14 Tahun Keistimewaan DIY, Sri Sultan HB X: Ukurannya Bukan Program, tetapi Kehidupan Warga

Bagikan :
14 tahun Keistimewaan DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan ukuran keberhasilannya adalah apakah kehidupan warga benar-benar menjadi lebih baik. (Dok Pemda DIY)

TUGU JOGJA – Empat belas tahun pelaksanaan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Keistimewaan bukan banyaknya program pemerintah, melainkan apakah kehidupan masyarakat Yogyakarta benar-benar menjadi lebih baik.

Hal itu disampaikan Sultan dalam sambutan peringatan Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026). Sambutan tersebut dibacakan Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti.

“Apakah kehidupan masyarakat sudah lebih baik, menurut mereka, bukan menurut kita,” tegas Sultan dalam sambutan tersebut.

Pernyataan itu menjadi refleksi penting di tengah perjalanan lebih dari satu dekade pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY.

Menurut Sultan, ketika undang-undang tersebut lahir pada 2012, banyak orang bertanya mengapa Yogyakarta memiliki status istimewa. Namun setelah 14 tahun berlalu, pertanyaan itu seharusnya berubah.

“Bukan lagi semata-mata mengapa Keistimewaan ada, tetapi untuk apa Keistimewaan itu kita gunakan,” ujarnya.

Bagi Sultan, Keistimewaan tidak boleh berhenti sebagai status politik, kewenangan khusus, regulasi, atau sekadar daftar program pemerintah. Nilainya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Apakah warga lebih mudah mengakses pendidikan. Apakah ekonomi rakyat semakin tumbuh. Apakah lingkungan tetap terjaga. Apakah kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Baca juga  JLFR Kembali Melintasi Malioboro Jumat Ini, Begini Skema Lalu Lintas yang Disiapkan

Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, maka Keistimewaan belum sepenuhnya mencapai tujuannya.

Jogja yang Terus Berubah

Sultan mengingatkan bahwa Yogyakarta hari ini berbeda dengan satu dekade lalu. Kota dan kabupaten di DIY semakin urban, investasi terus bertambah, teknologi digital mengubah pola hidup masyarakat, sementara budaya populer datang dari berbagai arah tanpa batas.

Di tengah perubahan tersebut, menurut Sultan, tantangan terbesar bukan sekadar membangun, melainkan menjaga agar Yogyakarta tidak kehilangan jati dirinya.

“Yang menjadi persoalan adalah bagaimana Yogyakarta tetap menjadi dirinya sendiri di tengah perubahan tersebut,” katanya.

Ia menilai identitas budaya tidak hilang secara tiba-tiba. Pengikisan terjadi perlahan ketika nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat tidak lagi dipraktikkan dalam keseharian.

Karena itu, Keistimewaan tidak boleh dimaknai hanya sebagai upaya melestarikan masa lalu.

“Alih-alih menerjemahkan Keistimewaan sebagai pelestarian masa lalu, yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang kita anggap penting tetap dapat hidup, tumbuh, dan menemukan bentuknya dalam konteks zaman yang terus berubah,” ujar Sultan.

Baca juga  Akses Tol Bokoharjo-Gunungkidul Ditargetkan Fungsional Lebaran 2027

Antara Investasi dan Ruang Hidup

Dalam pidatonya, Sultan juga menyinggung persoalan yang semakin sering muncul di DIY, yakni perebutan ruang.

Luas wilayah Yogyakarta yang terbatas harus menampung kebutuhan permukiman, investasi, pendidikan, pariwisata, dan pembangunan infrastruktur yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Pembangunan, kata Sultan, memang diperlukan. Namun pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan, karakter kawasan, dan kualitas hidup masyarakat.

“Dalam konteks ini, Keistimewaan semestinya memberi kita kemampuan untuk menemukan keseimbangan tersebut,” tuturnya.

Pesan itu relevan dengan berbagai isu yang belakangan mengemuka di DIY, mulai dari alih fungsi lahan, kepadatan kawasan perkotaan, hingga kebutuhan menjaga ruang hidup yang nyaman bagi warga.

Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Sultan juga mengingatkan bahwa keberlanjutan Keistimewaan tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah.

Menurutnya, generasi muda yang tidak mengalami langsung proses perjuangan lahirnya UUK DIY perlu terus diajak memahami mengapa Keistimewaan penting dan apa manfaatnya bagi kehidupan mereka.

“Apa manfaat Keistimewaan bagi kehidupan mereka? Mengapa Keistimewaan masih relevan? Dan mengapa ia perlu dipertahankan?” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut Sultan, harus terus dijawab agar Keistimewaan tidak hanya menjadi cerita sejarah, melainkan tetap hidup sebagai gagasan yang relevan bagi masa depan.

Baca juga  Gempa M 3,6 Berpusat di Bantul, Warga Yogyakarta hingga Wonosari Kaget

“Keistimewaan tidak cukup hanya berbicara dalam bahasa masa lalu. Ia juga harus mampu berbicara dalam bahasa masa depan,” tandasnya.

Dari Angka ke Kehidupan Nyata

Dalam kesempatan yang sama, Paniradya Pati Kaistimewan DIY Kurniawan memaparkan berbagai capaian pemanfaatan Dana Keistimewaan.

Selama 2020–2025, program Beasiswa Kartu Cerdas telah menjangkau 85.730 siswa. Platform SiBakul Markethub menaungi 2.626 UMKM dengan lebih dari 225 ribu transaksi. Sebanyak 1.018 rumah tidak layak huni juga telah diperbaiki dalam lima tahun terakhir.

Selain itu, Dana Keistimewaan turut mendukung pembangunan taman budaya, balai budaya kalurahan, hibah gamelan, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat di 392 kalurahan se-DIY.

Namun di balik seluruh angka tersebut, Sultan kembali mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan tetap berada pada pengalaman warga.

Apakah anak-anak lebih mudah bersekolah. Apakah usaha kecil semakin berkembang. Apakah budaya tetap hidup. Apakah masyarakat merasa kehidupannya lebih baik dibanding sebelumnya.

Empat belas tahun Keistimewaan, pada akhirnya, kembali pada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit dijawab: apakah manfaatnya benar-benar sampai kepada warga?

PANDUAN LENGKAP EXPLORE JOGJA

Tempat wisata, kuliner, budaya, transportasi, dan info penting lainnya seputar Yogyakarta.

Berita Terbaru

SaveClip
Blue Butter Jogja Viral karena Punya Kucing Raksasa, Ini 3 Lokasinya
muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash
Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta
Jogja-Coffee-Week-2026
Jogja Coffee Week #6 Digelar 4–6 September 2026, Hadirkan Kompetisi hingga 13 Eksibitor Jepang
images (4)
Panduan Rute ke On The Rock Jogja, Wisata Tebing dengan View Laut Gunungkidul
IMG_20260903_165347_213
Polemik Tabung Oranye di Aksi UGM, Relawan Ungkap Isi Sebenarnya

Pilihan Editor

SaveClip

Blue Butter Jogja Viral karena Punya Kucing Raksasa, Ini 3 Lokasinya

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

Jogja-Coffee-Week-2026

Jogja Coffee Week #6 Digelar 4–6 September 2026, Hadirkan Kompetisi hingga 13 Eksibitor Jepang

images (4)

Panduan Rute ke On The Rock Jogja, Wisata Tebing dengan View Laut Gunungkidul

IMG_20260903_165347_213

Polemik Tabung Oranye di Aksi UGM, Relawan Ungkap Isi Sebenarnya

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

IMG_20260811_052315_072

Vaksinasi Rabies Gratis di Kota Yogyakarta, Ini Jadwal dan Lokasinya

6091245507251475117

Wayang Kayon Ki Lutfi Diteliti sebagai Media Dakwah Kultural Jawa, Libatkan Akademisi hingga Seniman

images (15)

Rute Trans Jogja Terbaru 2026 Lengkap Semua Jalur, Tarif, Cara Bayar, dan Area Layanannya