
TUGUJOGJA – Suasana Dusun Pejaten, Kalurahan Giriwungu, Kapanewon Panggang, Gunungkidul, mendadak geger pada Senin dini hari. Warga yang terlelap tiba-tiba dikejutkan suara gedoran keras dan teriakan dari rombongan aparat kepolisian.
Mereka datang membawa misi besar: menangkap Anggun, sopir Bank Jateng yang kabur dengan uang Rp10 miliar.
Sarwanto, kakak pemilik rumah yang ditempati pelaku, masih mengingat jelas detik-detik penggerebekan itu. Ia bercerita bahwa aparat kepolisian datang dengan rombongan sekitar pukul 03.00 dini hari.
Tanpa banyak basa-basi, polisi langsung mengetuk keras pintu rumah hingga suasana kampung mendadak riuh.
“Rame sekali. Polisi langsung gedor pintu, lalu mencari pelaku. Dia sempat berusaha kabur lewat jendela belakang, tapi sudah terkepung,” ungkap Sarwanto dengan wajah serius, Senin (8/9/2025) malam.
Warga sekitar hanya bisa menonton dari kejauhan sambil bersuara keras. Beberapa berteriak penuh emosi, meski tidak jelas siapa yang berteriak lebih keras, apakah dari pihak pelaku atau polisi. Namun yang pasti, ketegangan menyelimuti malam itu.
Sarwanto mengaku sempat mendengar kabar bahwa pelaku akhirnya digelandang polisi dalam keadaan tangan diborgol dan mata dilakban.
Rumah Persembunyian dan Modus Pelarian Rp10 Miliar
Sarwanto menuturkan rumah yang dipakai Anggun dan rekan-rekannya sejatinya milik adiknya yang merantau di Kalimantan Timur. Rumah itu baru akan dijual seharga Rp140 juta. Namun sebelum transaksi selesai, rumah sudah lebih dulu ditempati empat orang asing.
“Mereka bilangnya mau menempati rumah itu sejak Kamis sore. Ada dua laki-laki dan dua perempuan, salah satunya masih muda, satunya agak tua. Pelaku menyebut namanya Pak Dwi dan Pak Budi,” jelas Sarwanto.
Ia menambahkan, pelaku juga sempat mencoba mengambil hati warga. “Pelaku memberi uang Rp100 ribu untuk arisan warga. Tapi ya cuma itu, selebihnya tertutup sekali. Mereka jarang berinteraksi,” katanya.
Di rumah tersebut, polisi menemukan sejumlah barang seperti dua hingga tiga unit motor, empat kipas angin, empat kasur, lemari, hingga perabot rumah tangga. Yang paling mencurigakan, warga melihat ada dua karung besar yang diduga berisi uang hasil pelarian Anggun.
Dukuh setempat pun mengaku terkejut karena wilayahnya tiba-tiba menjadi sorotan nasional. Menurutnya, keluarga yang menempati rumah itu baru sekitar tiga hari tinggal di Pejaten.
“Baru beberapa hari tinggal di sini, eh tiba-tiba ada kasus besar. Kami sama sekali tidak menerima laporan ada warga luar yang mau tinggal. Bahkan rencana jual beli rumah baru sebatas pembicaraan, belum ada laporan resmi,” ujar sang Dukuh.
Drama besar ini bermula pada Senin, 1 September 2025. Anggun mendapat tugas menjemput uang hampir Rp10 miliar dari Bank Jateng Cabang Solo. Dalam mobil pengangkut uang itu hanya ada tiga orang: seorang teller, Anggun sebagai sopir, dan seorang polisi pengawal.
Kesempatan muncul ketika teller masuk ke bank untuk mengambil tambahan Rp1 miliar. Saat itu, polisi pengawal meninggalkan mobil karena pergi ke toilet. Di celah singkat itulah Anggun melancarkan aksinya.
Ia pura-pura memindahkan mobil agar tidak menghalangi parkir, tetapi mobil justru melaju keluar halaman bank sekitar pukul 12.20 WIB.
CCTV bank merekam jelas detik-detik pengkhianatan itu. Mobil berisi uang miliaran rupiah meluncur pergi tanpa menunggu teller maupun polisi. Sejak saat itu, Anggun resmi menjadi buronan.
Setelah perburuan panjang selama sepekan, polisi akhirnya menemukan jejak Anggun di Gunungkidul. Senin dini hari, drama pelarian Rp10 miliar berakhir di Dusun Pejaten. Anggun ditangkap tanpa perlawanan berarti, meski sempat mencoba kabur lewat jendela.
Kini, Anggun harus mempertanggungjawabkan aksinya. Warga Pejaten masih terheran-heran karena kampung mereka yang biasanya tenang mendadak jadi pusat perhatian nasional akibat drama uang miliaran rupiah yang kabur bersama sopir bank.