
TUGUJOGJA – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menawarkan empat proyek investasi strategis pada 2026 melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Program tersebut dipromosikan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gunungkidul sebagai bagian dari upaya percepatan realisasi investasi daerah.
Kepala DPMPTSP Gunungkidul, M Arif Aldian, menyatakan bahwa proyek yang ditawarkan telah dipersiapkan agar dapat segera direalisasikan oleh investor tanpa hambatan administratif yang kompleks.
“Kami terus mendorong percepatan realisasi investasi dengan menawarkan proyek yang sudah siap ditawarkan atau IPRO. Kami ingin investor melihat bahwa Gunungkidul memiliki potensi nyata dan prospek ekonomi yang menjanjikan,” ujar M Arif Aldian.
Menurutnya, promosi IPRO 2026 tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai investasi, tetapi juga untuk memperkuat daya saing daerah, membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Empat Proyek Prioritas IPRO 2026
1. Pengembangan Agribisnis Cold Storage
Sektor pertanian di Gunungkidul dinilai memiliki potensi yang terus berkembang. Namun, petani masih menghadapi kendala fluktuasi harga dan keterbatasan fasilitas penyimpanan hasil panen.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, DPMPTSP menawarkan proyek pengembangan fasilitas cold storage agribisnis. Fasilitas ini dirancang untuk menjaga kualitas hasil panen, memperpanjang masa simpan produk, serta meningkatkan nilai jual komoditas pertanian.
Pemerintah daerah menilai kehadiran sistem penyimpanan terintegrasi akan membantu mengurangi kerugian pascapanen. Investor juga dapat mengembangkan rantai pasok yang mencakup penyimpanan hingga distribusi, termasuk perluasan pasar ke luar daerah.
Dengan dukungan infrastruktur yang terus berkembang, proyek ini diposisikan sebagai salah satu peluang investasi strategis pada 2026.
2. Rest Area dan Akomodasi Kelok 23
Peningkatan arus wisatawan ke sejumlah destinasi di Gunungkidul mendorong kebutuhan fasilitas penunjang sektor pariwisata. Pemerintah daerah menawarkan proyek Rest Area dan Akomodasi Kelok 23 yang berada di jalur strategis dengan panorama alam.
Proyek tersebut direncanakan menghadirkan fasilitas istirahat, pusat kuliner, serta akomodasi bagi wisatawan. Keberadaan rest area modern diharapkan meningkatkan kenyamanan perjalanan sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan.
M Arif Aldian menyebut proyek ini berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Pelaku UMKM dapat memasarkan produk lokal, sektor transportasi mendapatkan peningkatan permintaan, dan tenaga kerja lokal memperoleh kesempatan kerja baru,” ujarnya.
Pemerintah daerah menilai sektor jasa dan pariwisata masih memiliki ruang pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun.
3. Industri Konsentrat Pakan Ternak
Sektor peternakan di Gunungkidul, khususnya sapi dan kambing, menunjukkan potensi pengembangan. Namun, ketersediaan pakan berkualitas masih menjadi tantangan utama bagi peternak.
Melalui proyek industri konsentrat pakan ternak, pemerintah mendorong pembangunan fasilitas produksi pakan yang efisien dan berstandar. Fasilitas tersebut diharapkan mampu menyediakan pasokan pakan berkualitas secara berkelanjutan.
Langkah ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah serta meningkatkan produktivitas ternak. Dengan dukungan bahan baku lokal dan kebutuhan pasar yang relatif stabil, sektor ini dinilai memiliki prospek jangka panjang.
4. Pengembangan Industri Garmen
Selain sektor agribisnis dan peternakan, Pemkab Gunungkidul membuka peluang investasi di sektor manufaktur melalui industri garmen. Ketersediaan tenaga kerja lokal menjadi salah satu faktor pendukung pengembangan sektor ini.
Industri garmen dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjangkau pasar nasional maupun ekspor. Pemerintah daerah menyatakan akan mendukung melalui pelatihan tenaga kerja serta kemudahan perizinan.
Pengembangan sektor manufaktur ini juga ditujukan untuk memperluas struktur ekonomi daerah agar tidak bergantung pada satu sektor tertentu.
Komitmen Iklim Investasi
Melalui promosi IPRO 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menegaskan komitmennya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan transparan. DPMPTSP disebut terus menyederhanakan proses perizinan serta memberikan pendampingan kepada investor.
Pemerintah daerah juga memastikan kepastian hukum dan kemudahan layanan dalam proses realisasi proyek.
“Kami ingin Gunungkidul tumbuh bersama investor. Kami menyiapkan regulasi yang ramah investasi dan memastikan setiap proyek berjalan sesuai rencana,” tegas M Arif Aldian.