
TUGUJOGJA— Suasana Embung Giwangan berubah menjadi medan percobaan sains yang menggetarkan ketika 425 pelajar menyalurkan kreativitas dan pengetahuan mereka melalui roket air pada Sabtu siang.
UPT Pengelolaan Taman Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyelenggarakan Kontes Roket Air ke-14 sebagai ajang belajar praktis yang mengombinasikan teori sekolah dengan praktik sederhana namun menantang.
Kontes Roket Air Yogyakarta 2025
Panitia membuka acara sejak pagi, lalu peserta dari DIY, Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Lampung mengejar titik peluncuran dengan penuh semangat. Peserta tampak sibuk menyetel tekanan udara, menyesuaikan sirip, dan mematangkan strategi jarak serta kestabilan meluncur.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyatakan bahwa kontes ini lebih dari sekadar lomba. Pihaknya menjadikan kegiatan ini media pembelajaran ilmiah yang dipraktikkan dengan cara positif dan kreatif.
Ia menambahkan bahwa Taman Pintar Yogyakarta bekerja sama dengan Taman Budaya untuk menerjemahkan pelajaran sains ke dalam eksperimen yang menyenangkan.
“Perkembangan dunia sains bergerak cepat. Melalui kontes seperti ini, pelajar mengimplementasikan ilmu yang mereka pelajari di sekolah secara sederhana namun aplikatif,”ujarnya.
Panitia menargetkan 25 roket terbaik yang meluncur stabil dan tepat pada jarak 60 meter dalam dua kali percobaan, serta memilih 10 terbaik untuk mendapat apresiasi khusus.
Panitia mencatat 425 peserta berusia 12–18 tahun dari jenjang SMP dan SMA sederajat. Tema lomba tahun ini bertajuk “Partisipasi Aktif Pelajar Mendukung Kemajuan Teknologi Kedirgantaraan Indonesia”, tema yang panitia pilih untuk membangun kesadaran bahwa teknologi kedirgantaraan dimulai dari eksperimen sederhana di sekolah-sekolah.
Format Lomba
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, hadir dan menyaksikan langsung jalannya lomba. Ia menyambut kedatangan pelajar dari berbagai daerah dengan bangga. Kontes Roket Air yang sudah memasuki gelaran ke-14 ini menjadi ruang penting bagi pengembangan sains.
“Lomba menciptakan iklim kompetitif yang sportif dan menumbuhkan kemampuan ilmiah dalam mencipta karya,” ujar Wawan.
Ia berharap kegiatan ini menjadi pondasi bagi lahirnya generasi berkualitas yang kelak berkontribusi pada kemajuan teknologi nasional.
Panitia menerapkan format dua kali percobaan untuk setiap tim. Juri menilai berdasarkan kriteria kestabilan terbang, akurasi mencapai titik 60 meter, dan konsistensi desain.
Dari 425 peserta, panitia akan memilih 25 roket terbaik untuk mewakili Taman Pintar Yogyakarta pada Kompetisi Roket Air Nasional pada 25 Oktober 2025. Panitia juga menyiapkan hadiah dan apresiasi bagi 10 terbaik sebagai bentuk penghargaan atas inovasi dan ketekunan.
Irshad Agung Pamungkas, peserta dari SMPN 19 Semarang, menceritakan tekadnya. Dia sudah tiga kali mewakili sekolah di kontes ini. Dari 11 perwakilan sekolah, dia berupaya membawa tim masuk 10 besar.
“Dua tahun lalu kami hanya masuk nominasi; sekarang kami menargetkan juara,” kata Irshad.
Sementara itu, Labibah Fadhilla Zahra dari SMAN 2 Bantul ikut mendaftar secara mandiri. Dia juga dua kali ikut saat SMP, sekarang ikut lagi secara individu.
“Pengalaman merakit roket air itu seru. Kita belajar mengulik sudut sirip, tekanan pompa, dan gaya aerodinamis agar roket meluncur jauh dan stabil,” cerita Labibah.
Para guru dan pendamping menyaksikan langsung bagaimana kontes menumbuhkan soft skill seperti kerja tim, berpikir kritis, serta ketekunan. Kepala sekolah dan pembina ekstrakurikuler menyatakan bahwa kegiatan semacam ini membantu menjembatani materi pelajaran dan aplikasinya di dunia nyata. (ef linangkung)