
TUGUJOGJA- Gunungkidul kembali menggelar perhelatan akbar yang meneguhkan denyut budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul resmi membuka Festival Pedalangan Wayang Kulit dan Wayang Golek Anak dan Remaja 2025.
Ajang ini menghadirkan panggung istimewa bagi pelajar usia 6–18 tahun yang ingin mengasah bakat sekaligus meneguhkan identitas budaya leluhur. Gelaran tahunan ini tidak sekadar lomba, melainkan sebuah ruang aktualisasi diri yang sarat makna.
Jadwal pelaksanaan ditetapkan pada Oktober mendatang, sementara batas akhir pendaftaran jatuh pada 19 September 2025. Para peserta pun bergerak cepat agar tidak kehilangan kesempatan emas untuk tampil di panggung yang penuh prestise ini.
Kuota Festival Wayang Anak dan Remaja di Gunungkidul
Kasi Analis Warisan Budaya, Hadi, menegaskan panitia hanya membuka kuota terbatas untuk setiap kategori. Untuk wayang kulit, 18 kapanewon akan menurunkan perwakilan terbaik mereka. Masing-masing mengirimkan satu dalang anak dan satu dalang remaja. Dengan begitu, sebanyak 36 dalang muda akan unjuk kebolehan di panggung utama.
Sementara itu, untuk kategori wayang golek, hanya tersedia kuota 9 pasang. Satu pasangan terdiri dari seorang dalang anak dan seorang dalang remaja. Menariknya, peserta wayang golek tidak mewakili kapanewon atau komunitas tertentu, melainkan mendaftar secara individu.
“Kuotanya sangat terbatas, jadi siapa cepat dia dapat,” tegas Hadi.
Hadi menjelaskan, kategori anak mencakup usia 6–13 tahun, sedangkan kategori remaja mencakup usia 14–18 tahun. Ia menambahkan, panitia menyediakan tim pengiring musik gamelan (wiyaga) secara langsung melalui Dinas Kebudayaan agar semua peserta dapat tampil maksimal.
Aturan Tegas
Panitia menetapkan aturan tegas demi menjaga kualitas festival. Peserta yang sudah mendaftar di kategori wayang golek tidak bisa mengikuti wayang kulit. Selain itu, juara 1 tahun lalu dilarang tampil di kategori yang sama, kecuali mereka mencoba peruntungan di kategori berbeda.
“Dengan aturan ini, kami ingin membuka jalan bagi bibit baru sekaligus menjaga regenerasi dalang muda,” jelas Hadi.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara, memandang festival ini sebagai tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya. Ia menekankan bahwa panggung ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pengakuan bagi generasi muda yang haus akan aktualisasi diri.
“Selama ini banyak bibit unggul dalang muda yang sebenarnya ada, tapi mereka tidak mendapat panggung. Festival ini hadir sebagai ruang kreasi dan aktualisasi mereka,” ungkap Agus.
Agus menambahkan, setiap tahun selalu lahir talenta-talenta baru yang luar biasa. Namun, tanpa panggung seperti festival ini, potensi mereka kerap terpendam dan tak pernah terekspos publik. Oleh karena itu, ia menegaskan pemerintah berkomitmen menjadikan festival pedalangan sebagai agenda budaya tahunan yang strategis. (ef linangkung)