
TUGUJOGJA– Kelurahan Cokrodiningratan bergerak cepat membangun ekosistem pengelolaan sampah mandiri. Lurah Cokrodiningratan, Adityo Bagus Baskoro, menegaskan bahwa pihaknya bersama Sekretariat Dewan Kota Yogyakarta langsung turun ke masyarakat.
Mereka membagikan 2.000 galon tumpuk ke 2.000 rumah. Upaya ini menandai langkah serius warga Cokrodiningratan mengejar predikat zero waste.
“Galon tumpuk ini mendorong masyarakat mulai mengolah sampah organik di rumah. Sebagai insentif, lindi yang dihasilkan akan dibeli kelurahan dengan harga Rp500 per 1,5 liter,” tegas Adityo.
Aksi Warga Kelurahan Cokrodiningratan
Suasana di gang-gang Cokrodiningratan kini berbeda. Warga tidak lagi pasif menunggu gerobak sampah. Mereka memilih mengolah sampah organik sendiri dengan berbagai metode, mulai dari maggot, pakan ternak, hingga fermentasi cairan lindi.
Tak berhenti di situ, Cokrodiningratan juga berhasil memperoleh incinerator sederhana melalui program CSR Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Bank Indonesia. Incinerator tersebut kini beroperasi di RW 5 sebagai percontohan pengelolaan sampah residu.
“Di RW 5, semua berjalan terpadu. Sampah organik dikelola mandiri, sampah anorganik ditabung di bank sampah, dan residu dimusnahkan dengan incinerator. Kami ingin model ini menular ke seluruh RW, sehingga kelurahan bisa benar-benar mandiri,” ungkap Adityo.
Ia menegaskan, Cokrodiningratan tidak hanya ingin sekadar bersih, tetapi juga ingin menjadi kelurahan percontohan zero waste di Kota Yogyakarta.
Komitmen itu semakin nyata saat Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, hadir dalam kegiatan Mas JOS Menyapa di Balai Pertemuan RT 22 RW 05 Jetisharjo, Selasa (23/9). Acara tersebut menjadi panggung sosialisasi Program Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah) dan bukti nyata bahwa pemerintah kota berdiri di sisi masyarakat.
Lima Langkah Mas JOS
Hasto menguraikan lima langkah utama Mas JOS.
- Memilah sampah sesuai jenis
- Menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah
- Mengolah sampah organik
- Menghabiskan makanan
- Menggunakan wadah berulang
Selain itu, Hasto memperkenalkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Mas JOS yang siap menjemput sampah spesifik rumah tangga, mulai dari kasur, perabotan, barang elektronik, pangkasan pohon, hingga sampah berukuran besar.
“Saya sangat mengapresiasi semangat warga Cokrodiningratan. Mereka sudah membuat galon tumpuk, punya incinerator sederhana, bahkan mampu mengurangi setoran sampah ke depo. Ini bukti nyata, kelurahan ini makin lengkap dalam mengelola sampah,” ujar Hasto.
Hasto menegaskan, Cokrodiningratan berhasil membuktikan bahwa kebiasaan baik bisa mengubah wajah sebuah kota. Warga yang sadar mengolah sampah membuat gerobak sampah tak lagi sering menuju depo. Pola ini menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menjadi aktor utama perubahan.
“Kalau satu kelurahan bisa, saya yakin kelurahan lain juga bisa. Mari kita tiru Cokrodiningratan untuk mewujudkan Jogja yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkas Hasto. (ef linangkung)