
TUGUJOGJA- Pemerintah Kota Yogyakarta menghidupkan semangat kreatif generasi muda melalui Lomba Mural Pelajar yang digelar oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).
Ajang ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga menjadi rangkaian utama dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-269 Kota Yogyakarta.
Kepala Bidang SMP Disdikpora Kota Yogyakarta, Hasyim, menegaskan bahwa pemerintah menghadirkan lomba mural sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas pelajar.
Mural: Media Edukasi dan Pengingat Publik
Ia menyebut mural sebagai media yang tepat untuk menyalurkan gagasan, imajinasi, sekaligus pesan moral secara visual.
“Lomba ini adalah wujud apresiasi terhadap generasi muda agar dapat menuangkan ide-ide kreatif yang merepresentasikan semangat dan nilai-nilai Kota Yogyakarta.
Selain itu, lomba mural juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian pelajar terhadap kebersihan lingkungan serta pelestarian budaya lokal,” ujar Hasyim di Jalan Wardhani, Jumat (3/10/2025).
Hasyim menjelaskan bahwa mural tidak hanya berfungsi memperindah ruang kota, tetapi juga efektif menyampaikan pesan edukatif bagi masyarakat luas. Tema lomba kali ini adalah Yogyakarta Istimewa, Bersih, dan Berbudaya.
Ia menegaskan bahwa setiap karya mural akan dipermanenkan di ruang publik. Dengan begitu, karya para pelajar akan terus hidup dan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan serta melestarikan budaya lokal.
“Karya mural nantinya akan dipermanenkan untuk menghias kawasan yang telah ditentukan. Harapannya, selain memperindah kota, juga menjadi pengingat bagi semua orang tentang pentingnya menjaga kebersihan dan melestarikan budaya,” tambahnya.
Pelaksanaan Lomba Mural Pelajar
Pemerintah Kota Yogyakarta menempatkan pelaksanaan lomba mural di tujuh titik lokasi. Para pelajar berkreasi di tembok sepanjang Jalan Wardhani, Jalan Kahar Muzakir, Jalan Ngeksigondo, Jalan Suryopranoto, Jalan Letjen Suprapto, Jalan KH Ahmad Dahlan, serta Jalan Taman Siswa.
Kategori lomba terbagi dua, yakni tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Untuk kategori SMP/MTs, lomba diikuti 55 tim dari 38 sekolah. Kemudian, untuk kategori SMA/SMK/MA, 6 tim dari 5 sekolah mengikuti lomba.
Koordinator juri, Purwanto, memaparkan kriteria penilaian lomba mural. Juri menilai kesesuaian karya dengan tema, komposisi warna, kualitas garis, hingga nilai estetika. Namun, peserta juga wajib menjaga lingkungan sekitar lokasi lomba.
“Estetika bukan hanya pada gambar, tetapi juga pada lingkungan. Anak-anak harus menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak membiarkan cat tercecer di luar media gambar,” tegas Purwanto.
Pemenang lomba terdiri dari lima kategori, yaitu Juara 1, Juara 2, Juara 3, Harapan 1, dan Harapan 2. Penyerahan piala akan berlangsung pada 6 Oktober 2025.
Salah satu sekolah yang ikut serta adalah SMP Negeri 13 Yogyakarta. Guru seni budaya sekaligus pendamping siswa, Sekar Galih Mawangi, menyampaikan bahwa pihaknya menurunkan lima siswa untuk berkompetisi.
“Kami mengusung konsep ‘Bersih Kaliku’ dengan menampilkan ikon khas Jogja seperti Tugu dan Malioboro. Tujuannya agar anak-anak lebih mengenal identitas kota sekaligus sadar akan pentingnya menjaga lingkungan,” jelas Sekar.
Melalui lomba mural ini, Pemerintah Kota Yogyakarta berhasil membuka ruang kreatif sekaligus mendekatkan pelajar pada isu penting kota, seperti kebersihan dan pelestarian budaya. Pesan moral dalam gambar pasti mampu menggugah masyarakat agar lebih peduli terhadap ruang publik.
Dengan menggabungkan seni, edukasi, dan kepedulian lingkungan, lomba mural pelajar tidak hanya mempercantik wajah Kota Yogyakarta, tetapi juga mempertegas semangat kota yang istimewa, bersih, dan berbudaya. (ef linangkung)