Fenomena Bediding: Penyebab Suhu Dingin di Jawa, sampai Kapan?

Bagikan :
Suhu di Pulau Jawa belakangan ini terasa berbeda dari biasanya, berikut penyebabnya, foto ilustrasi (Pexels// Dan Hamill)

TUGUJOGJA – Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat di Pulau Jawa dan sekitarnya mulai merasakan perubahan suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya, terutama saat malam hingga pagi hari.

Suhu pagi yang terasa menusuk tulang, bahkan di dataran rendah kemudian membuat banyak orang merasa seolah berada di kawasan pegunungan. Adapun fenomena seperti ini dikenal sebagai bediding.

Namun, apa sebenarnya penyebab di balik kondisi udara dingin yang terjadi saat ini?

Apakah ini pertanda adanya gangguan cuaca ekstrem? Dan sampai kapan masyarakat akan merasakan suhu dingin seperti ini?

Apa Itu Bediding?

Bediding adalah istilah yang umum digunakan masyarakat di wilayah Jawa untuk menggambarkan kondisi udara yang sangat dingin, terutama saat musim kemarau berlangsung.

Fenomena ini bukanlah hal baru atau mengkhawatirkan, melainkan siklus tahunan yang biasa terjadi di wilayah selatan khatulistiwa.

Bediding kerap terjadi setiap pertengahan tahun, tepatnya saat Indonesia memasuki musim kemarau.

Adapun wilayah yang paling terdampak meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Penjelasan BMKG, Bukan karena Aphelion

Dalam beberapa waktu terakhir, beredar kabar di media sosial yang mengaitkan cuaca dingin ini dengan Aphelion, yaitu kondisi saat Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari.

Baca juga  5 Sunnah yang Dilakukan Sebelum Menjalankan Ibadah Sholat Idul Adha, Salah Satunya Berjalan Kaki Menuju

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar.

Berdasarkan pernyataan resminya, BMKG menyatakan bahwa meskipun Aphelion memang terjadi setiap tahun sekitar awal Juli, posisi ini tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan suhu.

Oleh karena itu, cuaca dingin yang sekarang dirasakan masyarakat lebih disebabkan oleh faktor-faktor meteorologis yang lazim selama musim kemarau.

Tiga Penyebab Utama Suhu Dingin (Bediding) Menurut BMKG

BMKG merinci bahwa ada tiga faktor utama yang menyebabkan suhu udara di sebagian wilayah Indonesia terasa lebih dingin selama musim kemarau, antara lain:

  1. Mulai memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan dominasi angin timuran (Monsoon Australia) yang bersifat kering dan dingin.
  2. Langit cerah yang mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer saat malam hari.
  3. Hujan yang masih terjadi di beberapa wilayah turut menambah rasa dingin karena massa udara dingin dari awan ke permukaan dan menghalangi pemanasan sinar matahari

Sampai Kapan Fenomena Bediding Ini Terjadi?

BMKG memperkirakan bahwa fenomena suhu dingin ini akan berlangsung hingga akhir musim kemarau, yaitu sekitar bulan September 2025.

Baca juga  Realita Ojek Online di Jogja: Antara Rezeki Harian dan Persaingan di Jalanan Kota

Artinya, masyarakat kemungkinan masih akan merasakan suhu sejuk ini hingga dua bulan ke depan, terutama di malam dan pagi hari.

BMKG juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah termakan informasi keliru yang beredar di media sosial, khususnya yang mengaitkan suhu dingin ekstrem dengan fenomena langka atau bencana.

Suhu dingin ini adalah hal yang wajar, dan merupakan bagian dari siklus cuaca tahunan yang terjadi setiap pertengahan tahun.

“Sebenarnya merupakan hal yang wajar dan terjadi setiap musim kemarau, yakni sekitar bulan Juli hingga September,” demikian keterangan BMKG melalui akun Instagram @infobmkg

Tips Hadapi Cuaca Dingin Bediding

Bagi warga masyarakat yang terdampak fenomena bediding, berikut beberapa tips yang bisa diikuti:

  • Gunakan selimut tebal saat tidur, terutama bagi anak-anak dan lansia.
  • Perbanyak mengonsumsi air hangat dan makanan bergizi.
  • Gunakan pakaian hangat saat keluar rumah pada pagi atau malam hari.
  • Pastikan ventilasi rumah tetap baik agar sirkulasi udara lancar.

Diprediksi sampai September 2025

Jadi keismpulannya, fenomena bediding yang melanda wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada bulan Juli hingga September 2025.

Baca juga  Cerita di Balik Lagu Campursari yang Masih Jadi Teman Buruh, Sopir, hingga Mahasiswa Perantauan

Fenomena ini juga merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

BMKG juga sudah merinci penyebab cuaca dingin ini seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Yang jelas, masyarakat hanya perlu bersiap diri serta menyesuaikan aktivitas sehari-harinya dengan perubahan suhu ini.***

link slot

situs toto

link gacor

toto

situs gacor

link slot

slot gacor

situs gacor

link gacor

toto togel

link slot

toto togel

situs gacor

link gacor

toto togel

link gacor

toto togel

link gacor

link gacor

slot gacor

link slot

situs slot

toto togel

situs gacor

judi bola

situs toto

situs togel

link gacor

link slot

link slot

situs gacor

kotabet daftar

situs gacor

toto togel

situs toto

situs toto

situs toto

situs toto

kampungbet login

kampungbet login

kampungbet login

kampungbet login

kampungbet login

situs toto

situs bola

situs toto

kampungbet

situs toto

situs slot

Berita Terbaru

raperda hpr
Terungkap 126 Anjing Dibunuh per Hari, DIY Resmi Larang Perdagangan Hewan Penular Rabies untuk Pangan
kulinarea-1
Kulinarea 2026 Hadir di GIK UGM, Festival Kuliner yang Satukan Pelaku Industri hingga Pecinta Kuliner
images (14)
Panduan Rute ke KVille Kaliurang dari Pusat Kota Yogyakarta, Lewat Mana yang Paling Mudah?
fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

Fenomena Kekeringan Gunungkidul

Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir

IMG_3413

UC Hotel UGM Tawarkan Ruang Meeting Jogja dan Paket Meeting Terjangkau di Lokasi Strategis

Sapi-sapi keluar dari Pasar Hewan Siyonoharjo.

Antraks Menghantui, Pasar Hewan di Gunungkidul Justru Makin Ramai