
TUGUJOGJA – Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul mengungkapkan libur panjang Tahun Baru Islam tahun ini tidak memicu lonjakan wisatawan secara signifikan. Meski begitu, sektor pariwisata Gunungkidul tetap berhasil meraup pendapatan ratusan juta rupiah selama tiga hari liburan.
Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul, Supriyanta, menjelaskan pihaknya mencatat kenaikan kunjungan sejak Jumat (27/6/2025).
Pada hari itu, sebanyak 9.549 wisatawan mendatangi berbagai destinasi di Gunungkidul, menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) senilai Rp93.160.400.
Wisatawan Gunungkidul saat Libur Panjang Tahun Baru Islam
Dispar Gunungkidul mencatat jumlah wisatawan terus meningkat pada Sabtu (28/6/2025). Sebanyak 15.384 orang berkunjung dan menambah PAD hingga Rp155.043.000. Puncak kunjungan terjadi pada Minggu (29/6/2025) dengan jumlah 18.014 wisatawan yang menyumbangkan PAD sebesar Rp206.940.300.
“Total selama tiga hari, kami mencatat 42.947 wisatawan masuk Gunungkidul dengan PAD terkumpul Rp455.143.700,” ungkap Supriyanta pada Senin (30/6/2025).
Ia menegaskan peningkatan kunjungan wisatawan memberi dampak positif tidak hanya bagi pendapatan retribusi, tetapi juga memicu perputaran ekonomi di sektor UMKM.
Para pelaku UMKM di kawasan destinasi wisata meraup berkah libur panjang. Para pemilik warung makan, penjaja suvenir, dan pedagang kaki lima ramai dikunjungi wisatawan. Hunian hotel dan penginapan juga meningkat signifikan.
Supriyanta mengatakan Dispar Gunungkidul terus mendorong penggunaan sistem pembayaran non-tunai di destinasi wisata. Ia menekankan pentingnya transparansi antara petugas dan wisatawan dalam transaksi retribusi.
“Kami ingin memastikan jumlah tiket, jumlah uang, dan jumlah pengunjung terdata dengan akurat dan transparan,” tegasnya.
Imbauan untuk Wisatawan
Di sisi lain, Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan keselamatan selama berwisata. Endang menekankan liburan menyenangkan hanya dapat tercipta jika keamanan dan kenyamanan wisatawan terjamin.
“Wisatawan dan pelaku usaha pariwisata wajib memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan selama liburan,” pesan Endang.
Endang menilai kesiapsiagaan pemangku kepentingan pariwisata harus tetap maksimal meski kunjungan tidak melonjak tajam. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang telah menerbitkan Surat Edaran beserta 24 modul panduan mitigasi risiko untuk seluruh pengelola wisata di Indonesia.
Endang mendesak pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan standar Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) benar-benar terlaksana di lapangan. Menurutnya, standar CHSE menjadi kunci meningkatkan kepercayaan wisatawan di tengah dinamika pariwisata nasional.
“Saya berharap momen libur panjang ini bisa mendongkrak target PAD sektor wisata sekaligus menggairahkan ekonomi daerah di kuartal kedua 2025,” pungkasnya.(ef linangkung)