
TUGUJOGJA – Sebuah unggahan viral di platform Threads memicu perbincangan luas terkait kesehatan mental dan lingkungan pendidikan.
Akun bernama @gh05tx0 mengaku sebagai alumni SMA Negeri 2 Bantul dan menceritakan pengalaman yang disebutnya sebagai masa paling sulit selama bersekolah.
Dalam utas yang mulai ramai sejak 16 Juni 2026 itu, pemilik akun mengaku mengalami tekanan psikologis berat setelah dituduh melakukan tindak kejahatan oleh seorang guru.
Tuduhan tersebut, menurut pengakuannya, membuat dirinya dijauhi teman-teman hingga mengalami gangguan kesehatan mental setelah lulus sekolah.
Unggahan itu dengan cepat menyebar di berbagai media sosial. Ribuan pengguna memberikan tanda suka, komentar, hingga membagikan ulang cerita tersebut.
Banyak warganet menyampaikan dukungan dan empati, sementara sebagian lainnya meminta seluruh pihak menunggu klarifikasi resmi sebelum mengambil kesimpulan.
Pengakuan yang Mengundang Simpati Publik
Dalam utasnya, pemilik akun menggambarkan perubahan besar yang dialaminya setelah dugaan tuduhan tersebut menyebar di lingkungan sekolah.
Ia mengaku kehilangan lingkaran pertemanan dan merasa terasing selama menjalani masa pendidikan.
Bahkan dalam salah satu bagian unggahan, akun tersebut mengaku sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup akibat tekanan mental yang dirasakan.
Narasi tersebut memicu diskusi lebih luas mengenai pentingnya kesehatan mental di lingkungan sekolah, termasuk peran guru, teman sebaya, dan sistem pendampingan siswa.
Namun hingga saat ini, seluruh informasi tersebut masih berasal dari unggahan media sosial dan belum dapat diverifikasi secara independen.
SMAN 2 Bantul Pertanyakan Validitas Akun
Menanggapi ramainya perbincangan publik, pihak SMAN 2 Bantul akhirnya memberikan penjelasan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Bantul, Suwondo, mengatakan sekolah masih melakukan penelusuran terkait identitas pemilik akun yang mengunggah cerita tersebut.
Menurutnya, sekolah belum dapat memastikan apakah akun tersebut benar milik alumni SMAN 2 Bantul atau bukan.
“Kita di sini adalah sekolah ramah anak, jadi persepsi saja. Saya pikir tidak benar. Di situ akunnya akun tidak ada namanya, bodong,” ujarnya.
Saat ini, tim sekolah masih melakukan klarifikasi dan pengumpulan informasi terkait unggahan yang viral tersebut.
“Masih dalam tahap klarifikasi,” katanya.
Suwondo menegaskan identitas pengunggah menjadi hal penting sebelum sekolah dapat melakukan penelusuran lebih jauh terhadap kronologi maupun pihak yang disebut dalam unggahan.
Sekolah Persilakan Menyampaikan Keluhan Secara Langsung
Pihak sekolah menyatakan terbuka apabila pemilik akun memang merupakan alumni yang ingin menyampaikan keluhan atau pengalaman yang pernah dialami.
Menurut Suwondo, komunikasi secara langsung akan membantu proses pencarian fakta sekaligus membuka ruang penyelesaian apabila memang terdapat persoalan yang belum terselesaikan.
“Karena secara hubungan bukan guru dan siswa lagi,” ujarnya.
Ia juga menanggapi ajakan dalam unggahan yang meminta masyarakat tidak mendaftar ke SMAN 2 Bantul.
Menurutnya, masyarakat dapat menilai rekam jejak sekolah berdasarkan fakta dan pengalaman yang ada.
“Kita klarifikasi di medsos, takutnya jadi abu-abu semua,” tambahnya.
Sekolah Klaim Miliki Layanan Pendampingan Mental
Di tengah polemik yang berkembang, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMAN 2 Bantul, Husna Nisrina, menjelaskan bahwa sekolah selama ini menyediakan berbagai layanan pendampingan psikologis bagi siswa.
Menurut Husna, pihak sekolah masih melakukan tabayun untuk memastikan identitas pemilik akun yang viral tersebut.
“Kami masih tabayun entah itu betul alumni atau mungkin orang lain yang mungkin pernah cerita atau apa,” jelasnya.
Ia mengakui persoalan kesehatan mental menjadi isu yang semakin sering ditemui di lingkungan pendidikan.
Karena itu, sekolah menyediakan layanan konseling dan pendampingan bagi siswa yang mengalami berbagai persoalan psikologis maupun sosial.
Gandeng Puspaga dan Sediakan Curhat Online
Husna menjelaskan bahwa ketika suatu kasus membutuhkan penanganan lebih lanjut, sekolah akan berkoordinasi dengan pihak profesional.
SMAN 2 Bantul diketahui bekerja sama dengan layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Bantul dan DIY untuk membantu penanganan kasus tertentu.
Selain layanan tatap muka, sekolah juga memiliki fasilitas konsultasi daring bernama Curon atau Curhat Online.
Melalui layanan tersebut, siswa dapat menghubungi guru BK kapan saja ketika membutuhkan pendampingan.
“Namanya curon atau curhat online, jadi anak juga 24 jam bisa bimbingan,” katanya.
Menurut Husna, sejumlah alumni juga masih memanfaatkan layanan tersebut untuk berkonsultasi mengenai pendidikan maupun persoalan pribadi setelah lulus.
Menunggu Fakta di Tengah Gelombang Opini
Kasus ini berkembang dari sebuah unggahan media sosial menjadi diskusi publik yang lebih luas tentang kesehatan mental, dugaan perundungan, serta hubungan antara siswa dan lingkungan pendidikan.
Di satu sisi, cerita yang dibagikan akun @gh05tx0 memunculkan empati besar dari masyarakat karena menyangkut pengalaman psikologis yang berat.
Di sisi lain, pihak sekolah menegaskan bahwa seluruh tuduhan yang beredar masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.