
TUGU JOGJA – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, meningkat sekitar 30 hingga 45 persen selama musim kemarau tahun ini. Peningkatan kasus tersebut terjadi ketika masyarakat menghadapi cuaca panas pada siang hari, suhu dingin pada malam hingga pagi hari, serta kondisi lingkungan yang lebih berdebu.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyebut kondisi kemarau panjang dan fenomena bediding atau suhu udara yang terasa sangat dingin menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong peningkatan kasus ISPA. Minimnya hujan membuat debu lebih mudah beterbangan, sementara perubahan temperatur yang cukup tajam membuat tubuh harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang berbeda.
Kondisi cuaca yang ekstrem menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong peningkatan tersebut. Minimnya hujan membuat lingkungan lebih berdebu, sementara fenomena bediding atau suhu udara yang terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari membuat tubuh harus beradaptasi dengan perubahan temperatur yang cukup tajam.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PL) Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, mengatakan peningkatan kasus ISPA saat kemarau tahun ini tergolong cukup tinggi. Menurut dia, masyarakat menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Debu lebih mudah beterbangan karena hujan tidak turun dalam waktu lama. Pada saat yang sama, suhu udara juga dapat turun drastis, terutama pada malam hingga pagi hari.
“Karena memang hujan tidak ada, debu banyak, begitu nggih. Jadi orang gampang juga turun imunitas tubuhnya. Dan sekarang kan memang kemaraunya ekstrem ya, agak-agak bediding ya istilahnya kalau di Jogja ini ya, dinginnya sangat,” jelas Yuli.
Dia menjelaskan, masyarakat biasanya mulai merasakan sejumlah gejala ketika mengalami ISPA. Demam, batuk, dan pilek menjadi beberapa keluhan yang paling umum muncul.
Gejala tersebut biasanya menandai adanya infeksi pada saluran pernapasan bagian atas. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi tubuh ketika keluhan muncul, terlebih ketika seseorang beraktivitas di lingkungan yang penuh debu atau mengalami perubahan suhu secara ekstrem.
Pasien ISPA Bertambah, Tetapi Tidak Picu Fatalitas
Peningkatan jumlah pasien ISPA memang terjadi di fasilitas kesehatan. Namun, Dinkes Sleman memastikan peningkatan tersebut tidak sampai memunculkan angka fatalitas akibat ISPA yang umum terjadi di masyarakat. Yuli mengatakan sebagian besar kasus ISPA yang muncul masih berada dalam kategori penyakit yang lazim dialami masyarakat.
“Kalau dari ISPA yang biasa sih enggak, nggak ada (fatalitas) ya. Ya biasalah gitu ya. Cuma memang pasiennya bertambah banyak,” ujar dia.
Kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian. Sebab, ISPA termasuk penyakit yang mudah menular dan kerap menjadi salah satu alasan masyarakat mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, mengatakan peningkatan kasus ISPA menjadi hal yang lazim terjadi ketika masyarakat memasuki periode perubahan musim, terutama setelah melewati kemarau panjang sebelum memasuki musim hujan.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat harus membiarkan peningkatan kasus terjadi setiap tahun. Dinkes Sleman justru mendorong masyarakat memperkuat upaya pencegahan dari lingkungan dan diri sendiri.
Cahya mengingatkan masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten selama musim kemarau panjang dan kering. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tetap melakukan perilaku hidup bersih sehat, itu yang paling penting.
“kalau lingkungan bersih, masyarakat juga imunitasnya terjaga. Nah itu yang kami harapkan,” kata Cahya.
Jaga Imunitas di Tengah Kemarau Panjang
Menurut Cahya, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempertahankan kondisi tubuh agar tetap bugar. Upaya tersebut dapat membantu tubuh menghadapi berbagai penyakit yang mudah muncul ketika kondisi lingkungan berubah.
Dinkes Sleman juga menilai kekebalan kelompok atau herd immunity memiliki peran penting dalam menekan dampak penyakit yang menyerang masyarakat. Ketika imunitas individu dan kekebalan kelompok tetap terjaga, masyarakat yang terserang penyakit seperti flu diharapkan tidak mengalami gejala berat.
“Apabila imunitas dan kekebalan kelompok terbentuk, maka kalaupun terkena flu diharapkan tidak terlalu parah,” kata Cahya.
Dinkes Sleman memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi ketika mengalami infeksi. Kelompok tersebut antara lain lanjut usia, anak-anak, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis.
Penderita diabetes melitus (DM), penyakit jantung, dan hipertensi termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Dinkes Sleman menyarankan kelompok rentan tersebut melakukan vaksinasi influenza sebagai salah satu langkah perlindungan.
Langkah tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Suhu yang panas pada siang hari dapat berubah menjadi sangat dingin pada malam dan pagi hari. Kondisi lingkungan yang kering juga meningkatkan paparan debu yang dapat mengganggu saluran pernapasan.
Dinkes Sleman Perkuat Upaya Preventif dan Promotif
Dinkes Sleman tidak hanya mengimbau masyarakat meningkatkan PHBS. Pemerintah juga menjalankan berbagai upaya preventif dan promotif untuk mencegah penyakit berkembang lebih luas di masyarakat.
Cahya mengatakan pihaknya melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar mereka memahami pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Penyuluhan tersebut mendorong masyarakat mengambil peran langsung dalam menjaga kesehatan lingkungan.
Sebab, pencegahan penyakit tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan ketika seseorang sudah sakit. Masyarakat juga memiliki peran penting sejak dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Jadi, kami berharap memang supaya ini nanti tidak menjadi semacam rutinitas tiap tahun, tiap ada musim kemarau panjang dan sebagainya itu (kasusnya) meningkat, ya memang harus ada gerakan dari masyarakat menjaga lingkungannya untuk tetap sehat,” ujar Cahya.
ISPA Jadi Keluhan yang Banyak Masuk Fasilitas Kesehatan
ISPA menjadi salah satu penyakit yang paling sering dikeluhkan masyarakat di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Tingginya angka kunjungan tersebut tidak lepas dari karakter ISPA yang mudah menular.
Musim kemarau panjang dapat memperbesar tantangan pengendalian penyakit. Lingkungan yang kering membuat debu lebih mudah menyebar, sedangkan perubahan suhu dapat memengaruhi kondisi tubuh.
Situasi itu kemudian menuntut masyarakat lebih aktif menjaga kesehatan. Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, memperhatikan kondisi tubuh, dan mempertahankan daya tahan tubuh menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau panjang.
Dinkes Sleman berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan layanan kesehatan ketika sudah mengalami sakit. Masyarakat perlu membangun kebiasaan hidup sehat sebagai langkah pencegahan.
Lonjakan kasus ISPA hingga 45 persen di Sleman menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat langsung berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Cuaca panas, debu, serta fenomena bediding mungkin menjadi bagian dari dinamika musim kemarau, tetapi masyarakat tetap dapat mengurangi risikonya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mempertahankan imunitas.
“Dengan langkah tersebut, Dinkes Sleman berharap peningkatan kasus ISPA tidak terus menjadi pola berulang setiap kali wilayah tersebut menghadapi kemarau panjang, ” pungkasnya. (ef linangkung)