
TUGUJOGJA- Pemerintah Kota Yogyakarta terus berupaya menghidupkan ekonomi warga lewat penguatan koperasi. Kali ini, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mendorong Koperasi Kelurahan Merah Putih menjadi agen air minum dalam kemasan Air Jogja Ayo, produk unggulan PDAM Tirtamarta.
Langkah ini tidak hanya bertujuan memperluas pasar BUMD milik Pemkot Yogyakarta, tetapi juga menggerakkan koperasi agar memiliki usaha riil yang menguntungkan dan berkelanjutan.
Agen Air Jogja Ayo
Hasto menegaskan bahwa koperasi tidak boleh diam atau sekadar menjadi wadah administrasi. Koperasi, katanya, harus punya usaha konkret yang bermanfaat bagi anggotanya. Pemkot mendorong Koperasi Merah Putih yang ada bisa menjadi agen Air Jogja.
“Saya ingin koperasi ini hidup dari usaha riil, bukan hanya papan nama,” ujar Hasto penuh semangat.
Menurut Hasto, di Kota Yogyakarta terdapat 45 Koperasi Kelurahan Merah Putih, tapi baru enam koperasi yang sudah aktif memproduksi Batik Segoro Amarto sebagai produk unggulan lokal.
Kini, koperasi lainnya akan diarahkan menjadi agen resmi Air Jogja Ayo, air minum dalam kemasan produksi PDAM Tirtamarta.
Hasto menilai, potensi pemasaran Air Jogja Ayo sangat besar. Ia mengamati, banyak kegiatan kampung dan acara masyarakat di berbagai RW masih menggunakan air minum merek luar daerah.
Hal ini, menurutnya, menjadi peluang emas bagi koperasi untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal kebanggaan warga Yogyakarta.
“Sebetulnya Air Jogja ini kenapa tidak kita pasarkan? Saya masih melihat di acara kampung-kampung airnya belum dengan Air Jogja,” tegasnya.
Ia bahkan meminta dinas terkait aktif menanyakan ke setiap kelurahan dan RW apakah mereka sudah menggunakan Air Jogja atau belum. Jika belum, masyarakat harus diajak beralih.
“Air Jogja ini produk kita sendiri. Kalau bukan kita yang minum dan banggakan, siapa lagi?” tambah Hasto.
Hasto juga membeberkan data menarik. Pada April lalu, omzet Air Jogja Ayo hanya sekitar Rp50 juta per bulan.
Setelah percepatan promosi dan dorongan kolaborasi lintas dinas, omzet meningkat tajam menjadi Rp250 juta per bulan. Ia menargetkan, hingga akhir tahun nanti, omzetnya bisa menembus Rp1 miliar.
“Ini masih awal. Kalau koperasi-koperasi Merah Putih ikut menjadi agen, saya yakin omzetnya bisa melonjak. Nanti di Malioboro, di hotel, di angkringan, semua airnya harus Air Jogja,” tegasnya.
Dinas Koperasi Siapkan Mitra dan Arahkan Potensi Lokal
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menjelaskan bahwa pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih berawal dari musyawarah di tingkat kelurahan.
Pemerintah kemudian mengarahkan setiap koperasi untuk menggali potensi lokal sebagai basis usaha.
Enam koperasi sudah fokus pada produksi batik, tapi peluang usaha lain terbuka lebar. Oleh karena itu, Dinas mengundang berbagai mitra seperti Agen Pos, Agen Gas, PDAM Tirtamarta, penyedia sembako, hingga program Gandeng Gendong untuk bermitra dengan koperasi.
Tujuannya adalah membuka jalur distribusi dan memperluas pasar produk lokal.
“Kita dorong koperasi bermitra jadi sub agen distribusi. Tapi kita tekankan, jangan sampai melemahkan warung-warung di sekitar,” jelas Tri Karyadi.
Tri Karyadi mengakui, dari 45 koperasi yang terbentuk, belum semuanya berjalan optimal. Beberapa masih ragu-ragu melangkah karena proses pembentukannya berlangsung cepat.
Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong koperasi agar berani bergerak sesuai potensi wilayahnya.
“Kita sadar, banyak koperasi masih butuh pendampingan. Tapi kita punya tugas moral untuk memastikan mereka tumbuh jadi penggerak ekonomi rakyat,” tegasnya.
Upaya mendorong Koperasi Merah Putih menjadi agen Air Jogja ‘Ayo’ bukan hanya tentang bisnis air minum. Langkah ini menjadi simbol semangat kemandirian ekonomi lokal, di mana warga diajak bangga dan menggunakan produk buatan daerahnya sendiri. (ef linangkung)