
TUGU JOGJA – Yogyakarta dikenal bukan hanya karena destinasi wisatanya yang memikat dan warisan budayanya yang kuat, tetapi juga karena berbagai mitos yang terus hidup di tengah masyarakat.
Selain larangan mengenakan pakaian berwarna hijau saat berkunjung ke Pantai Parangtritis yang dikaitkan dengan sosok Nyi Roro Kidul, masih ada sejumlah kepercayaan lain yang hingga kini tetap dikenal dan dipercaya oleh sebagian warga maupun wisatawan.
Cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya Yogyakarta.
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Tugujogja.id, berikut sejumlah mitos populer yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Jogja.
Tradisi Masangin di Alun-Alun Kidul
Masangin menjadi salah satu tradisi paling terkenal di kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta, terutama saat malam hari. Permainan tradisional ini mengajak seseorang berjalan lurus melewati celah di antara dua pohon beringin kembar dengan kondisi mata tertutup.
Meski lintasan yang harus dilewati tidak terlalu jauh, banyak peserta justru keluar jalur sebelum berhasil melintasi kedua pohon tersebut. Kondisi itu kemudian melahirkan sebuah mitos yang masih dipercaya hingga sekarang.
Masyarakat meyakini bahwa orang yang mampu berjalan lurus melewati dua pohon beringin akan memperoleh keberuntungan berupa terkabulnya keinginan.
Keberhasilan tersebut juga dipercaya menjadi tanda bahwa orang tersebut memiliki hati yang bersih serta niat yang tulus.
Sultan Yogyakarta Pantang Melintasi Plengkung Gading
Salah satu mitos yang memiliki nilai sakral berkaitan dengan Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya yang berada di sisi selatan Keraton Yogyakarta.
Dalam tradisi Keraton, Sultan Yogyakarta yang sedang bertahta dipercaya tidak diperbolehkan melewati gerbang tersebut. Larangan ini bukan sekadar kepercayaan, tetapi memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan adat istiadat Keraton.
Plengkung Gading merupakan jalur yang digunakan dalam prosesi pemakaman raja menuju kompleks makam raja-raja di Imogiri. Karena alasan tersebut, Sultan yang masih hidup pantang melintasi gerbang itu.
Mitos Memeluk Tugu Jogja dan Janji Kembali ke Kota Gudeg
Tugu Pal Putih atau Tugu Jogja menjadi ikon paling terkenal di Yogyakarta. Selain menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berfoto, monumen ini juga memiliki mitos yang cukup populer.
Konon, para pendatang yang berhasil memeluk Tugu Jogja dipercaya akan kembali lagi ke Yogyakarta pada masa mendatang. Mitos tersebut telah lama berkembang, terutama di kalangan mahasiswa rantau dan wisatawan.
Saat ini, tindakan memeluk tugu sudah tidak memungkinkan karena adanya pagar pelindung serta padatnya arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Meski begitu, kepercayaan bahwa seseorang akan selalu rindu dan kembali ke Jogja tetap melekat hingga sekarang.
Pasar Bubrah Merapi Diyakini Jadi Tempat Kumpul Makhluk Gaib
Gunung Merapi juga menyimpan banyak cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Salah satu lokasi yang paling sering dikaitkan dengan kisah tersebut adalah Pasar Bubrah.
Area berupa hamparan batu dan pasir sebelum puncak Gunung Merapi ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya makhluk gaib. Dalam cerita yang berkembang, lokasi tersebut digambarkan layaknya pasar manusia yang dipenuhi aktivitas jual beli oleh makhluk astral.
Sejumlah pendaki bahkan mengaku pernah mendengar suara riuh menyerupai keramaian pasar ketika bermalam atau berkemah di kawasan Pasar Bubrah.
Gunung Merapi Dipercaya Menjadi Keraton Makhluk Halus
Selain kisah Pasar Bubrah, Gunung Merapi juga dikenal sebagai pusat spiritual yang dipercaya menjadi tempat berdirinya keraton para makhluk halus.
Mengacu pada catatan kebudayaan di laman resmi Pemerintah Kabupaten Sleman, kepercayaan tersebut berakar dari kisah Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.
Dalam cerita yang berkembang, Panembahan Senopati disebut memperoleh bantuan gaib dari penguasa Merapi ketika menghadapi peperangan melawan Kerajaan Pajang.
Gunung Merapi dikisahkan meletus hebat sehingga menewaskan banyak pasukan Pajang, sementara pasukan lainnya melarikan diri.
Cerita tersebut kemudian menjadi dasar keyakinan masyarakat sekitar bahwa Gunung Merapi tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga bangsa alus atau entitas makhluk tak kasat mata.
Nah, itu tadi penjelasan soal beberapa mitos dan legenda yang masih dipercaya di Jogja.***