
TUGUJOGJA – Kabupaten Gunungkidul mencatat capaian signifikan pada sektor pertanian setelah produksi gabah kering giling (GKG) tahun 2025 resmi melampaui target tahunan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, total produksi mencapai 297.674 ton GKG, lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebesar 291.000 ton.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menyampaikan bahwa jumlah tersebut merupakan akumulasi produksi sepanjang tahun 2025. “Total produksi mendekati 300.000 ton GKG, atau tepatnya 297.674 ton,” ujarnya pada Rabu (10/12/2025).
Ia menilai capaian ini menunjukkan ketangguhan petani dalam menghadapi dinamika cuaca serta kemampuan mengoptimalkan musim tanam.
Peningkatan produksi disebut didorong oleh pola tanam yang lebih tertata dan pemanfaatan varietas unggul. Penyuluh pertanian bekerja lebih intensif melakukan pendampingan, sementara akses pupuk subsidi dinilai lebih mudah.
“Petani lebih berani menanam karena pupuk subsidi lebih mudah diakses dan harganya turun. Ini berpengaruh besar terhadap peningkatan produktivitas,” katanya.
Raharjo menambahkan bahwa sebagian besar kelompok tani mampu menerapkan manajemen air yang lebih efektif serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang lebih tepat sasaran.
Di beberapa wilayah irigasi teknis, panen bahkan dapat dilakukan dua kali meskipun karakter lahan Gunungkidul didominasi tadah hujan.
Pemerintah Siapkan Strategi Musim Tanam 2026
Menghadapi musim tanam 2026, pemerintah daerah mulai merumuskan strategi baru dengan fokus pada mitigasi iklim. Menurut Raharjo, ketersediaan benih unggul akan diperkuat dan pemetaan potensi risiko kekeringan menjadi perhatian utama.
“Perubahan iklim tetap menjadi tantangan utama. Karena itu kami mendorong petani memanfaatkan informasi iklim dari BMKG sebelum menetapkan pola tanam,” tegasnya.
Ia menilai kesiapan mitigasi iklim akan sangat menentukan stabilitas produksi di tahun mendatang, sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah. Lonjakan produksi gabah 2025 dinilai membuka peluang penguatan cadangan pangan daerah.
“Dengan capaian ini, kami optimistis produksi padi Gunungkidul aman dan tetap mampu mendukung ketahanan pangan daerah,” ujarnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyampaikan apresiasi terhadap kinerja petani dan penyuluh yang memastikan produksi padi melampaui target. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan ketekunan seluruh unsur pertanian di lapangan.
“Capaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan keberlanjutan produksi pangan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor, mulai dari kelompok tani, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), hingga perangkat kapanewon, menjadi salah satu faktor kunci.
“Sinergi inilah yang membuat produktivitas tetap terjaga, bahkan mampu melampaui target,” ujarnya,