
TUGUJOGJA– Deru ombak di Pantai Trisik, Kapanewon Galur, Kulon Progo, kini tak lagi menenangkan. Dalam beberapa bulan terakhir abrasi yang melanda wilayah pesisir itu berubah menjadi ancaman nyata.
Laut yang dulu berjarak puluhan meter kini menjulur liar, melumat daratan sedikit demi sedikit. Sejumlah bangunan pun tak kuasa bertahan.
Dampak Abrasi
Tiga warung dan satu rumah warga rusak parah. Bahkan, satu di antaranya nyaris rata dengan tanah setelah gelombang besar datang bertubi-tubi.
Pemandangan yang tersisa hanyalah tiang-tiang kayu yang mencuat miring, menjadi saksi bisu kedahsyatan abrasi.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Kulon Progo, Aris Widiatmoko, mengungkapkan bahwa abrasi kali ini merupakan yang terparah sepanjang tahun.
Ia dan timnya harus berjibaku mengevakuasi barang-barang berharga milik warga yang rumahnya terancam ambruk.
“Satu rumah rusak berat. Ada juga warung yang sudah ambruk, menyisakan beberapa tiang saja,” ujar Aris, Jumat (7/11/2025).
Aris menegaskan, rumah yang rusak berat kini kosong untuk sementara. Kondisinya terlalu berbahaya. Dinding retak, pondasi terkikis air laut, dan jaraknya dengan bibir pantai kini tinggal hitungan meter.
“Kami sudah bantu evakuasi barang-barang penting. Demi keselamatan, rumah itu untuk sementara tidak boleh ditempati,” jelasnya.
Tak hanya rumah, warung milik warga yang berdiri di sekitar lokasi pun tak luput dari terjangan ombak. Bangunan non permanen itu kini sudah tidak bisa digunakan untuk berjualan.
“Warung sudah tidak bisa dipakai berjualan. Bangunannya dari batako dan kayu, jadi mudah roboh saat ombak besar datang,” imbuhnya.
Abrasi Pantai Trisik
Abrasi di Pantai Trisik bukan kali ini saja terjadi. Namun, intensitas dan jarak kerusakan yang semakin mendekat membuat warga semakin cemas.
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, garis pantai di wilayah itu mundur drastis. Dari sebelumnya masih berjarak lebih dari 100 meter, kini bibir pantai hanya tersisa sekitar 50 meter dari permukiman warga.
Kawasan yang dulu menjadi lokasi penangkaran penyu dan joglo edukasi kini telah hilang ditelan laut. Bekasnya hanya menyisakan pasir basah dan reruntuhan beton.
“Dulu masih ada joglo edukasi penyu, tapi sekarang sudah habis. Abrasi terus merembet ke utara hingga mengenai warung-warung dan rumah warga,” terang Aris.
Ia menambahkan, potensi kerusakan lebih besar bisa terjadi sewaktu-waktu jika gelombang tinggi kembali menerjang pesisir. Ombak besar yang datang pada malam hari menjadi ancaman tersendiri karena sulit diprediksi.
“Kalau ombaknya tinggi, bisa menghantam bangunan lagi. Gelombang tinggi bisa memperparah kerusakan. Tapi pagi tadi ombak mulai landai,” katanya.
Situasi di Pantai Trisik kini membuat warga setempat hidup dalam kecemasan. Tiap malam, mereka waswas mendengar suara ombak yang semakin dekat. Sejumlah keluarga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat di wilayah lebih aman.
Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan penanganan darurat abrasi sebelum kerusakan makin meluas.
Pemasangan tanggul pemecah ombak (breakwater) dan penanaman vegetasi pantai seperti cemara udang penting untuk menahan laju pengikisan daratan.
Pantai Trisik adalah destinasi wisata edukasi penyu dan sentra ekonomi pesisir. Jika abrasi tak segera dikendalikan, bukan hanya bangunan warga yang lenyap.
Namun, potensi wisata dan ekonomi masyarakat nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari laut juga bisa ikut hilang.
Abrasi yang terus mengganas ini menjadi peringatan keras bahwa pesisir selatan Kulon Progo sedang berjuang menghadapi perubahan alam. (ef linangkung)