
TUGUJOGJA – Yogyakarta sejak lama dikenal dengan sebutan Kota Pelajar. Banyak orang datang ke sini untuk menimba ilmu, mencari pengalaman, sekaligus menikmati suasana yang kerap digambarkan manis dan hangat. Jogja disebut-sebut murah, ramah, dan adem.
Wisatawan pun rela datang berkali-kali untuk bernostalgia, merasakan senja di pinggir kali, atau sekadar duduk sambil menyeruput kopi bersama teman sebaya.
Namun, di balik gambaran indah yang sering dipasarkan sebagai identitas Jogja, ada sisi lain yang jarang tersorot: realita hidup warganya, terutama kalangan menengah ke bawah. Sepuluh tahun terakhir, kota ini mengalami perubahan besar.
Jogja yang dulu dianggap bersahaja, kini justru menampilkan wajah yang penuh paradoks antara romantisme wisatawan dengan perjuangan bertahan hidup masyarakat lokal.
Jogja yang Kian Sesak dan Mahalnya Biaya Hidup
Mereka yang benar-benar tinggal di Jogja merasakan bahwa kota ini makin padat, panas, dan penuh sesak. Jalanan yang dulu lancar kini macet parah, terutama di kawasan UGM hingga Jalan Kaliurang.
Coffee shop tumbuh di setiap sudut, sementara lahan sawah semakin menyempit dan berganti menjadi perumahan atau tempat wisata.
Warung soto legendaris yang dulu jadi langganan mahasiswa kini berganti rupa menjadi kafe dengan nama-nama unik. Memang terdengar estetik, tapi warga lokal justru semakin terpinggirkan.
Mereka kehilangan ruang hidup, sementara tanah dan harga sewa kost melambung tinggi. Situasi ini menambah beban bagi mereka yang menggantungkan hidup dari gaji UMR.
UMR Jogja: Kecil untuk Hidup, Cukup untuk Bertahan
Bicara soal penghasilan, Upah Minimum Regional (UMR) Jogja hanya sekitar dua jutaan rupiah per bulan. Sekilas angka ini terdengar lumayan, tetapi jika dibandingkan dengan biaya hidup, hasilnya sangat timpang.
Bayangkan, untuk makan dua kali sehari, setidaknya butuh Rp30 ribu. Belum dihitung kebutuhan lain seperti Wi-Fi, laundry, bensin, pulsa, hingga ongkos darurat. Gaji bulanan sering kali habis sebelum akhir bulan.
Banyak anak muda yang bekerja di Jogja akhirnya merasa tidak bisa menabung. UMR yang kecil ini lebih cocok untuk liburan seminggu, bukan menopang hidup sebulan penuh.
Maka tidak mengherankan jika banyak orang berkata “Jogja itu murah hanya untuk wisatawan, bukan untuk mereka yang menetap.”
Budaya Lokal: Dari Warisan Hidup Menjadi Komoditas
Yogyakarta sering dijual dengan label “kota budaya.” Tetapi pertanyaannya, budaya yang mana? Kini, budaya lokal lebih sering hadir dalam bentuk yang sudah dikemas ulang untuk turis.
Di kawasan Prawirotaman, Tamansiswa, hingga Kotabaru, kafe, homestay, dan galeri seni berdiri berjejer. Dinding-dinding penuh mural estetik dan kutipan galau, semua demi terlihat menarik di Instagram atau reels.
Budaya asli seperti gamelan atau wayang semakin jarang diminati. Sementara itu, produk-produk modern yang diberi sentuhan “lokal” justru dihargai mahal. Ironisnya, teh kombucha dengan label unik bisa dijual Rp60 ribu, sedangkan kesenian tradisional sering dipandang kuno. Pergeseran ini membuat warga yang tidak punya modal hanya bisa pasrah, sementara ruang budaya mereka berubah jadi barang dagangan.
Romantisme Jogja: Nyata atau Sekadar Ilusi?
Bagi sebagian orang, Jogja tetap terasa romantis. Itu biasanya karena mereka menemukan lingkaran pertemanan yang menyenangkan: teman kuliah, teman kos, atau sahabat yang bisa diajak nongkrong sambil berbagi cerita. Namun, romantisme semacam ini tidak bertahan lama.
Teman kuliah bisa saja bekerja di luar kota, teman kos kembali ke kampung halaman, atau kafe favorit tiba-tiba tutup. Akhirnya, banyak yang menyadari bahwa Jogja tidak lagi seindah yang dibayangkan. Rasa nyaman itu bukan berasal dari kota, melainkan dari momen bersama orang-orang yang kebetulan hadir pada waktu yang tepat.
Tanpa semua itu, Jogja hanyalah kota panas dengan lalu lintas padat dan asap kendaraan yang membuat sesak napas.
Jogja: Manis untuk Wisatawan, Berat untuk Warga
Jogja memang masih bisa disebut manis, tapi manisnya singkat, seperti es teh angkringan yang cepat habis dan meninggalkan ampas. Wisatawan yang datang seminggu-dua minggu tentu merasakan sisi indahnya: senja, budaya, dan kuliner murah meriah.
Tetapi, mereka yang tinggal bertahun-tahun tahu bahwa di balik semua itu ada pahit yang tak bisa diabaikan.
Harga tanah makin tinggi, biaya hidup tidak sebanding dengan UMR, dan warga asli makin sulit bersaing dengan gaya hidup pendatang. Ribuan coffee shop hadir, tetapi harga secangkir kopi rata-rata Rp20 ribu ke atas jumlah yang cukup besar bagi pekerja dengan gaji pas-pasan.
Maka, romantisme Jogja sebenarnya lebih melekat pada mereka yang hanya singgah. Bagi warga menengah bawah, Jogja adalah tempat perjuangan, kota yang menuntut ketabahan, dan ruang hidup yang kian menyempit.
Julukan “Kota Pelajar” atau “Kota Budaya” memang masih melekat pada Yogyakarta. Namun, di balik gemerlapnya, banyak warga yang harus berjibaku hanya untuk bertahan. Jogja bisa terasa romantis, tetapi itu hanya berlaku bagi wisatawan dan pendatang sementara.
Bagi mereka yang tinggal dan bekerja, Jogja lebih mirip kota ujian mental tempat di mana gaji kecil harus diperas habis demi memenuhi kebutuhan hidup. Cinta terhadap kota ini tetap ada, tetapi rasanya kini harus lebih realistis: mencintai Jogja sewajarnya, bukan membabi buta.
Karena pada akhirnya, Jogja bukan hanya kota pelajar, melainkan juga kota bertahan hidup untuk warga lokal maupun para perantau dengan uang pas-pasan.
***