Trauma Anak Korban Little Aresha Daycare: Ketakutan Gelap hingga Proses Pemulihan di Yogyakarta

Bagikan :
Ilustrasi Trauma Anak Korban Little Aresha/Foto: Freepik

TUGUJOGJA– Luka psikologis mendalam masih membekas pada anak-anak korban dugaan kekerasan dan penelantaran di Little Aresha Daycare Kota Yogyakarta.

Meski aparat kepolisian telah menutup permanen fasilitas penitipan anak tersebut, dampak traumatis justru terus berkembang dan kini menjadi tantangan besar dalam proses pemulihan para korban, terutama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Polresta Yogyakarta Tutup Permanen Daycare

Polresta Yogyakarta melakukan penggerebekan terhadap Little Aresha Daycare pada 24 April 2026. Aparat kemudian menyegel dan menutup permanen tempat tersebut setelah muncul dugaan kuat adanya kekerasan dan penelantaran terhadap anak-anak.

Setelah penutupan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta segera melakukan langkah relokasi dengan memindahkan sejumlah anak korban ke Yayasan Pelangi Anak Negeri untuk mendapatkan pendampingan lanjutan.

Namun, pemindahan tersebut tidak serta merta menghapus dampak psikologis yang telah terbentuk selama masa kejadian di daycare tersebut.

Pembina Yayasan Pelangi Anak Negeri, Sri Utami Purwaningsih, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima tujuh anak korban dari dinas terkait. Dari jumlah tersebut, empat anak tercatat sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang membutuhkan penanganan lebih intensif.

Baca juga  Daftar Daycare Jogja dengan CCTV Mana Saja? Simak Berikut Rekomendasinya

Sri Utami menggambarkan kondisi anak-anak tersebut dengan penuh keprihatinan. Ia menilai pengalaman yang mereka alami telah meninggalkan luka batin yang sangat dalam.

“Saya miris dan rasanya ingin menangis. Begitu banyak cerita duka dari para orang tua yang disampaikan kepada kami. Secara manusiawi dan sebagai pendidik, kami sangat prihatin dengan kejadian ini,” ujarnya pada Rabu (29/4/2026).

Trauma Anak Korban Little Aresha

Dalam proses pendampingan, Yayasan Pelangi Anak Negeri menemukan indikasi trauma yang sangat kuat pada para korban. Salah satu kejadian paling memilukan terjadi ketika tiga anak korban menolak masuk ke dalam gedung yayasan.

Sri Utami menjelaskan bahwa anak-anak tersebut menunjukkan reaksi ketakutan ekstrem ketika melihat ruangan yang sedikit redup. Mereka tampak panik dan menolak melangkah masuk karena mengasosiasikan kondisi tersebut dengan pengalaman buruk sebelumnya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari anak dan orang tua, dugaan sementara menyebutkan bahwa anak-anak tersebut pernah ditempatkan di ruang gelap sebagai bentuk hukuman atau penelantaran saat berada di Little Aresha Daycare.

Baca juga  Guguran Lava Pijar Gunung Merapi Terjadi Puluhan Kali Sejak Sabtu hingga Minggu Dinihari

“Ada anak yang sampai sekarang belum berani masuk ke dalam karena pengalamannya di sana itu ruang gelap. Tadi baru mau dibawa ke kamar mandi saja langsung bilang takut gelap. Traumatiknya sangat amat tertanam,” jelas Sri Utami.

Yayasan Pelangi Anak Negeri kini berupaya melakukan pendekatan psikologis secara bertahap. Para pendamping mencoba membangun rasa aman terlebih dahulu sebelum memasuki tahap terapi lanjutan.

Namun, kondisi trauma yang sudah mengakar membuat proses pemulihan berjalan tidak mudah. Anak-anak korban menunjukkan berbagai reaksi, mulai dari ketakutan, penolakan, hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Pendamping menilai bahwa setiap stimulus kecil seperti ruangan redup atau perubahan suasana dapat memicu kembali ingatan traumatis yang mereka alami sebelumnya.

Para orang tua korban terus mendampingi anak-anak mereka dalam proses pemulihan. Mereka juga menyampaikan berbagai pengalaman pahit yang sebelumnya dialami anak-anak selama berada di daycare tersebut kepada pihak yayasan.

Kondisi ini memperkuat upaya pendamping untuk memberikan pendekatan yang lebih personal, terutama bagi anak-anak ABK yang membutuhkan perhatian khusus.

Baca juga  Misteri Pemilik Daycare Little Aresha Yogyakarta Belum Terkuak, Dugaan Keterlibatan Tokoh Berpengaruh Mencuat

Meski jalan pemulihan masih panjang, pihak yayasan tetap berupaya membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak korban sedikit demi sedikit. (ef linangkung)

situs toto

situs slot

slot gacor

situs hk pools

kawijitu

situs hk pools

situs togel

situs hk pools

kawijitu

kawijitu

slot gacor

slot gacor

slot gacor

situs hk pools

kawijitu

kawijitu

situs slot

kawijitu

situs toto

kawijitu

situs hk pools

kawijitu

slot gacor

situs togel

kawijitu

situs hk

situs resmi

situs toto

kawijitu

togel online

kawijitu

situs togel

kawijitu

rtp slot

kawijitu

Berita Terbaru

pexels-defrinomaasy-31679224 (2)
Cara Cek PIP 2026 yang Belum Cair Lewat HP, Ini Penyebab Dana Belum Masuk Rekening
christian-wiediger-GWkioAj5aB4-unsplash
Bot Telegram EDABU BPJS BOT Resmi atau Penipuan? BPJS Kesehatan Buka Suara Soal Isu Kebocoran Data
6307631852319086698
KAI Daop 6 Tutup Perlintasan Tak Terjaga di Sentolo, Sudah 10 Titik Ditutup Sepanjang 2026
Screenshot_2026-08-04-09-19-28-849_com.google.android.apps
Pantai Wediombo Kembali Jadi Habitat Penyu Lekang, Puluhan Tukik Dilepas ke Laut
tugu-diy
Inflasi DIY Naik 2,54 Persen pada Juli 2026, Emas Perhiasan hingga Beras Dongkrak Biaya Hidup

Sedang Banyak Dibaca

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

haedar nashir

Ini Harapan Haedar Nashir untuk Penerus Paus Fransiskus