M. Nur Kholis Setiawan: Ini Cara Membedakan Harapan Sejati dan Halu

Bagikan :
Mengulas hikmah ke-81 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, Prof. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa dalam dunia sufistik, sebuah harapan tidak bisa berdiri sendiri tanpa tindakan nyata. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

TUGU JOGJA – Dalam menjalani kehidupan, setiap individu pasti memiliki cita-cita dan impian. Namun, sering kali batas antara harapan yang tulus dengan angan-angan kosong menjadi kabur. Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan, seorang pakar studi Islam dan tasawuf, memberikan ulasan mendalam mengenai perbedaan mendasar antara harapan sejati (ar-raja’) dan lamunan yang kini sering disebut sebagai “halu” (umniyatun).

Mengulas hikmah ke-81 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, Prof. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa dalam dunia sufistik, sebuah harapan tidak bisa berdiri sendiri tanpa tindakan nyata. Beliau menjelaskan bahwa istilah ar-raja’ dalam tradisi tasawuf memiliki landasan yang sangat logis dan aplikatif bagi kehidupan modern saat ini.

Definisi Harapan Sejati: Lebih dari Sekadar Keinginan

Menurut Prof. M. Nur Kholis Setiawan, harapan yang sejati bukanlah sekadar keinginan kuat di dalam hati, melainkan sebuah dorongan yang membuahkan aksi. Ia menegaskan bahwa sufisme sama sekali tidak menegasikan upaya keras atau ikhtiar. Harapan untuk menjadi orang baik, bermanfaat, atau memiliki posisi strategis harus dipandang sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat.

Baca juga  Viral Remaja Asal Dlingo Bantul Curi Belasan Pakaian Dalam, Kasus Diselesaikan Kekeluargaan

“Adapun pengharapan yang Hakiki (harapan yang sejati) adalah sesuatu yang dibarengi dengan aktivitas atau ikhtiar atau usaha, atau sesuatu yang membangkitkan kesungguhan untuk melakukan sesuatu,” jelasnya.

Tanpa adanya kesungguhan tersebut, maka apa yang dianggap sebagai cita-cita sebenarnya hanyalah kepalsuan. Hal ini disejajarkan dengan konsep kesedihan palsu, di mana seseorang merasa sedih tidak bisa berbuat baik namun tidak melakukan upaya perbaikan apa pun.

Mengapa Hanya Berdoa Saja Disebut ‘Halu’?

Fenomena “halu” atau angan-angan kosong muncul ketika seseorang memisahkan antara keinginan dengan realitas usaha. Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa bermimpi besar tanpa langkah konkret hanyalah sebuah fatamorgana mental. Jika seseorang ingin sukses tetapi hanya menghabiskan waktu dengan tidur atau berdoa tanpa bekerja, maka ia terjebak dalam umniyatun.

“Ketika hanya harapan saja tanpa dibarengi dengan upaya yang serius, upaya yang keras untuk mewujudkan harapan itu, yaitu hanya angan-angan, umniyatun kata Al-Hikam, atau lamunan yang orang sekarang nyebutnya halu,” jelasnya.

Logika yang dibangun sangat sederhana namun tajam: jika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, ia pasti akan mengejarnya. Sebaliknya, jika ia takut akan sesuatu, ia akan lari menjauhinya. Ia memberikan contoh konkret dalam dunia profesional, seperti jabatan tinggi di struktur ASN, di mana seseorang yang berharap menduduki posisi tersebut harus membuktikan kinerjanya dan mengikuti proses seleksi atau lelang jabatan secara maksimal.

Baca juga  Jadwal Puasa Ramadan 2026: Perkiraan Versi Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah

Keseimbangan Antara Usaha Maksimal dan Penyerahan Diri

Satu hal penting yang digarisbawahi oleh Prof. M. Nur Kholis Setiawan adalah perlunya keseimbangan antara dimensi ikhtiar (usaha) dan dimensi tawakal (doa/kepasrahan). Dunia sufistik sangat mengenal kedalaman hubungan antara upaya manusia dengan kekuasaan Tuhan. Keseimbangan ini berfungsi sebagai penstabil kondisi psikologis seseorang dalam menghadapi hasil.

“Barang siapa yang mengharapkan sesuatu, dia akan mencarinya. Doa tadi adalah untuk menyeimbangkan; ketika sukses kita tidak takabur, sebaliknya ketika kita gagal kita tidak menjadi orang yang putus asa,” katanya.

Usaha keras adalah bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan diri pada cita-cita, sementara doa menjaga hati agar tetap rendah hati saat berhasil dan tetap tegar saat mengalami kegagalan. Tanpa doa, kesuksesan rentan membuat manusia merasa sombong karena menganggap pencapaian tersebut semata-mata hasil kekuatannya sendiri.

Melalui ulasan hikmah Al-Hikam ini, Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali setiap keinginan yang dimiliki. Apakah keinginan tersebut sudah dibarengi dengan langkah nyata, ataukah kita hanya sedang terbuai dalam lamunan kosong yang kontraproduktif.

Baca juga  Waspada 'Ngelulu' Ilahi: M. Nur Kholis Setiawan Jelaskan Mengapa Istidraj Adalah Alarm Bagi yang Jauh dari Tuhan

Dengan menyelaraskan aktivitas positif sebagai manifestasi dari harapan, seseorang tidak hanya akan mendekat kepada tujuannya, tetapi juga mendapatkan ketenangan batin melalui penyerahan diri yang total kepada Sang Pencipta setelah usaha maksimal dilakukan. Hal inilah yang membedakan seorang pejuang harapan dengan mereka yang hanya terjebak dalam “halu”.

Berita Terbaru

fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus
Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret di Jogja
Fakta Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret, Simbol Perlawanan Indonesia yang Mendunia
Fenomena Kekeringan Gunungkidul
Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

6129583033871878726

Ketika Display Kebudayaan Menambah Meriah Upacara Penurunan Bendera di Istana Negara Yogyakarta