
TUGUJOGJA – Bagi siapa pun yang pernah singgah di Yogyakarta, tiga tempat makan sederhana selalu melekat dalam ingatan, yakni burjo, angkringan, dan warung kopi murah.
Ketiganya bukan sekadar tempat mengisi perut, tetapi sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial di kota pelajar ini. Dari mahasiswa perantau, pekerja kantoran, hingga warga setempat, semua mengenal dan mencintai keberadaan tiga pilar makanan rakyat ini.
Ketiganya juga kerap disebut sebagai “penyelamat” di tanggal tua. Bagaimana tidak, saat isi dompet menipis, burjo, angkringan, dan warung kopi hadir dengan harga ramah yang tetap membuat perut kenyang. Bahkan banyak yang buka hingga larut malam, sehingga tidak sulit mencari makan di tengah gelapnya Jogja.
Burjo atau Warmindo: Jejak Perantau Sunda di Kota Gudeg
Nama burjo berasal dari singkatan bubur kacang ijo. Namun seiring waktu, menu burjo tidak hanya menyajikan bubur kacang hijau saja. Indomie rebus, nasi telur dadar, hingga gorengan sederhana turut mengisi daftar menu favorit di warung ini.
Di Yogyakarta, warung burjo juga akrab disebut warmindo, kependekan dari warung Indomie. Hampir di setiap sudut kota, kita bisa menemukan tempat ini dengan mudah. Keberadaannya tidak lepas dari perantau asal Kuningan, Jawa Barat, yang sejak puluhan tahun lalu membuka usaha kuliner di berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Jakarta.
Ciri khas yang paling terasa dari burjo adalah logat Sunda para penjualnya. Suasana hangat, harga murah, serta jam buka yang nyaris 24 jam menjadikan warung ini sahabat akrab anak kos. Tidak heran jika banyak mahasiswa menganggap burjo sebagai “dapur kedua” mereka.
Angkringan: Simbol Kehangatan Malam Jogja
Jika burjo identik dengan mahasiswa kos, maka angkringan adalah wajah Yogyakarta itu sendiri. Hampir di setiap ruas jalan, terutama saat malam tiba, mudah ditemukan angkringan dengan gerobak kayu sederhana dan terpal berwarna mencolok sebagai atapnya.
Harga makanan di angkringan sungguh bersahabat. Seporsi nasi kucing, misalnya, bisa didapat mulai dari Rp1.500 hingga Rp2.000. Gorengan pun dibanderol sangat murah, mulai Rp500 saja. Tidak heran jika angkringan selalu menjadi magnet bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
Seperti syair Joko Pinurbo yang terkenal, “Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan,” tempat makan ini bukan hanya soal kuliner, melainkan juga ruang perjumpaan sosial. Di sanalah orang-orang bercengkerama, berbagi cerita, hingga berdiskusi serius di tengah cahaya temaram.
Fakta Unik Angkringan di Jogja
Hampir semua angkringan memiliki gerobak kayu dengan roda di samping. Inilah pusat sajian sekaligus ikon angkringan yang tidak tergantikan.
Kemudian sebuah gulung terpal dipasang untuk melindungi pembeli dari hujan atau angin malam. Warna-warni mencolok seperti merah, hijau, hingga biru menambah kesan merakyat.
Ada lursi kayu panjang tanpa sandaran menjadi tempat duduk utama. Jika penuh, tikar digelar untuk lesehan bersama.
Ciri khas lain adalah ceret berisi air panas atau wedang jahe yang terus dipanaskan di atas tungku arang. Banyak pengunjung sengaja duduk di dekat ceret untuk menghangatkan badan.
Angkringan tradisional biasanya buka mulai sore hingga tengah malam. Namun kini banyak juga yang beroperasi sejak pagi untuk melayani pekerja dan pelajar.
Menu wajib ini berupa nasi porsi kecil dengan lauk sederhana seperti sambal teri, oseng tempe, atau bandeng pedas. Tersedia juga minuman khas yang hangat dan menenangkan, cocok menemani obrolan malam. Variasinya bisa berupa teh jahe atau susu jahe, baik panas maupun dingin.
Remang-remang adalah kekhasan dari angkringan yang merakyat. Dahulu pencahayaan angkringan hanya berasal dari lampu teplok minyak tanah. Kini sebagian sudah menggunakan lampu bohlam, meski tetap dibuat redup agar suasana syahdu tidak hilang.
Warung Kopi Murah: Tempat Berteduh dan Bersosialisasi
Selain burjo dan angkringan, warung kopi murah juga menjadi bagian penting dari keseharian warga Jogja. Bukan kafe modern dengan desain mewah, melainkan warung sederhana beratap tenda atau ruang depan rumah warga.
Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati nasi sayur dengan lauk seadanya sambil menyeruput kopi tubruk. Harga yang sangat terjangkau membuat warung kopi murah menjadi tempat bersandar di kala tanggal tua. Lebih dari itu, warung kopi ini menghadirkan suasana egaliter siapa saja bisa duduk bersama tanpa sekat status sosial.
Tiga Pilar Hidup Sederhana Jogja
Burjo, angkringan, dan warung kopi murah bukan sekadar tempat makan, melainkan simbol kesederhanaan, keramahan, dan kebersamaan khas Jogja.
Ketiganya menghadirkan gambaran sebuah kota yang tenang dan bersahaja, di mana orang-orang bisa duduk bersama, berbincang tanpa sekat, dan menikmati hidup apa adanya.
Tidak berlebihan jika disebut, tiga tempat makan ini adalah pilar kuliner rakyat Jogja penjaga kehangatan malam, penyelamat di tanggal tua, sekaligus wajah sederhana kota yang selalu dirindukan.
Bagi mahasiswa perantau maupun wisatawan, mencicipi kuliner murah meriah ini adalah cara terbaik untuk merasakan denyut kehidupan Jogja yang sesungguhnya: ramah, bersahaja, dan selalu dirindukan.
***