
TUGUJOGJA– Polemik pemangkasan anggaran Trans Jogja kembali menyeruak. Di balik kabar tersebut, publik mempertanyakan nasib rencana pengembangan rute baru Trans Jogja menuju Wonosari, Gunungkidul.
Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, menegaskan bahwa meski anggaran mengalami pergeseran, rencana perluasan trayek tetap masuk dalam pembahasan. Namun, ia mengakui bahwa prosesnya belum bisa berjalan cepat karena masih berada di tahap kajian awal.
Penambahan Jalur
Subiyantoro menegaskan bahwa penambahan jalur Trans Jogja hingga Wonosari tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Ia menilai banyak aspek yang harus dipertimbangkan, terutama menyangkut keberadaan koperasi angkutan lokal yang selama ini melayani masyarakat Gunungkidul.
“Kalau itu masih baru menjadi kajian, karena banyak yang harus dipertimbangkan juga untuk penambahan jalur Trans Jogja ke Wonosari. Karena itu juga kita harus memberhentikan mungkin semacam koperasi angkutan daerah atau antar kota di sana, biar nanti ada kesepakatan-kesepakatan dengan mereka itu bagaimana,” jelasnya.
Meski belum ada jadwal koordinasi resmi, Subiyantoro mendorong Dinas Perhubungan DIY dan Dishub Gunungkidul segera duduk bersama. Ia menekankan pentingnya forum bersama untuk menyatukan visi dan mencari titik temu antara kepentingan pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat.
“Kami dari dewan hanya mendorong agar itu nanti bisa terwujud. Yang memang itu harus duduk bersama,” ujarnya.
Isu Pemangkasan Anggaran Trans Jogja
Selain rencana rute baru, DPRD DIY juga menyoroti kualitas layanan Trans Jogja yang masih menuai keluhan masyarakat. Subiyantoro mengungkapkan bahwa beberapa armada Trans Jogja masih mengalami kerusakan di bagian tertentu, sehingga mengurangi kenyamanan penumpang.
“Jadi, saran kami tidak hanya perbaikan itu, tetapi juga peningkatan pelayanan. Trans Jogja ini sudah disubsidi, dan untuk subsidi paling besar di APBD kita itu adalah subsidi ke PT AMI, yakni sejumlah Rp 87 miliar. Dengan adanya subsidi ini, diharapkan PT AMI meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar isu pemangkasan anggaran Trans Jogja tidak disalahartikan. Subiyantoro menegaskan bahwa pemerintah hanya melakukan pergeseran anggaran, bukan pemotongan permanen.
“Sekali lagi, tolong diluruskan ya jangan sampai itu kok terus dipangkas. Ini tidak, hanya digeser nanti kita kembali lagi. Dan jangan khawatir, tetap naik,” pungkas Subiyantoro.
Bagi masyarakat Gunungkidul, wacana masuknya Trans Jogja ke Wonosari menjadi harapan besar. Selama ini, warga hanya mengandalkan transportasi antarkota dan angkutan lokal yang jumlahnya semakin terbatas. Jika wacana ini benar-benar terwujud, maka aksesibilitas warga ke Yogyakarta akan semakin mudah dan murah.
Namun, bayang-bayang tarik ulur kepentingan antara angkutan konvensional dan layanan bus modern masih menghantui. Publik kini menanti langkah konkret dari Pemda DIY, DPRD, dan Dishub untuk memastikan rencana ini tidak berhenti sebatas kajian.
Dengan anggaran subsidi yang begitu besar, DPRD DIY mendesak agar Trans Jogja tidak hanya berkembang dari sisi jumlah rute, tetapi juga meningkatkan mutu layanan agar benar-benar menjadi transportasi publik andalan Daerah Istimewa Yogyakarta. (ef linangkung)