
TUGUJOGJA — Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran sejauh sekitar 1,5 kilometer ke arah barat daya pada Senin dini hari, 16 Maret 2026. Peristiwa tersebut terjadi menjelang waktu imsak dan mengarah ke hulu Kali Krasak.
Kejadian ini tercatat pada pukul 03.26 WIB berdasarkan pemantauan alat monitoring aktivitas gunung api yang dipasang oleh petugas. Pergerakan material vulkanik dari puncak gunung terdeteksi dengan jelas melalui sistem pemantauan tersebut.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santosa menyampaikan bahwa awan panas tersebut bergerak menuju sektor barat daya.
“Terjadi awan panas guguran dengan estimasi jarak luncur sekitar 1.500 meter ke arah barat daya atau hulu Kali Krasak,” kata Agus dalam keterangan resmi BPPTKG.
Peristiwa ini berlangsung ketika sebagian besar warga di kawasan lereng Merapi masih berada di rumah menjelang waktu sahur.
Awan Panas Tercatat Selama Lebih dari Tiga Menit
Data pemantauan BPPTKG menunjukkan awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo maksimum 18,1 milimeter dengan durasi sekitar 188,3 detik.
Durasi yang berlangsung lebih dari tiga menit menunjukkan adanya runtuhan material panas dari kubah lava Merapi yang cukup besar. Material tersebut kemudian bergerak menuruni lereng gunung mengikuti gaya gravitasi.
Awan panas guguran terbentuk ketika lava yang menumpuk di puncak gunung menjadi tidak stabil dan mengalami runtuhan. Runtuhan ini berubah menjadi aliran awan panas yang membawa gas, abu vulkanik, dan batuan pijar bersuhu tinggi.
Aliran tersebut umumnya mengikuti lembah dan alur sungai yang berhulu di puncak gunung. Pada kejadian dini hari tersebut, awan panas bergerak melalui sektor barat daya menuju kawasan Kali Krasak.
Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi
Laporan aktivitas gunung api untuk periode pengamatan 15 Maret 2026 menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi.
Dalam kurun waktu satu hari, petugas mencatat dua kejadian awan panas guguran dengan amplitudo antara 9 hingga 17 milimeter dan durasi lebih dari 200 detik.
Selain itu, aktivitas guguran lava tercatat sebanyak 171 kali dengan amplitudo antara 2 hingga 43 milimeter.
Sementara itu, gempa hybrid atau fase banyak tercatat sebanyak 76 kali selama periode pengamatan tersebut.
Petugas juga mencatat setidaknya 41 kali guguran lava yang mengarah ke sektor barat daya. Material pijar tersebut mengalir melalui sejumlah alur sungai utama di lereng Merapi, antara lain Kali Sat, Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak.
Jarak luncur maksimum material lava yang teramati mencapai sekitar dua kilometer dari puncak gunung.
Kondisi Cuaca dan Pengamatan Kawah
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di kawasan Merapi bervariasi antara cerah hingga mendung.
Suhu udara di sekitar gunung tercatat berkisar antara 17,3 hingga 24,2 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara antara 68 hingga 99 persen.
Petugas pengamatan juga mencatat adanya asap kawah berwarna putih dengan tekanan lemah yang keluar dari puncak kawah.
Asap tersebut teramati memiliki intensitas tipis hingga tebal dengan ketinggian sekitar 20 hingga 25 meter di atas puncak gunung.
Selain aktivitas vulkanik, volume curah hujan di kawasan Merapi tercatat mencapai sekitar 70 milimeter per hari.
Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya aliran lahar apabila material vulkanik bercampur dengan air hujan di alur sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Status Gunung Merapi Tetap Siaga
Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis aktivitas vulkanik, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung dan berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas.
Agus Budi Santosa menegaskan bahwa masyarakat di sekitar lereng Merapi perlu mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas kebencanaan geologi.
BPPTKG juga telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak jika terjadi guguran lava maupun awan panas.
Pada sektor selatan hingga barat daya, wilayah potensi bahaya meliputi kawasan Sungai Boyong dengan jarak maksimal lima kilometer dari puncak.
Sementara itu, alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga tujuh kilometer dari puncak gunung.
Pada sektor tenggara, wilayah yang termasuk potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer dari puncak.
Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berpotensi terlontar hingga radius tiga kilometer dari puncak Merapi.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya dan menjauhi alur sungai yang berhulu langsung dari puncak gunung.
Alur sungai tersebut sering menjadi jalur lintasan awan panas maupun aliran lahar.
Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan kesehatan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi atau aktivitas guguran yang lebih besar.
Selain itu, warga di sekitar lereng Merapi diminta meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan turun di kawasan gunung. Hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu aliran lahar yang membawa material vulkanik ke wilayah hilir.
Suplai Magma Masih Terpantau
Data pemantauan menunjukkan suplai magma ke dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.
Kondisi ini membuat gunung api tersebut tetap aktif dan berpotensi menghasilkan guguran lava maupun awan panas dalam periode mendatang.
BPPTKG menyatakan akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi secara intensif melalui jaringan seismograf, kamera pemantau, serta berbagai instrumen pengamatan lainnya.
Apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas vulkanik, otoritas kebencanaan geologi akan melakukan evaluasi dan meninjau kembali tingkat aktivitas gunung.
Sementara itu, masyarakat di sekitar lereng Merapi diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap perkembangan aktivitas gunung tersebut.