
TUGU JOGJA – Ancaman kekeringan di Kabupaten Sleman diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun 2026. Dampak fenomena El Nino yang diperkuat angin muson Australia membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan berpotensi menunda datangnya musim hujan.
Menghadapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman membuka peluang memperpanjang bahkan meningkatkan status siaga menjadi darurat apabila dampak kekeringan terus meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan pengaruh El Nino masih cukup kuat hingga penghujung tahun sehingga berbagai langkah antisipasi telah disiapkan sejak sekarang.
Puncak Kemarau Bergeser, Musim Hujan Diprediksi Mundur
Menurut Bambang, pola cuaca tahun ini berbeda dibanding kondisi normal. Puncak musim kemarau yang biasanya terjadi pada Agustus diperkirakan bergeser ke September. Tidak hanya itu, awal musim hujan juga berpotensi datang lebih lambat.
“Kemarau yang sebelumnya diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus bergeser ke September. Awal musim hujan juga diprediksi mundur hingga akhir Oktober bahkan awal Desember karena pengaruh El Nino masih kuat,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).
BPBD menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kekurangan air bersih, kebakaran lahan, hingga gangguan aktivitas masyarakat.
BPBD Gelar Apel Siaga Karhutla
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Sleman bersama sejumlah instansi menggelar Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, antara lain:
- TNI dan Polri
- Basarnas
- PMI
- Dinas Pemadam Kebakaran
- Satpol PP
- BMKG
- BBTKG
- Relawan kebencanaan
Apel siaga dilakukan untuk memperkuat koordinasi menghadapi potensi kebakaran lahan maupun permukiman yang biasanya meningkat saat musim kemarau panjang.
Pemkab Siapkan Anggaran untuk 50 Tangki Air Bersih
Selain mengantisipasi kebakaran, Pemkab Sleman juga menyiapkan skenario penanganan kekeringan.
Saat ini telah dialokasikan anggaran sekitar Rp25 juta yang setara dengan distribusi sekitar 50 tangki air bersih bagi warga terdampak.
Penyaluran bantuan akan dilakukan secara situasional sesuai kebutuhan di lapangan.
BPBD mencatat distribusi air bersih sudah dilakukan di beberapa wilayah akibat gangguan pasokan maupun menurunnya debit sumber air.
Beberapa bantuan yang telah disalurkan meliputi:
April 2026: empat tangki air ke Girikerto dan Purwobinangun, Kapanewon Turi.
Juli 2026: lima tangki atau sekitar 25 ribu liter air ke Sumbersari, Kapanewon Moyudan.
Agustus 2026: delapan tangki atau sekitar 40 ribu liter air ke Wukirsari, Kapanewon Turi.
Bantuan di Girikerto dan Purwobinangun diberikan setelah jaringan Pamsimas terganggu akibat material Merapi. Sementara di Moyudan, distribusi dilakukan karena kerusakan pompa Pamsimas.
Adapun di Wukirsari, bantuan diperlukan setelah debit Mata Air Krasak turun hingga hanya tersisa sekitar sepertiga dari kapasitas normal.
Menurut Bambang, kondisi di Wukirsari mulai membaik dalam beberapa hari terakhir. Pengaturan penggunaan air secara bergiliran dan upaya penghematan warga membuat cadangan air di bak penampungan masih mencukupi.
Pertanian Sleman Barat Masih Aman
Di tengah ancaman kemarau panjang, BPBD memastikan sektor pertanian di Sleman bagian barat masih relatif aman.
Pengurangan debit air dari Bendungan Karangtalun memang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS SO), namun tidak sampai menghentikan aliran irigasi.
“Selokan Mataram maupun Van Der Wijck tidak ditutup total. Yang dilakukan hanya pengurangan debit sehingga kebutuhan air pertanian masih bisa terpenuhi,” kata Bambang.
Hingga saat ini, BPBD belum menemukan lahan pertanian yang terdampak langsung atau mengalami gagal tanam akibat El Nino.
Sebagai dasar penanganan, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan melalui Keputusan Bupati Sleman Nomor 59.1/Kep.KDH/2024.
Status tersebut berlaku mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026 dan dapat diperpanjang apabila kondisi cuaca ekstrem serta dampak kekeringan terus berkembang di lapangan. (Gal)