
TUGUJOGJA – Amalan Hari Arafah untuk wanita haid tetap bisa dilakukan meski tidak berpuasa. Simak berbagai ibadah yang dianjurkan seperti dzikir, doa, sedekah, hingga membaca Al-Qur’an saat Hari Arafah.
Datangnya haid saat Hari Arafah kerap membuat sebagian muslimah merasa sedih karena tidak dapat menjalankan puasa sunnah Arafah. Padahal, puasa pada 9 Dzulhijjah dikenal memiliki keutamaan besar, yakni menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Meski demikian, wanita yang sedang haid tetap memiliki kesempatan luas untuk meraih pahala dan keberkahan pada Hari Arafah. Dalam Islam, haid merupakan fitrah yang telah ditetapkan Allah SWT kepada perempuan sehingga kondisi tersebut bukan penghalang untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Hari Arafah sendiri menjadi salah satu hari paling mulia dalam kalender Islam. Hari tersebut jatuh setiap 9 Dzulhijjah dan menjadi momentum utama bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Padang Arafah. Sementara bagi umat Islam di seluruh dunia, Hari Arafah dianjurkan diisi dengan memperbanyak amal saleh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR Bukhari)
Karena itu, muslimah yang sedang haid tetap dianjurkan memperbanyak ibadah yang diperbolehkan dalam syariat, mulai dari dzikir, doa, sedekah, hingga menuntut ilmu agama.
Haid Bukan Penghalang Mendekat kepada Allah
Dalam sejumlah kitab fikih dijelaskan bahwa perempuan haid memang tidak diwajibkan melaksanakan puasa dan shalat. Namun, berbagai bentuk ibadah lain tetap bisa dilakukan.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menerangkan bahwa wanita haid tetap dianjurkan memperbanyak dzikir dan amal kebaikan selama tidak melanggar ketentuan syariat.
Hal serupa dijelaskan dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq yang menegaskan bahwa Allah SWT melihat ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba, bukan sekadar bentuk ibadah lahiriah semata.
Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah menenangkan Aisyah RA yang menangis karena haid saat menjalankan ibadah haji.
“Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah ditetapkan oleh Allah atas putri-putri Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh jemaah haji, hanya saja jangan melakukan tawaf di Ka’bah (sebelum bersuci).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memperbanyak Dzikir dan Shalawat
Salah satu amalan utama yang dianjurkan pada Hari Arafah adalah memperbanyak dzikir. Amalan ini sangat mudah dilakukan kapan saja dan di mana saja, termasuk oleh wanita haid.
Dzikir yang dianjurkan antara lain membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar. Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam memperbanyak kalimat tauhid pada Hari Arafah.
Dzikir utama yang dianjurkan dibaca ialah:
“La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”
Selain dzikir, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW juga menjadi amalan yang dianjurkan karena dapat mendatangkan ketenangan hati dan rahmat Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Hari Arafah Menjadi Waktu Mustajab untuk Berdoa
Hari Arafah juga dikenal sebagai salah satu waktu terbaik untuk memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.” (HR Tirmidzi)
Muslimah yang sedang haid dapat memperbanyak istighfar, memohon keberkahan hidup, kesehatan, rezeki halal, hingga keteguhan iman.
Dalam buku Panduan Doa dan Dzikir Haji dan Umrah karya H. Deden Hafid Usman Lc disebutkan bahwa Hari Arafah menjadi momentum terbaik untuk bermuhasabah dan memperbanyak taubat.
Membaca dan Mendengarkan Al-Qur’an
Mengenai hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita haid memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, sebagian ulama membolehkan membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf secara langsung.
Saat ini banyak muslimah memanfaatkan aplikasi Al-Qur’an digital untuk membaca ayat suci selama haid. Selain itu, mendengarkan lantunan Al-Qur’an juga menjadi amalan yang menenangkan hati sekaligus mendatangkan pahala.
Hari Arafah dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak tadabbur Al-Qur’an dan memahami makna ayat-ayat Allah SWT.
Bersedekah dan Menyediakan Hidangan Berbuka
Sedekah menjadi salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan selama bulan Dzulhijjah dan Hari Arafah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR Muslim)
Sedekah tidak selalu berbentuk uang. Berbagi makanan, membantu sesama, hingga meringankan pekerjaan orang lain juga termasuk amal saleh yang bernilai pahala.
Wanita haid juga dapat memperoleh pahala seperti orang berpuasa dengan menyediakan hidangan berbuka bagi keluarga atau orang lain yang menjalankan puasa Arafah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR At-Tirmidzi)
Menuntut Ilmu dan Muhasabah Diri
Hari Arafah juga dapat diisi dengan memperbanyak ilmu agama melalui kajian Islam, membaca buku keislaman, atau mendengarkan ceramah.
Selain itu, momentum tersebut menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak muhasabah diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan:
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah.”
Karena itu, muslimah yang sedang haid tidak perlu merasa kehilangan kesempatan beribadah. Meski tidak menjalankan puasa Arafah maupun shalat Idul Adha, pintu pahala tetap terbuka luas melalui berbagai amal saleh lainnya.***