Mengenal Asal-usul Upacara Numplak Wajik Keraton Jogja: Tradisi Pembuka Garebeg yang Sarat Makna Syukur

Bagikan :
Ilustrasi asal-usul Upacara Numplak Wajik Keraton Jogja (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJA – Keraton Yogyakarta terus menjaga berbagai tradisi warisan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Dan salah satu prosesi yang menjadi bagian penting dalam rangkaian adat tersebut adalah Upacara Numplak Wajik, sebuah ritual yang menandai dimulainya pembuatan gunungan untuk upacara Garebeg.

Tradisi ini dilaksanakan tiga kali dalam setahun sebagai simbol rasa syukur sekaligus sedekah Sultan kepada masyarakat melalui pembagian gunungan pada perayaan Garebeg Mulud, Garebeg Sawal, dan Garebeg Besar.

Upacara Numplak Wajik tidak hanya menjadi bagian dari ritual Keraton, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya Jawa yang masih dipertahankan hingga kini.

Prosesi ini memadukan nilai spiritual, filosofi kehidupan, serta ragam kuliner tradisional yang memiliki makna simbolis dalam setiap tahap pelaksanaannya.

Upacara Numplak Wajik Menjadi Awal Rangkaian Garebeg Keraton

Berdasarkan catatan sejarah yang dimuat dalam laman resmi Keraton Jogja, Numplak Wajik merupakan upacara sakral yang menjadi penanda dimulainya proses pembuatan dan penyusunan gunungan.

Gunungan merupakan simbol kemurahan hati Sultan kepada rakyat. Setelah selesai dirangkai, gunungan akan diarak keluar dari lingkungan Keraton Yogyakarta sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat dalam puncak perayaan Garebeg.

“Upacara Numplak Wajik adalah fondasi dari pelaksanaan Garebeg, yang menyimbolkan dimulainya perwujudan syukur dan sedekah raja kepada rakyatnya.”

Baca juga  Memahami Arti "Ajining Diri Ana Ing Lathi", Filosofi Jawa tentang Pentingnya Menjaga Ucapan dan Martabat

Karena Keraton Yogyakarta menyelenggarakan tiga kali Garebeg setiap tahun, maka Upacara Numplak Wajik juga dilaksanakan sebanyak tiga kali sebagai tahapan awal sebelum gunungan disusun.

Adapun tiga penyelenggaraan Garebeg dalam satu tahun kalender Jawa meliputi:

  • Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
  • Garebeg Sawal sebagai penanda Hari Raya Idulfitri setelah Ramadan.
  • Garebeg Besar untuk memperingati Hari Raya Iduladha.

Setiap pelaksanaan Garebeg selalu diawali dengan pembuatan gunungan yang dimulai melalui prosesi Numplak Wajik.

Wajik Menjadi Pondasi Penting Gunungan Wadon

Dalam tradisi ini, wajik tidak sekadar disajikan sebagai makanan khas berbahan beras ketan dan gula kelapa. Kudapan tradisional tersebut memiliki fungsi yang sangat penting dalam penyusunan Gunungan Wadon.

Gumpalan wajik digunakan sebagai inti atau pondasi tempat menancapkan berbagai bagian gunungan, termasuk tangkai mustaka yang menjadi puncak gunungan serta perlengkapan lainnya seperti tlapukan dan rengginan.

Melalui susunan tersebut, gunungan kemudian dibentuk hingga menyerupai tumpukan hasil bumi yang megah sebelum diarak pada prosesi Garebeg.

Keberadaan wajik dalam upacara ini menunjukkan bahwa makanan tradisional Jawa bukan hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga memegang peran simbolis dalam tradisi Keraton.

Baca juga  Mengungkap Makna Filosofi Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Warisan Nilai Luhur yang Masih Dijaga Masyarakat Jogja

Makna Gunungan Sebagai Simbol Syukur dan Sedekah Raja

Gunungan yang dihasilkan dari rangkaian Upacara Numplak Wajik memiliki filosofi mendalam. Gunungan melambangkan rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan sekaligus menjadi simbol sedekah Sultan kepada rakyat.

Tradisi pembagian gunungan pada puncak Garebeg menjadi bentuk hubungan erat antara Keraton dan masyarakat. Melalui prosesi tersebut, nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Oleh karena itu, Numplak Wajik bukan sekadar kegiatan persiapan teknis pembuatan gunungan, melainkan bagian penting dari rangkaian tradisi yang sarat makna budaya dan spiritual.

Ragam Ubarampe yang Disiapkan dalam Upacara Numplak Wajik

Dalam resmi Dinas Kebudayaan DIY disebutkan bahwa pelaksanaan Upacara Numplak Wajik dilengkapi berbagai ubarampe atau sesaji yang mencerminkan kekayaan tradisi agraris dan kuliner Nusantara.

Berikut ubarampe yang dipersiapkan dalam prosesi tersebut:

Ubarampe Keterangan
Tujuh macam jenang Jenang baro-baro, abang, putih, palang, dan jenis lainnya
Tujuh macam rujak Berbagai racikan rujak tradisional
Tumpeng Robyong Satu sajian
Tumpeng Gundul Satu sajian
Ambeng Berisi nasi uduk lengkap beserta lauk-pauk
Delapan ancak Berisi nasi punar, nasi putih lengkap lauk, nasi majemuk, nasi golong, nasi hitam, nasi asrep-asrepan, dan aneka nasi tradisional lainnya
Ancak jajan pasar Berisi beragam jajanan tradisional
Abon-abon Berupa suruh ayu dan gedhang ayu
Jlupak Sepasang pelita minyak beserta ajung-ajung
Toya prajan Terdiri atas sekar leton dan daun dadap serep
Empluk Wadah tanah liat kecil berisi beras
Bumbu dapur mentah Bawang merah, bawang putih, kemiri, kluwak, satu butir telur ayam mentah, dan sekeping mata uang logam
Ayam hidup Seekor ayam betina
Baca juga  Deretan Rumah Angker di Jogja, Konon Simpan Misteri Kelam: Ada di Mana Saja?

Keseluruhan perlengkapan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Upacara Numplak Wajik dan mencerminkan kuatnya hubungan antara tradisi Keraton dengan budaya agraris masyarakat Jawa.

Tradisi Keraton yang Tetap Bertahan di Era Modern

Di tengah perkembangan zaman, Upacara Numplak Wajik tetap menjadi salah satu ritual adat yang dipertahankan Keraton Yogyakarta.

Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi media pelestarian nilai gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap kearifan lokal.

Melalui prosesi tersebut, masyarakat dapat menyaksikan bagaimana budaya, kuliner tradisional, dan filosofi kehidupan Jawa berpadu dalam satu rangkaian upacara yang masih dijalankan secara konsisten hingga sekarang.

Kehadirannya menjadi bukti bahwa tradisi Keraton Yogyakarta tetap hidup dan terus diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.***

Berita Terbaru

setu sinau 2
Setu Sinau Malioboro Tarik Antusiasme Wisatawan, Cucu Sultan HB X Turun Langsung Mengajar Aksara Jawa
images (13)
Maestro Lukis Nasirun Meninggal Sakit Apa? Ini Penyebab, Profil, dan Perjalanan Kariernya
167625436_133883862014416_3790561212049279873_n
Panduan Rute Wisata Sungai Mudal Kulon Progo dari Pusat Kota Yogyakarta, Paling Mudah Lewat Mana?
Sejarah Monumen Kecelakaan Kulon Progo
Bukan Pajangan Biasa, Ini Kisah Pilu di Balik Monumen Kecelakaan Kulon Progo
jlfr
Critical Mass JLFR Juli 2026 Diikuti Ribuan Pesepeda dengan Kondusif, Evaluasi Arus dan Titik Kemacetan untuk Gelaran Berikutnya Disiapkan

Sedang Banyak Dibaca

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

Penyebab Nasirun Meninggal

Apa Penyebab Nasirun Meninggal Dunia? Kabar Duka Maestro Seni Jogja Tutup Usia

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

pinho-yjXAtMCPdGs-unsplash

Apakah Nonton Film di Loklok Itu Aman dan Resmi? Simak Penjelasannya Berikut Ini

Sejarah Monumen Kecelakaan Kulon Progo

Bukan Pajangan Biasa, Ini Kisah Pilu di Balik Monumen Kecelakaan Kulon Progo