
TUGUJOGJA – Pemerintah Kabupaten Bantul mengambil langkah berani untuk menyelamatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari jerat investasi bodong dan judi online.
Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), Pemkab Bantul resmi meluncurkan program Bantul Cerdas Investasi dan Keuangan (BATIK) di Ruang Mandala Saba Madya.
Peluncuran program ini menandai titik balik penting dalam literasi keuangan ASN. Selama ini, banyak ASN lebih mengenal produk pinjaman dan terjebak dalam budaya konsumtif dibandingkan mengelola dana melalui instrumen investasi yang aman.
Padahal, pasar modal menawarkan manfaat luar biasa—mulai dari sarana menabung jangka panjang hingga meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan finansial pribadi.
ASN Didorong Jadi Investor Cerdas
Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Sri Nuryanti, menegaskan bahwa BATIK tidak hanya sebatas program edukasi. Pemerintah membangun sistem yang mengarahkan ASN agar bertransformasi dari debitur menjadi investor cerdas.
“Melalui Sekolah Pasar Modal (SPM), ASN Bantul akan mendapatkan pemahaman utuh tentang perencanaan keuangan yang sehat serta pilihan investasi yang aman dan produktif,” tegas Sri Nuryanti.
Ia menambahkan, program ini akan membekali ASN dengan kemampuan mengidentifikasi risiko keuangan, mengenali instrumen investasi yang sah, dan menghindari godaan judi online yang kian marak.
Menurutnya, fenomena judi online yang kian meresahkan telah menggerus stabilitas ekonomi keluarga ASN di berbagai daerah. Investasi bodong pun terus mengintai dengan janji manis keuntungan instan. Dalam situasi inilah, BATIK hadir sebagai benteng.
Dengan kurikulum Sekolah Pasar Modal, ASN Bantul tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik investasi sehat. Mereka akan mengenal instrumen seperti saham, obligasi, reksa dana, hingga produk syariah yang aman dan legal.
“BATIK menegaskan bahwa ASN Bantul tidak boleh lagi sekadar menjadi sasaran empuk sindikat keuangan ilegal. Mereka harus berdiri sebagai garda depan, menginspirasi masyarakat untuk lebih melek investasi,” ujarnya.
Sejalan dengan Target Nasional Literasi Keuangan
BATIK tidak berdiri sendiri. Program ini sejalan dengan target nasional peningkatan literasi dan inklusi keuangan.
TPAKD Bantul menargetkan literasi keuangan masyarakat, khususnya ASN, bisa mencapai 69,35% pada 2029, sementara inklusi keuangan ditargetkan tembus 93%.
Sri Nuryanti menjelaskan bahwa setiap kenaikan 1% inklusi keuangan mampu mendorong kenaikan 0,16% Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Fakta ini memperlihatkan betapa eratnya keterkaitan antara kecerdasan finansial dengan percepatan kesejahteraan masyarakat.
Bantul sendiri telah mencatat capaian membanggakan. IPM daerah ini naik dari 81,74% pada 2023 menjadi 82,05% pada 2024.
Pemerintah yakin angka tersebut akan terus meningkat jika ASN mampu menjadi teladan dalam pengelolaan keuangan yang cerdas dan berkelanjutan.
Peluncuran BATIK bukan hanya soal menyelamatkan ASN dari jebakan finansial, tetapi juga menjadikan mereka pionir perubahan.
Pemerintah ingin ASN menjadi contoh nyata bahwa kesejahteraan tidak lahir dari utang, melainkan dari perencanaan matang dan investasi bijak.
“Harapan kami, ASN Bantul tidak hanya cerdas dalam melayani masyarakat, tetapi juga cerdas dalam mengelola keuangan dan berinvestasi. Dengan begitu, mereka bisa mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan,” ujar Sri Nuryanti.
https://frankspizzapalace.com/menu