
Tugu Jogja – Sabtu (30/8/2025) pagi pukul 06.54 WIB, polisi dari Polda DIY menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa aksi yang masih bertahan di depan Mapolda DIY, Ringroad Utara, Sleman. Tembakan gas air mata itu langsung memecah kerumunan, memaksa demonstran berlarian mencari perlindungan.
Asap putih menyelimuti udara. Suasana mencekam. Jalanan Ringroad Utara berubah menjadi lautan kabut gas air mata. Polisi bergerak maju dengan tameng dan tongkat, sementara massa melemparkan batu serta botol air mineral.
Massa aksi yang sejak dini hari bertahan di Ringroad utara halaman depan Mapolda DIY menolak mundur. Sumpah serapah perlawanan, memukul benda-benda keras untuk menimbulkan suara gaduh, dan sesekali melemparkan benda ke arah barikade polisi. Namun, kepulan gas air mata yang dilepaskan aparat membuat barisan demonstran mulai kocar-kacir.
Beberapa pengendara motor yang terjebak di lokasi panik. Mereka berusaha menyelamatkan diri di tengah kekacauan. Satu unit motor terjatuh akibat pengendara kehilangan kendali saat berusaha menghindari massa dan gas air mata. Situasi makin kacau ketika suara tembakan peringatan terdengar bertubi-tubi.
Polisi tampak membentuk formasi rapat. Mereka bergerak secara perlahan, langkah demi langkah, mendesak massa keluar dari area Ringroad Utara. Aroma menyengat gas air mata menusuk hidung siapa pun yang berada di lokasi. Banyak demonstran menutup wajah dengan kain basah untuk bertahan.
Sementara itu, sebagian massa yang tidak tahan dengan serangan gas air mata memilih mundur ke arah timur. Mereka berlarian menyusuri jalan, meninggalkan spanduk dan peralatan aksi di lokasi. Namun, sebagian lain masih mencoba bertahan. Mereka terus berteriak lantang, menolak dibubarkan, meski mata mereka memerah dan sesak napas akibat asap.
Situasi pagi itu benar-benar tegang. Polisi menegaskan tindakan ini sebagai upaya terakhir setelah negosiasi tak menghasilkan kesepakatan. Massa menolak bubar sejak malam sebelumnya, bahkan setelah Sri Sultan HB X sempat mendatangi Mapolda DIY untuk menenangkan keadaan. Namun, bentrokan tetap pecah hingga Sabtu pagi.
Saksi mata di lokasi menyebutkan, suasana mencekam begitu terasa. Warga sekitar menutup pintu rumah dan toko mereka, khawatir situasi semakin tak terkendali. Beberapa warga yang mencoba merekam kejadian dengan ponsel harus menutup wajah karena mata mereka perih terkena gas air mata.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih terus menembakkan gas air mata dalam jeda tertentu. Massa mulai terdesak keluar dari kawasan Mapolda DIY, tetapi perlawanan belum benar-benar berhenti. Jalan Ringroad Utara masih lumpuh total, dengan tumpukan batu, kayu, serta sisa-sisa aksi berserakan di sepanjang jalan.(ef linangkung)