
TUGUJOGJA – Yogyakarta kembali menjadi panggung pertemuan seni dan literasi. Pameran The Story of Giri Sela Kandha resmi dibuka pada Minggu (10/8) di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No. 7, Alun-Alun Utara.
Acara ini sekaligus menandai peluncuran buku biografi Hutan Baru di Gunung Batu: Sugiharto’s Journey Converting Karst Rock into Green Forest, yang mengisahkan perjuangan mengubah lahan karst tandus menjadi hutan hijau produktif.
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, hadir memberi dukungan penuh terhadap upaya pelestarian lingkungan melalui karya seni. Hadir pula Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, yang mewakili Bupati Gunungkidul.
Ia menegaskan bahwa pameran ini tidak hanya memamerkan keindahan karya seni, tetapi juga menyuarakan pesan mendalam tentang pentingnya mempertahankan keseimbangan alam.
“Gunungkidul bukan hanya kaya akan lanskap alam yang menakjubkan, tetapi juga menyimpan kekuatan luar biasa dari semangat warganya. Melalui seni, literasi, dan aksi nyata, kita bisa menciptakan perubahan yang berkelanjutan,” ujar Joko Parwoto.
Seni sebagai Jembatan Pelestarian Alam
Pameran yang berlangsung hingga 20 Agustus 2025 ini menghadirkan karya dari 35 perupa terkemuka. Kurator Alex Luthfie R. menata lukisan, patung, fotografi, hingga instalasi seni yang merefleksikan kisah nyata pelestarian Giri Sela Kandha, sebuah kawasan karst di Gunungkidul yang berhasil dihidupkan kembali.
Buku biografi karya Deni Junaedi menjadi bagian tak terpisahkan dari pameran ini.
Di dalamnya, ia menulis kisah hidup Sugiharto Soeleman atau akrab disapa Pak Gi, pendiri Jogja Gallery, yang selama puluhan tahun menantang kerasnya batu karst untuk menciptakan hutan hijau produktif. Kisah ini memuat dedikasi, inovasi, dan ketekunan luar biasa demi keberlanjutan ekosistem.
Alex Luthfie mengungkapkan bahwa setiap karya yang dipamerkan lahir dari jejak perjuangan Pak Gi.
Ia menanam pohon di tanah tandus, memulihkan habitat flora dan fauna, mengalirkan kembali air bersih ke perbukitan, serta membangun harmoni antara manusia dan alam.
Misi Pameran: Menggerakkan Publik untuk Bertindak
Pameran The Story of Giri Sela Kandha tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi seni, tetapi juga sebagai ajakan terbuka untuk bergerak. Panitia menggarisbawahi empat misi utama:
- Mengapresiasi perjuangan Sugiharto Soeleman dalam melestarikan lingkungan dengan pendekatan seni dan literasi.
- Menginspirasi masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam konservasi alam, khususnya di kawasan karst Gunungkidul.
- Mendorong kolaborasi lintas sektor antara seniman, akademisi, pemerintah, dan masyarakat.
- Memperkaya khazanah seni rupa Yogyakarta dengan karya inovatif yang sarat pesan sosial.
Daftar nama perupa yang ikut serta menguatkan gaung pameran ini seperti Andi Firda Arifa, Nasirun, Dedi Sufriadi, Dyan Anggraini, Gusmen Heriadi, dan puluhan seniman lainnya menghadirkan karya eksperimental lintas medium.
Setiap goresan kuas, setiap lekuk patung, dan setiap bingkai foto memuat pesan yang sama: jaga bumi sebelum terlambat.