
TUGUJOGJA – Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat di Pulau Jawa dan sekitarnya mulai merasakan perubahan suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya, terutama saat malam hingga pagi hari.
Suhu pagi yang terasa menusuk tulang, bahkan di dataran rendah kemudian membuat banyak orang merasa seolah berada di kawasan pegunungan. Adapun fenomena seperti ini dikenal sebagai bediding.
Namun, apa sebenarnya penyebab di balik kondisi udara dingin yang terjadi saat ini?
Apakah ini pertanda adanya gangguan cuaca ekstrem? Dan sampai kapan masyarakat akan merasakan suhu dingin seperti ini?
Apa Itu Bediding?
Bediding adalah istilah yang umum digunakan masyarakat di wilayah Jawa untuk menggambarkan kondisi udara yang sangat dingin, terutama saat musim kemarau berlangsung.
Fenomena ini bukanlah hal baru atau mengkhawatirkan, melainkan siklus tahunan yang biasa terjadi di wilayah selatan khatulistiwa.
Bediding kerap terjadi setiap pertengahan tahun, tepatnya saat Indonesia memasuki musim kemarau.
Adapun wilayah yang paling terdampak meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Penjelasan BMKG, Bukan karena Aphelion
Dalam beberapa waktu terakhir, beredar kabar di media sosial yang mengaitkan cuaca dingin ini dengan Aphelion, yaitu kondisi saat Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar.
Berdasarkan pernyataan resminya, BMKG menyatakan bahwa meskipun Aphelion memang terjadi setiap tahun sekitar awal Juli, posisi ini tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan suhu.
Oleh karena itu, cuaca dingin yang sekarang dirasakan masyarakat lebih disebabkan oleh faktor-faktor meteorologis yang lazim selama musim kemarau.
Tiga Penyebab Utama Suhu Dingin (Bediding) Menurut BMKG
BMKG merinci bahwa ada tiga faktor utama yang menyebabkan suhu udara di sebagian wilayah Indonesia terasa lebih dingin selama musim kemarau, antara lain:
- Mulai memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan dominasi angin timuran (Monsoon Australia) yang bersifat kering dan dingin.
- Langit cerah yang mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer saat malam hari.
- Hujan yang masih terjadi di beberapa wilayah turut menambah rasa dingin karena massa udara dingin dari awan ke permukaan dan menghalangi pemanasan sinar matahari
Sampai Kapan Fenomena Bediding Ini Terjadi?
BMKG memperkirakan bahwa fenomena suhu dingin ini akan berlangsung hingga akhir musim kemarau, yaitu sekitar bulan September 2025.
Artinya, masyarakat kemungkinan masih akan merasakan suhu sejuk ini hingga dua bulan ke depan, terutama di malam dan pagi hari.
BMKG juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah termakan informasi keliru yang beredar di media sosial, khususnya yang mengaitkan suhu dingin ekstrem dengan fenomena langka atau bencana.
Suhu dingin ini adalah hal yang wajar, dan merupakan bagian dari siklus cuaca tahunan yang terjadi setiap pertengahan tahun.
“Sebenarnya merupakan hal yang wajar dan terjadi setiap musim kemarau, yakni sekitar bulan Juli hingga September,” demikian keterangan BMKG melalui akun Instagram @infobmkg
Tips Hadapi Cuaca Dingin Bediding
Bagi warga masyarakat yang terdampak fenomena bediding, berikut beberapa tips yang bisa diikuti:
- Gunakan selimut tebal saat tidur, terutama bagi anak-anak dan lansia.
- Perbanyak mengonsumsi air hangat dan makanan bergizi.
- Gunakan pakaian hangat saat keluar rumah pada pagi atau malam hari.
- Pastikan ventilasi rumah tetap baik agar sirkulasi udara lancar.
Diprediksi sampai September 2025
Jadi keismpulannya, fenomena bediding yang melanda wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada bulan Juli hingga September 2025.
Fenomena ini juga merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.
BMKG juga sudah merinci penyebab cuaca dingin ini seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Yang jelas, masyarakat hanya perlu bersiap diri serta menyesuaikan aktivitas sehari-harinya dengan perubahan suhu ini.***