
TUGUJOGJA— Deru mesin itu dulu hanya memecah sore di sebuah lapangan parkir sederhana. Hanya aspal seadanya di area Pasar Sapi Siyono Harjo, Kapanewon Playen.
Dari tempat itulah, seorang remaja bernama Veda Ega Pratama memulai kisah yang kini mengguncang dunia balap motor internasional.
Pada Minggu malam (22/3/2026), Veda kembali menorehkan sejarah. Ia melesat dan finis di posisi ketiga pada ajang Moto3 Brasil. Podium itu bukan sekadar capaian balapan. Ia menjadi simbol bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tanah yang sederhana.
Awal Perjalanan Veda Ega Pratama
Veda tidak mengenal lintasan balap mewah sejak awal. Ia belajar menaklukkan tikungan di tempat yang jauh dari kata ideal. Orang tuanya, Darmono, menyaksikan sendiri bagaimana sang anak berlatih di tengah keterbatasan.
Setiap sore, Veda menggeber motor kecilnya di area parkir yang sama dengan anak-anak sepatu roda. Ia harus berbagi ruang dengan atlet push bike, bahkan kendaraan pengangkut sapi yang keluar masuk, terutama saat pasaran Wage. Namun, Veda tidak pernah mengeluh.
Ia justru mengasah insting balap di tengah kekacauan itu. Ia belajar membaca situasi, menghindari hambatan, dan menjaga fokus di kondisi yang jauh dari sempurna.
Panas terik Gunungkidul tidak menghentikannya. Ia tetap melaju, berulang kali, hingga senja benar-benar habis. Di tempat itulah mental juara itu terbentuk.
Nama Veda Ega Pratama mulai mencuri perhatian saat ia turun di berbagai kejuaraan nasional. Ia tampil berbeda. Tubuh kurus, wajah sederhana, tetapi keberaniannya di lintasan membuat banyak orang terdiam.
Ia mengalahkan pebalap dari kota besar dengan fasilitas lengkap. Ia mematahkan asumsi bahwa bakat harus lahir dari kemewahan.
Komunitas lokal dan pelatih terus mendorongnya. Orang tuanya bahkan rela berkorban secara ekonomi demi memastikan Veda tetap bisa berlaga.
Mereka tidak sekadar mendukung, tetapi juga mempertaruhkan segalanya untuk mimpi sang anak. Veda tidak menyia-nyiakan itu.
Menaklukkan Eropa: Red Bull Rookies Cup
Tahun 2024 menjadi titik balik besar. Veda mencetak sejarah sebagai pebalap Indonesia pertama yang meraih podium utama di ajang Red Bull Rookies Cup. Namun, ia tidak berhenti di sana.
Pada 2025, ia kembali ke Mugello, Italia, sirkuit legendaris yang menjadi mimpi banyak pebalap dunia. Di sana, ia menunjukkan kelasnya. Kemudian di kompetisi terakhir di Brazsil dia kembali unjuk gigim
Bendera start dikibarkan. Mesin meraung. Veda melesat. Ia menyalip lawan dengan agresif, menjaga racing line dengan presisi, dan mempertahankan posisi dengan ketenangan luar biasa.
Ia menutup balapan sebagai juara 3 dan menorehkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang raih podium. Dunia mulai mengenalnya. Komentator menyebutnya sebagai anak ajaib dari Asia Tenggara.
Prestasi gemilang itu membuka pintu besar. Veda menandatangani kontrak dengan pabrikan raksasa Jepang, Honda. Ia naik kelas ke Moto3, bahkan di usia yang sebenarnya belum memenuhi syarat secara umum.
Namun prestasinya berbicara lebih keras daripada angka usia dan dia mendapat lampu hijau. Di seri pertamanya, ia langsung finis di posisi kelima.
Sebuah debut yang mengejutkan. Lalu di seri kedua di Brasil, ia melangkah lebih jauh, merebut podium ketiga. Ia tidak sekadar ikut balapan, tapi bersaing dan menang.
Gunungkidul Bangga
Kabar keberhasilan itu langsung menyebar. Media sosial dipenuhi ucapan bangga. Warga Gunungkidul menggelar nonton bareng. Doa bersama menggema di berbagai sudut desa.
Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, menyampaikan rasa bangganya. Namun, kebanggaan itu bukan hanya milik satu daerah. Ini adalah kebanggaan Indonesia.
“Veda telah membawa nama Gunungkidul ke peta dunia,” ujarnya.
Kisah Veda Ega Pratama bukan hanya tentang kecepatan. Ia berbicara tentang ketekunan, tentang pengorbanan, dan tentang keberanian untuk bermimpi di tengah keterbatasan.
Ia membuktikan bahwa lintasan tidak selalu harus sempurna untuk melahirkan juara. Ia menunjukkan bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis. Dari parkiran pasar sapi di Gunungkidul, ia melaju hingga podium dunia. Perjalanan itu belum selesai. (ef linangkung)