
TUGUJOGJA – Aktivitas Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan peningkatan pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Di tengah cuaca puncak yang mulai diguyur hujan, gunung api paling aktif di Indonesia ini meluncurkan awan panas guguran sebanyak dua kali hanya dalam selang waktu sekitar sepuluh menit.
Luncuran terjauh tercatat mencapai dua kilometer dan bergerak ke sektor Barat Daya, tepatnya menuju aliran Kali Krasak.
Kejadian ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kondisi cuaca basah yang berpotensi memicu bahaya lanjutan berupa lahar hujan. Data resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengonfirmasi bahwa rangkaian aktivitas tersebut merupakan bagian dari dinamika suplai magma yang masih berlangsung di tubuh Merapi.
Kronologi Awan Panas Guguran Merapi
Menurut laporan pengamatan BPPTKG periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, awan panas pertama tercatat pada pukul 11.21 WIB. Pada momen ini, guguran meluncur sejauh kurang lebih 1.500 meter ke arah hulu Kali Krasak. Arah angin yang bertiup ke Timur membuat sebaran material tetap terkonsentrasi di sektor Barat Daya gunung.
Sepuluh menit kemudian, tepat pukul 11.31 WIB, Merapi kembali melepaskan awan panas dengan volume yang lebih besar. Luncuran kedua ini bahkan mencapai jarak sekitar 2.000 meter, masih menuju jalur Kali Krasak.
Dalam laporan resminya, penyusun laporan BPPTKG, Tri Mujiyanta, menyebutkan bahwa dua kejadian awan panas guguran tersebut terekam dengan amplitudo antara 19 hingga 28 milimeter dan durasi maksimum mencapai 130 detik.
Aktivitas Vulkanik Lain yang Tercatat
Selain awan panas guguran, instrumen pemantauan juga menangkap berbagai sinyal aktivitas internal gunung. Sepanjang periode pengamatan pagi hingga siang hari, terjadi 27 kali gempa guguran yang menunjukkan masih aktifnya pergerakan material di kubah lava Merapi.
Tak hanya itu, BPPTKG juga melaporkan tiga kali guguran lava pijar. Aliran lava tersebut meluncur hingga sekitar dua kilometer ke beberapa jalur sungai utama, yakni Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Data ini memperkuat indikasi bahwa suplai magma dari dalam masih terus mendorong material ke permukaan, sehingga potensi awan panas susulan tetap terbuka.
Hujan di Puncak dan Ancaman Lahar
Kondisi cuaca pada hari itu tidak bisa diabaikan. Wilayah puncak Merapi dilaporkan tertutup awan dan mengalami hujan dengan intensitas curah mencapai sekitar 10 milimeter per hari. Situasi ini meningkatkan risiko terjadinya aliran lahar hujan, terutama di sungai-sungai yang berhulu langsung dari puncak gunung.
BPPTKG menegaskan agar masyarakat tetap waspada terhadap kombinasi bahaya awan panas guguran dan lahar hujan. Ketika hujan turun di area puncak, material vulkanik yang telah mengendap dapat dengan mudah terbawa air dan mengalir deras ke wilayah hilir, mengancam permukiman dan infrastruktur di sepanjang bantaran sungai.
Status Gunung Merapi Saat Ini
Hingga Sabtu, 27 Desember 2025, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini telah berlaku sejak 5 November 2020 dan belum mengalami perubahan karena data pemantauan menunjukkan aktivitas magma di dalam gunung masih berlangsung.
BPPTKG menjelaskan bahwa suplai magma yang terus terjadi membuat potensi terjadinya awan panas guguran tetap tinggi. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk tidak lengah dan selalu mengikuti informasi resmi dari lembaga pemantauan.
Zona Bahaya yang Harus Dihindari
Untuk meminimalkan risiko, BPPTKG telah menetapkan sejumlah wilayah sebagai daerah potensi bahaya yang tidak boleh dimasuki masyarakat. Berikut rinciannya:
-
Sektor Selatan hingga Barat Daya
Meliputi Sungai Boyong hingga jarak 5 kilometer dari puncak, serta Sungai Bedog, Kali Krasak, dan Kali Bebeng hingga radius 7 kilometer. -
Sektor Tenggara
Sungai Woro dibatasi sampai 3 kilometer, sedangkan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak. -
Area Sekitar Puncak
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi.
Selain itu, warga dan wisatawan juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius minimal lima kilometer dari puncak gunung. Imbauan ini berlaku bagi pendaki, pelaku wisata, maupun masyarakat yang beraktivitas di kawasan rawan bencana.
BPPTKG mengingatkan warga di sekitar Merapi untuk selalu menyiapkan masker dan pelindung mata. Perlengkapan ini penting untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik yang bisa mengganggu pernapasan dan penglihatan jika erupsi atau guguran kembali terjadi.
Dengan meningkatnya aktivitas Merapi yang ditandai oleh awan panas guguran ke arah Kali Krasak pada 27 Desember 2025, kewaspadaan menjadi kunci utama. Selama status Siaga masih diberlakukan, disiplin terhadap zona bahaya dan informasi resmi adalah langkah terbaik untuk menjaga keselamatan bersama.
***