
TUGUJOGJA – Insiden pemukulan terhadap driver ojek online Shopee Food memicu kemarahan besar rekan-rekannya. Mereka menuntut keadilan setelah seorang customer memukul driver hanya karena keterlambatan pengantaran selama lima menit.
Ratusan driver Shopee Food langsung mengepung rumah pelaku di kawasan Bantulan, Gamping, Godean, Sleman pada Kamis malam, 3 Juli 2025 sekira pukul 21.30 WIB.
Kronologi Kejadian
Dari kronologi yang beredar malam itu, sang driver tidak sendiri. Ia ditemani pasangannya saat menerima pesanan. Mereka berdua baru saja mengurus keuangan di kampus dan memutuskan narik order sembari pulang ke Ketingan Seturan.
Driver tersebut menerima double order otomatis dari sistem Shopee Food, yakni pesanan Fore Coffee dan Special Sambal.ย Pasangan driver itu merasa kasihan kepada pemesan Fore Coffee.
Mereka tahu Special Sambal biasanya membutuhkan waktu lama dalam proses penyiapan, bahkan bisa mencapai satu jam. Mereka pun menghubungi customer Fore Coffee untuk menginformasikan adanya double order dan menanyakan apakah pesanan tersebut sangat mendesak.
Namun, customer Fore Coffee menanggapi dengan nada ketus melalui telepon dan menuntut agar pesanan tiba tepat waktu tanpa toleransi. Sang driver langsung melajukan motor dengan cepat untuk menjemput pesanan Fore Coffee terlebih dahulu.
Saat tiba di Fore Coffee, pesanan masih dalam proses. Mereka menunggu dengan sabar hingga selesai, lalu melanjutkan perjalanan menuju Special Sambal.
Sesuai dugaan mereka, pesanan Special Sambal juga belum siap saat diambil. Mereka sudah memberitahu pihak resto bahwa customer sudah marah.
Pasangan driver itu juga mengonfirmasi ke customer Fore Coffee agar lain kali menggunakan fitur prioritas jika membutuhkan kecepatan. Customer tidak membalas pesan tersebut.
Pemicu Driver Ojek Online Dipukul
Setelah pesanan Special Sambal selesai, driver langsung mengantarkan pesanan Fore Coffee tanpa kendala. Namun, ketika mereka hendak mengantarkan Special Sambal ke customer di Bantulan, jalanan macet karena ada kirab. Mereka berusaha mencari jalur alternatif.
Mereka juga menghubungi customer dan menjelaskan situasi jalan. Namun, customer hanya membalas dengan kalimat sinis,
โBiar bintang yang berbicara,” kata customer.
Driver sempat merasa tidak nyaman dengan balasan itu. Mereka tiba sekitar lima menit lebih lambat dari estimasi aplikasi. Sang driver pun merekam proses pengantaran sebagai antisipasi. Saat tiba, customer langsung menantang dengan nada tinggi.
โMau dikasih bintang berapa mas?โ teriak customer.
โBintang lima mas, kalau bisa, karena ngaruh ke performa,” jawab Pasangan Driver.
Customer menolak mendengar penjelasan sang driver soal double order otomatis. Pasangan driver itu mencoba membantu menjelaskan sistem Shopee Food kepada customer. Namun, customer semakin emosi dan menyebut dirinya bekerja di pelayaran dengan nada sombong.
โSaya pelayaran. Tahu disiplin ndak?โ kata customer tersebut.
Pasangan driver membalas, โLah, terus kenapa mas kalau pelayaran?โ
Ucapan itu justru menyulut emosi orang-orang di sekitar customer. Tiba-tiba, seorang pria lain yang bukan lawan cekcok utama menyeret dan menarik kerah baju pasangan driver hingga wajah dan tangan mereka terluka akibat cakaran kuku.
Pasangan driver sempat merasa shock dan blank. Mereka tidak mengingat apa saja yang terjadi setelah itu.
Kejadian semakin brutal. Dua orang bapak-bapak menjambak kepala pasangan driver dari kiri dan kanan. Mereka menyeret korban ke sana kemari hingga kacamatanya terlepas.
Pasangan driver berusaha merekam, tapi memori ponselnya penuh. Saat sadar, mereka langsung mencoba siaran langsung Instagram untuk meminta pertolongan.
Warga sekitar akhirnya datang memisahkan. Sebelumnya, keluarga pelaku justru turut memukul dan mengintimidasi korban saat berpura-pura memisahkan. Korban berhasil melarikan diri setelah massa driver Shopee Food datang membantu.
Rekan Driver Mengepung Rumah Pelaku
Ratusan driver Shopee Food langsung mengepung rumah customer pelaku hingga aparat kepolisian mengevakuasi pelaku ke Mapolresta Sleman.
Pelaku akhirnya meminta maaf atas tindakannya. Namun, pasangan driver tetap menuntut proses hukum atas penganiayaan tersebut. Mereka berharap polisi memproses pelaku seadil-adilnya, karena kejadian itu tidak hanya melukai fisik tetapi juga psikis korban.
Insiden ini menimbulkan trauma mendalam bagi pasangan driver. Mereka berharap tidak ada lagi customer yang melakukan kekerasan hanya karena pesanan telat beberapa menit. Mereka menegaskan driver ojek online juga manusia yang berjuang demi sesuap nasi, bukan robot tanpa perasaan. (ef linangkung)