
TUGUJOGJA – Gelombang keprihatinan atas maraknya cyberbullying di kalangan pelajar SMA/SMK menggerakkan langkah tegas tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta.
Dengan pimpinan Prof. Dr. Puji Lestari, M.Si, tim ini mengusung misi ambisius: membumikan konsep Komunikasi Hati melalui platform digital www.sikomhati.id untuk memutus rantai kekerasan di dunia maya.
Penerapan Komunikasi Hati
Dalam uji coba di SMA Gama Yogyakarta, penerapan Komunikasi Hati berhasil menurunkan angka tindakan cyberbullying hingga 18 persen. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa literasi digital yang mengedepankan empati dan simpati dapat menjadi senjata ampuh melawan perilaku negatif di jagat maya.
“Komunikasi hati itu soal olah pikir dan olah rasa, mengubah perasaan negatif menjadi energi positif, serta membersihkan sampah hati berupa iri, dengki, benci, dan dendam. Ketika prinsip ini bisa dibumikan di kalangan pelajar, dampaknya luar biasa. Kami sudah buktikan di SMA Gama Yogyakarta, hasilnya signifikan. Harapan kami, program ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang tergabung dalam Jogja Smart School (JSS),” tegas Puji Lestari dalam Focus Group Discussion (FGD) di Balai Teknologi Komunikasi dan Pendidikan (Tekkomdik) DIY.
Kepala Balai Tekkomdik DIY Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng., para guru bimbingan konseling (BK), dan kepala sekolah anggota JSS menghadiri FGD ini. Rudy menegaskan kekhawatiran dengan data yang memprihatinkan. Survei menyebutkan, 1 dari 20 anak mengalami gangguan kejiwaan dan bullying menjadi salah satu penyebab utamanya.
“Ini mengerikan. Apa yang digagas tim UPNVY ini harus menjadi gerakan bersama demi membentengi generasi muda,” ujar Rudy.
Beragam Cyberbullying Pelajar
Puji Lestari mengurai bahwa cyberbullying punya banyak wajah: mulai dari flaming, online harassment, cyberstalking, denigration, impersonation, hingga trickery.
Penelitian timnya berawal dengan survei ke 30 SMA/SMK di DIY anggota JSS, untuk memetakan kebutuhan penerapan model literasi digital berbasis Komunikasi Hati. Penelitian ini mendapat dukungan hibah Dana Terapan DRTPM 2025.
FGD ini menjadi ajang untuk menggali kasus nyata cyberbullying di sekolah dan memetakan tingkat literasi digital yang sudah berjalan. Hasilnya, terungkap bahwa bullying masih sering terjadi, baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal. Pemicu paling sering ternyata sepele, urusan asmara, pertemanan, bahkan kesalahpahaman kecil.
Perwakilan SMK Negeri 1 Yogyakarta Sri Winarsih menilai, literasi digital harus menyentuh kesepahaman mendasar tentang apa maksud dengan bullying. Ia menyoroti fenomena salah persepsi, di mana tindakan disiplin guru justru salah arti. Siswa maupun orang tua mengartikannya sebagai bullying.
Yunna Helmi, S.Pd., M.Pd. menambahkan bahwa cyberbullying di sekolahnya bahkan memicu bullying fisik. Ia menilai Komunikasi Hati relevan dan merupakan kebutuhan saat ini, tapi sekolah perlu mengevaluasi efektivitasnya secara berkala.
Di akhir FGD, seluruh sekolah yang hadir sepakat untuk menerapkan model literasi digital Komunikasi Hati melalui platform sikomhati.id sebagai upaya konkret mengurangi bullying di lingkungan pelajar. (ef linangkung)