik.”
Penurunan wahyu secara bertahap memberikan kemudahan bagi umat Islam dalam memahami dan menjalankan ajaran yang terkandung di dalamnya. Hal ini berbeda dengan pengalaman umat terdahulu yang menerima kitab suci sekaligus sehingga merasa berat menjalankan seluruh perintah dan larangannya.
Bahkan dalam Al-Quran disebutkan sikap sebagian dari mereka yang mengatakan:
فَقَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا
Artinya: “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.”
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar tidak hanya mendengar atau membaca Al-Quran, tetapi juga berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Perintah Membaca dalam Islam
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Perintah membaca dalam Islam memiliki makna yang luas. Membaca tidak hanya berarti membaca teks semata, tetapi juga memahami berbagai fenomena kehidupan dan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Dalam ajaran Islam dikenal dua jenis ayat, yaitu ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah firman Allah yang tertulis dalam Al-Quran, sedangkan ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta.
Kedua jenis ayat tersebut sama-sama penting untuk dipahami oleh umat Islam agar dapat menjalani kehidupan dengan bijaksana.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ
Artinya: “Siapa saja yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya ia akan diberi pemahaman dalam agama dan diilhami petunjuk-Nya,” (Hadis Riwayat At-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan salah satu bentuk karunia Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk terus belajar, membaca, dan mendalami ajaran agama.
Momentum Nuzulul Quran seharusnya menjadi sarana introspeksi bagi setiap muslim. Apakah selama ini kita sudah rutin membaca Al-Quran? Apakah kita berusaha memahami maknanya? Ataukah Al-Quran hanya menjadi pajangan yang jarang disentuh?
Jika umat Islam ingin bangkit dan membangun peradaban yang maju, maka jawabannya terletak pada kualitas ilmu pengetahuan serta kesadaran untuk mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran.
Peradaban besar tidak dibangun dengan kemarahan ataupun kebisingan, melainkan dengan pemikiran yang jernih dan pencerahan ilmu. Oleh karena itu, perintah membaca atau iqra menjadi pesan abadi bagi seluruh umat manusia.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Penutup
Demikian khutbah Jumat dengan tema Nuzulul Quran dan semangat membaca sebagai fondasi membangun peradaban. Peringatan Nuzulul Quran pada bulan Ramadhan menjadi momen penting bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Quran melalui tadarus, tilawah, serta pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pada Ramadhan 2026, peringatan Nuzulul Quran bertepatan dengan Jumat, 6 Maret 2026 malam atau malam Sabtu. Peristiwa ini mengingatkan umat Islam bahwa wahyu pertama turun pada pertengahan bulan Ramadhan sebagai petunjuk hidup bagi manusia.
Momentum tersebut menjadi kesempatan terbaik untuk memperbanyak membaca Al-Quran, memahami maknanya, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan menjadikan Al-Quran sebagai sumber inspirasi, diharapkan umat Islam mampu membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berperadaban mulia.
***