
TUGUJOGJA – Jogja International Kite Festival 2025 kembali menegaskan kejayaan budaya Nusantara. Festival layang-layang berskala internasional ini akan digelar pada 19-27 Juli 2025, menghadirkan penerbang layang-layang dari delapan negara dan seluruh penjuru Indonesia.
Ketua Panitia Jogja International Kite Festival 2025, Anang Saryanto, menegaskan pihaknya akan menghidupkan Pantai Parangkusumo Bantul dengan aneka layang-layang berukuran raksasa hingga kreasi 3 dimensi dan train.
Anang mengatakan pihaknya menyiapkan rangkaian acara sejak 19 Juli demi menambah lama tinggal wisatawan di DIY.
“Kami mengadakan road to Jogja International Kite Festival. Pada 19 Juli kami akan menggelar eksibisi di Rest Area Grogol, Paliyan, Gunungkidul. Kami juga mengadakan festival anak-anak agar terjadi regenerasi layang-layang,” tegas Anang.
Layang-Layang, Warisan Nusantara yang Terlupakan
Anang menekankan banyak masyarakat Indonesia justru menganggap layang-layang berasal dari Tiongkok. Padahal, para arkeolog menemukan jejak layang-layang di Sulawesi Tengah yang diperkirakan dibuat pada 4000 Sebelum Masehi.
Temuan itu menegaskan layang-layang Nusantara lahir jauh sebelum Tiongkok mengenalnya pada 2.500 SM.
“Kami ingin UNESCO mengakui layang-layang sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia,” ujar Anang.
Dinas Pariwisata DIY melalui Kepala Seksi Atraksi, Antarikso Trisno Bawono, menegaskan Jogja International Kite Festival menjadi momentum menggiatkan pariwisata DIY. Ia mengatakan Parangkusumo menjadi simbol budaya dan pariwisata dalam satu tempat.
“Kami ingin wisatawan senang. Layang-layang itu hiburan, tapi juga melestarikan budaya. Ini juga diplomasi budaya dengan negara lain,” tegas Antarikso.
Rangkaian Kegiatan Jogja International Kite Festival 2025
Pada 20 Juli, panitia mengadakan penanaman pohon di Gedangsari, Gunungkidul. Masing-masing delegasi akan menanam pohon sebagai wujud pelestarian alam.
Tanggal 21 Juli, seluruh delegasi akan mengikuti tur ke sentra Pande Besi di Kajar, Karangtengah, untuk menyaksikan kearifan lokal para empu besi.
Tanggal 22 Juli, panitia akan mengadakan city tour di Malioboro. Selain itu, panitia akan memberi edukasi cara bermain layang-layang di tempat aman.
Anang menegaskan pihaknya melarang masyarakat bermain layang-layang di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) karena berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Ketua Umum Talkama (Paguyuban Layang-Layang DIY), RM Herdjuno Sukotjoadi, menegaskan puncak acara akan digelar pada 26-27 Juli di Pantai Parangkusumo. Pihaknya menyiapkan atraksi night flying pada malam hari, lalu kompetisi kategori 3 dimensi dan train pada 27 Juli.
Herdjuno mengungkap Talkama berdiri pada 2012. Awalnya, pemain layang-layang hanya bermain di jalanan hingga pada 2019-2020 mereka mendapat tempat khusus di Pantai Pandansari. Namun, Herdjuno menilai tempat terbaik untuk festival internasional tetap di Parangkusumo dan Parangtritis.
“Angin masuk langsung dari laut karena ada tebing. Itu membuat layang-layang bisa terbang tinggi dan stabil,” jelasnya.
Herdjuno mengatakan pihaknya mengundang penerbang layang-layang dari 21 negara. Namun, tahun ini, hanya delapan negara yang memastikan hadir, di antaranya Amerika Serikat, Slovakia, Jerman, Korea Selatan, dan Malaysia.
“Kami tidak putus asa meskipun sponsor tahun ini tidak berkembang. Kegiatan kami justru berkembang. Strategi kami sejak 2015 adalah menaikkan posisi layang-layang dari sekadar permainan menjadi olahraga dan diplomasi budaya. Kami masuk ke FASI, lalu dibina Lanud. Sekarang dunia melihat layang-layang Indonesia,” tegas Herdjuno.
Jogja International Kite Festival 2025 tidak sekadar menebar ribuan warna di langit pantai selatan. Festival ini menerbangkan harga diri, warisan budaya, dan diplomasi Nusantara ke mata dunia. (ef linangkung)