
TUGUJOGJA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi momen istimewa bagi masyarakat Yogyakarta. Setiap tahun, Keraton Yogyakarta menyelenggarakan berbagai tradisi yang penuh makna, mulai dari prosesi sakral hingga perayaan budaya yang menyatukan ribuan warga dan wisatawan.
Pada tahun 2025, rangkaian acara Maulid Nabi kembali digelar dengan meriah, yang mencakup Sekaten dan Grebeg Mulud sebagai puncak perayaan.
Sekaten, Tradisi Panjang yang Sarat Makna
Sekaten merupakan salah satu tradisi utama yang dilaksanakan Keraton Yogyakarta untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kata “Sekaten” sendiri memiliki banyak makna. Ada yang mengaitkannya dengan kata syahadatain atau dua kalimat syahadat, ada pula yang menafsirkannya sebagai gabungan kata suka ati (senang hati).
Sejarahnya berakar sejak masa Kerajaan Demak pada abad ke-15, ketika Sunan Kalijaga menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah agar masyarakat tertarik berkumpul di sekitar masjid untuk mendengarkan ajaran Islam.
Di tahun 2025, perayaan Sekaten bertepatan dengan Maulid Nabi pada tanggal 5 September 2025. Prosesi dimulai sejak akhir Agustus dengan pengeluaran gamelan pusaka dari Keraton, dilanjutkan dengan berbagai ritual khas hingga puncaknya di Masjid Gedhe Kauman.
Prosesi Penting dalam Sekaten
Miyos Gangsa
Gamelan pusaka Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari keraton menuju Bangsal Ponconiti, lalu dipindahkan ke Masjid Gedhe untuk ditabuh. Gamelan dimainkan setiap hari selama enam hari berturut-turut, kecuali pada malam Jumat dan hari Jumat siang.
Numplak Wajik
Tiga hari sebelum puncak Grebeg, digelar tradisi pembuatan gunungan. Wajik ditata pada bagian tengah gunungan perempuan, dipimpin oleh putri sulung Sultan. Pada saat yang sama, pasukan prajurit keraton juga melakukan gladi persiapan.
Kondur Gangsa
Pada tanggal 11 Rabiul Awal, gamelan pusaka dikembalikan ke keraton. Sebelum prosesi ini, Sultan hadir dalam acara pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe.
Garebeg (Grebeg Mulud)
Inilah puncak peringatan Maulid Nabi, ketika berbagai gunungan dibagikan kepada masyarakat. Prosesi berlangsung khidmat sekaligus meriah, dengan ribuan warga berdesakan untuk mendapatkan bagian dari gunungan yang diyakini membawa berkah.
Bedhol Songsong
Malam harinya, dilaksanakan acara Bedhol Songsong di Bangsal Pagelaran. Payung agung yang digunakan selama prosesi Sekaten dipindahkan kembali ke keraton. Biasanya, prosesi ini juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Grebeg Mulud, Puncak Kemeriahan Maulid Nabi
Jika Sekaten merupakan rangkaian persiapan, maka Grebeg Mulud adalah puncak dari seluruh perayaan. Tradisi ini diselenggarakan pada tanggal 12 Rabiul Awal di halaman Masjid Gedhe Kauman. Keraton membagikan gunungan yang terbuat dari hasil bumi, sayuran, buah-buahan, dan jajanan khas.
Gunungan yang dibagikan tidak hanya satu, melainkan terdiri dari beberapa jenis:
- Tiga Gunungan Kakung
- Satu Gunungan Estri
- Satu Gunungan Darat
- Satu Gunungan Gepak
- Satu Gunungan Pawuhan
Masing-masing gunungan dikawal oleh bregada prajurit keraton menuju tiga lokasi penting: Masjid Gedhe, Kepatihan, dan Pura Pakualaman. Setelah doa bersama, masyarakat yang hadir akan berebut isi gunungan. Tradisi ini diyakini membawa berkah dan melambangkan kesejahteraan yang diberikan Sultan kepada rakyatnya.
Makna Filosofis Sekaten dan Grebeg Mulud
Tradisi Sekaten dan Grebeg Mulud bukan sekadar acara budaya, tetapi juga sarana dakwah Islam yang diwariskan sejak masa Wali Songo. Sunan Kalijaga menggunakan gamelan sebagai media untuk menarik masyarakat agar mau mendekat dan mendengarkan ajaran agama. Dari situlah, banyak orang kemudian mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.
Selain itu, gunungan dalam Grebeg Mulud melambangkan kemurahan hati raja terhadap rakyatnya. Sedekah hasil bumi yang dibagikan mencerminkan harapan akan kemakmuran bersama dan semangat gotong royong.
Perubahan Sekaten di Era Modern
Dulu, perayaan Sekaten identik dengan pasar malam di Alun-alun Utara. Namun beberapa tahun terakhir, pasar malam tidak lagi digelar agar peringatan kembali pada makna aslinya, yaitu sebagai sarana syiar Islam dan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Kini, prosesi lebih difokuskan pada kegiatan keagamaan, tabuhan gamelan, serta pengajian di Masjid Gedhe.
Rangkaian acara Maulid Nabi 2025 di Jogja menunjukkan bagaimana tradisi budaya dan nilai keagamaan dapat berjalan beriringan. Dari Sekaten yang penuh simbolisme hingga Grebeg Mulud yang meriah dan dinanti masyarakat, semua prosesi mencerminkan identitas Yogyakarta sebagai daerah yang kaya tradisi sekaligus menjunjung tinggi toleransi.
Bagi wisatawan, momen ini menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan warisan budaya Jawa yang telah berlangsung ratusan tahun. Sedangkan bagi masyarakat, perayaan ini menjadi pengingat akan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah dan menjaga warisan leluhur.
***