
TUGUJOGJA – Pantangan Rebo Wekasan dipercaya sebagian masyarakat, mulai dari larangan menikah hingga bepergian jauh. Simak tradisi dan pandangan Islam mengenai Rebo Wekasan.
Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan merupakan sebutan untuk Rabu terakhir dalam bulan Safar menurut kalender Hijriah. Tradisi ini masih dikenal di sejumlah wilayah Indonesia, terutama dalam masyarakat Jawa dan beberapa daerah lain yang memiliki tradisi serupa.
Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Rebo Wekasan kerap dikaitkan dengan waktu yang dianggap perlu diwaspadai karena dipercaya membawa berbagai bala atau musibah. Karena keyakinan tersebut, muncul sejumlah pantangan yang hingga kini masih dikenal dan dipraktikkan oleh sebagian masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah larangan menikah, bepergian jauh, membangun rumah, hingga melahirkan pada Rebo Wekasan. Namun, berbagai pantangan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat, bukan ketentuan agama yang secara khusus menetapkan Rebo Wekasan sebagai hari penuh kesialan.
4 Pantangan Rebo Wekasan yang Dipercaya Masyarakat
Kepercayaan mengenai pantangan Rebo Wekasan tidak seragam di setiap daerah. Tradisi yang berkembang dapat berbeda sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Berikut sejumlah larangan yang dikenal dalam tradisi masyarakat tertentu.
1. Menikah pada Rebo Wekasan
Salah satu pantangan yang cukup dikenal adalah melangsungkan pernikahan pada bulan Safar, termasuk pada Rebo Wekasan.
Dalam sebagian masyarakat, pernikahan pada waktu tersebut dipercaya dapat mendatangkan persoalan atau kemudaratan bagi kehidupan rumah tangga pasangan yang baru menikah.
Kepercayaan semacam ini juga ditemukan dalam penelitian mengenai pandangan masyarakat Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Abdulloh dalam penelitian berjudul Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Pantangan Pelaksanaan Pernikahan di Bulan Safar Perspektif Hukum Islam (2018) menguraikan bahwa masyarakat setempat memiliki pantangan menikah pada bulan Safar.
Mereka meyakini bahwa pelanggaran terhadap pantangan tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan rumah tangga pasangan.
2. Melahirkan pada Rebo Wekasan
Pantangan lainnya berkaitan dengan kelahiran bayi. Dalam kepercayaan masyarakat tertentu, bayi yang lahir pada Rebo Wekasan dianggap memiliki kemungkinan tumbuh dengan perangai kurang baik.
Dede Nur Afiyah melalui penelitian berjudul Ritual Perayaan Rebo Kasan Desa Girijaya, Kecamatan Saketi, Pandeglang, Banten (2018) menjelaskan kepercayaan yang berkembang di Desa Girijaya, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Masyarakat setempat memiliki kekhawatiran terhadap bayi yang lahir pada Rebo Wekasan. Bayi tersebut dipercaya dapat tumbuh menjadi anak yang nakal dan mudah marah.
Kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi yang berkembang dalam masyarakat tertentu dan tidak menjadi ketentuan umum mengenai kelahiran dalam Islam.
3. Membangun Rumah
Membangun rumah juga menjadi salah satu aktivitas yang dihindari sebagian masyarakat pada bulan Safar.
Dalam tradisi masyarakat Desa Girijaya yang disebutkan dalam penelitian sebelumnya, pembangunan rumah pada bulan Safar termasuk aktivitas yang jarang dilakukan. Hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan bahwa mendirikan rumah pada bulan tersebut dapat mengundang kedatangan makhluk gaib.
Pantangan ini tentu tidak berlaku secara seragam di seluruh wilayah. Setiap daerah dapat mempunyai pemahaman dan tata cara tradisi yang berbeda dalam menyikapi Rebo Wekasan.
4. Bepergian Jauh
Bepergian jauh pada Rebo Wekasan juga termasuk pantangan yang dikenal dalam sebagian tradisi masyarakat.
Larangan tersebut muncul dari kekhawatiran bahwa perjalanan yang dilakukan pada hari tersebut dapat menyebabkan seseorang mengalami musibah atau malapetaka.
Karena itu, sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas perjalanan jauh dan lebih banyak melakukan kegiatan di lingkungan sekitar.
Apakah Pantangan Rebo Wekasan Berlaku dalam Islam?
Mengenai berbagai pantangan tersebut, perlu dibedakan antara tradisi masyarakat dan ketentuan yang bersumber dari ajaran Islam.
Dalam Islam, tidak terdapat ketentuan yang menetapkan Rabu terakhir bulan Safar sebagai hari yang secara khusus membawa kesialan. Anggapan bahwa bulan Safar atau hari tertentu di dalamnya mempunyai kekuatan mendatangkan malapetaka tidak menjadi ajaran Islam.
Ustaz Abu Muslim dalam buku 1001 Pertanyaan Soal Jawab Agama menjelaskan bahwa anggapan bulan Safar sebagai waktu yang membawa kesialan, terutama Rabu terakhir, termasuk khurafat atau takhayul yang diwariskan dari masa Jahiliah.
Rasulullah SAW juga menolak anggapan tersebut melalui hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA:
“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR Bukhari)
Penjelasan serupa disampaikan Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto, Lc., M.A. al-Hafizh dalam buku Bekal Dai Kontemporer dari Al-Quran dan As-Sunnah As-Shahihah. Dijelaskan bahwa seluruh bulan dalam kalender Islam memiliki kedudukan yang sama dan tidak ada satu bulan yang secara khusus ditetapkan sebagai bulan kesialan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah mencela masa, karena sesungguhnya Allah Ta’ala adalah (pengatur) masa.” (HR Muslim)
Dengan demikian, berbagai pantangan Rebo Wekasan lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi atau kepercayaan yang berkembang di sebagian masyarakat. Umat Islam tidak dianjurkan meyakini bahwa hari tertentu secara mutlak membawa kesialan atau mendatangkan musibah.
Rebo Wekasan Sebaiknya Diisi dengan Amal Baik
Alih-alih meyakini adanya kesialan pada Rebo Wekasan, umat Islam dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak amal saleh.
Doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya dapat dilakukan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan tersebut tidak hanya dapat dilakukan pada Rebo Wekasan, tetapi juga dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pemahaman mengenai Rebo Wekasan perlu ditempatkan secara proporsional. Tradisi yang hidup di masyarakat dapat dihormati sebagai bagian dari budaya, tetapi keyakinan mengenai kesialan suatu hari perlu dibedakan dari ajaran agama.***