
TUGUJOGJA– Pemerintah Kota Yogyakarta terus menyalakan semangat ekonomi kerakyatan. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP), Pemkot berupaya memperkuat peran koperasi agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Sebanyak 90 peserta dari 45 KKMP se-Kota Yogyakarta mengikuti Bimtek bertema Pengembangan Usaha dan Penerapan PMK 49/2025 serta Permendagri 13/2025 yang digelar Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM (DinperinkopUKM).
Wakil Wali Kota Wawan Harmawan menegaskan bahwa Koperasi Merah Putih bukan sekadar wadah anggota untuk berkumpul, melainkan wadah ekonomi yang mulai menggerakkan unit usaha di tingkat kelurahan.
“Konsep koperasi Merah Putih adalah dari kita, oleh kita, untuk kita. Harapannya, seluruh warga dapat bergabung, berinovasi, dan berkolaborasi melalui program Gandeng Gendong maupun Nglarisi agar koperasi menjadi solusi ekonomi di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Koperasi Kelurahan Merah Putih Perlu Inovasi
Wawan mendorong agar pengurus KKMP terus berinovasi, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga seperti penyediaan sembako, produk makanan lokal, dan jasa komunitas. Ia menilai, koperasi yang hidup dari kebutuhan masyarakat akan tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
“Program Nglarisi juga bisa dimanfaatkan oleh KKMP ini. Kami berharap, akan muncul inovasi-inovasi baru yang berdampak langsung bagi kesejahteraan warga,” tambahnya.
Selain itu, Pemkot juga memberikan kesempatan bagi koperasi untuk mengembangkan produk khas seperti batik Segoro Amarto. Batik ini menjadi identitas lokal Kota Yogyakarta.
Sementara itu, Kepala DinperinkopUKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menjelaskan bahwa kegiatan Bimtek ini tidak hanya memperkuat pemahaman prinsip dasar perkoperasian, tetapi juga menyiapkan koperasi agar lebih tertib secara legalitas.
“Dari 45 koperasi, seluruhnya sudah memiliki badan hukum dan Nomor Induk Berusaha (NIB). Saat ini kami tinggal menunggu proses pendaftaran resmi di Kementerian Koperasi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, dari jumlah tersebut, sebanyak 13 KKMP sudah aktif mengembangkan usaha sesuai potensi masing-masing wilayah, seperti usaha sembako, agen laku pandai, hingga produksi batik.
“Harapan kami, setelah Bimtek ini seluruh koperasi dapat merancang model bisnis berkelanjutan. Pada 28 Oktober 2025, kami menargetkan launching nasional operasionalisasi Koperasi Kelurahan Merah Putih bisa berjalan sukses di Kota Yogyakarta,” tegas Tri Karyadi.
Dukungan dari Lapangan
Dukungan terhadap keberadaan KKMP juga datang dari lapisan bawah. Sekretaris KKMP Kadipaten, Leni Marlina, menyampaikan optimismenya bahwa koperasi akan membawa manfaat besar bagi warga jika ada pendampingan secara konsisten.
“Kami sangat mendukung keberadaan KKMP. Harapannya, pemerintah terus memberikan arahan dan pendampingan agar masyarakat benar-benar paham fungsi dan manfaat koperasi ini,” ungkapnya.
Menurutnya, koperasi dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat solidaritas antarwarga, sekaligus membuka lapangan kerja baru di wilayahnya.
Bimtek ini menjadi momentum penting bagi seluruh KKMP di Kota Yogyakarta untuk memperkuat jejaring usaha lokal. Melalui kolaborasi antarwilayah dan dukungan pemerintah, koperasi akan menjadi pusat ekonomi berbasis komunitas yang mandiri, adaptif, dan inovatif.
Program Nglarisi sendiri menjadi simbol kebangkitan ekonomi warga. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk membeli, memasarkan, dan mengonsumsi produk lokal dari koperasi di wilayah mereka.
Dengan penerapan program ini, Pemkot Yogyakarta berharap rantai ekonomi lokal semakin kokoh, perputaran uang tidak keluar dari wilayah, dan kesejahteraan warga meningkat. (ef linangkung)