
TUGUJOGJA – Jadwal Selasa Wagen berikutnya di Malioboro Yogyakarta akan digelar pada 29 September dan 2 November 2026. Simak lokasi, agenda, dan daya tariknya.
Kawasan Malioboro kembali akan menjadi pusat pertunjukan seni dan budaya melalui agenda Selasa Wagen 2026. Setelah penyelenggaraan pada Selasa (21/7/2026) berlangsung meriah, masyarakat masih memiliki kesempatan menikmati acara serupa yang dijadwalkan kembali pada 29 September 2026 dan 2 November 2026.
Kegiatan rutin yang digelar di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang selalu dinantikan warga maupun wisatawan. Saat malam tiba, ruas Malioboro hingga Jalan Pangurakan berubah menjadi ruang publik yang dipenuhi pertunjukan seni, musik, tari, sastra, hingga berbagai aktivitas kreatif.
Mengusung tema “Gumregah Nyawiji Ing Karya”, Selasa Wagen menghadirkan semangat kebersamaan melalui karya seni yang melibatkan komunitas, sanggar, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum.
Digelar di Berbagai Titik Kawasan Sumbu Filosofi
Berbeda dengan festival yang terpusat di satu lokasi, Selasa Wagen menghadirkan pertunjukan di sejumlah titik kawasan Sumbu Filosofi.
Pengunjung dapat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk menikmati ragam aktivitas budaya yang berlangsung secara bersamaan.
Beberapa lokasi penyelenggaraan meliputi:
- Gerbang Barat Kepatihan
- Titik Nol Kilometer Yogyakarta
- Gedung Agung
- Gedung DPRD DIY
- Griya Abhipraya
- Museum Sonobudoyo
- Jalan Pangurakan dan kawasan Malioboro
Konsep tersebut membuat suasana kawasan Malioboro terasa lebih hidup. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan para pelaku seni.
Ragam Pertunjukan Seni Meramaikan Selasa Wagen
Pada penyelenggaraan Juli 2026, panggung di Gerbang Barat Kepatihan dipenuhi berbagai pertunjukan seni tradisional maupun modern.
Sejumlah sanggar tari menampilkan beragam karya, di antaranya:
- Tari Dombanini Banyumasan
- Tari Andhira
- Tari Ani-Ani
- Tari Aswa Maya
- Tari Senyum Indonesia
- Tari Lenggot Siwi
- Tari Dewi Anjani
- Tari Badui
Selain tari, pengunjung juga disuguhi pertunjukan pantomim bertajuk “Si Bro Galau” oleh The Three Musketeers Mimers serta penampilan musik dari De Lusia Band.
Perpaduan seni tradisi dan pertunjukan kontemporer menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat kawasan Kepatihan dipadati pengunjung.
Griya Abhipraya Jadi Ruang Berkumpul Komunitas Kreatif
Suasana berbeda hadir di Griya Abhipraya.
Lokasi ini menjadi wadah bagi komunitas seni dan kreatif untuk menampilkan berbagai aktivitas yang lebih interaktif.
Program yang dihadirkan antara lain:
- gerak meditasi,
- sketsa,
- kirigami,
- pembacaan puisi,
- pertunjukan biola,
- teater,
- musik akustik,
- hingga pertunjukan rock komunitas.
Komunitas pelukis Titik Nol Jogja juga melakukan kegiatan melukis langsung di lokasi sehingga pengunjung dapat menyaksikan proses kreatif para seniman dari dekat.
Pengunjung Bisa Ikut Workshop Kreatif
Selasa Wagen tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat ikut berkarya.
Di kawasan seberang BNI Titik Nol Kilometer, sejumlah komunitas menggelar workshop yang terbuka untuk umum.
Aktivitas yang dapat diikuti antara lain:
| Workshop | Komunitas |
|---|---|
| Gelang kait | JCraft |
| Makrame | Rumah Shiro |
| Gelang manik morse | Motemanika |
| Gantungan kunci flanel | Toko Mebi |
| Gelang tali | Colour Me |
| Membaca buku & bermain clay | TBM Teras Baca Jitakita |
Konsep tersebut membuat pengunjung tidak sekadar datang untuk menonton, tetapi juga memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan kreatif.
Seni, Olahraga, dan Tradisi Bertemu di Ruang Publik
Keramaian juga terlihat di depan Gedung Agung dan Gedung DPRD DIY.
Komunitas Line Dance DIY menggelar pertunjukan bersama masyarakat, sedangkan Asosiasi Dong Yue Taiji Quan Indonesia menghadirkan senam kesehatan yang diikuti berbagai kalangan.
Di Museum Sonobudoyo, pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan wayang kulit melalui workshop tatah sungging, sekaligus menikmati pertunjukan musik yang berlangsung pada malam hari.
Beragam kegiatan tersebut menjadikan Selasa Wagen sebagai ruang pertemuan seni tradisional, komunitas kreatif, olahraga, hingga edukasi budaya dalam satu kawasan.
Menggerakkan Budaya Sekaligus Ekonomi Kawasan Malioboro
Selain menjadi ruang ekspresi seni, Selasa Wagen juga memberikan dampak ekonomi bagi kawasan Malioboro.
Ramainya pengunjung turut meningkatkan aktivitas pedagang kuliner, pelaku UMKM, hingga usaha kecil yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Pelaksanaan acara yang didukung Dana Keistimewaan DIY tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga ruang publik tetap hidup sebagai pusat aktivitas budaya masyarakat.
Jadwal Selasa Wagen Berikutnya 2026
Bagi masyarakat yang belum sempat menghadiri penyelenggaraan sebelumnya, Selasa Wagen masih akan kembali digelar pada:
| Tanggal | Lokasi |
|---|---|
| 29 September 2026 | Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta |
| 2 November 2026 | Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta |
Acara akan kembali melibatkan berbagai sanggar seni, komunitas budaya, pelaku UMKM, serta kelompok kreatif dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketika malam kembali menyelimuti Malioboro dan panggung-panggung seni berdiri di sepanjang kawasan bersejarah tersebut, Selasa Wagen kembali menjadi ruang perjumpaan antara budaya, masyarakat, dan wisatawan dalam satu perayaan yang terus hidup di jantung Kota Yogyakarta.***