
TUGUJOGJA – Yogyakarta sejak lama dikenal sebagai kota pelajar sekaligus destinasi wisata kuliner. Selama bertahun-tahun, gudeg dianggap sebagai ikon makanan khas Jogja yang selalu diburu wisatawan.
Namun, dalam satu dekade terakhir, citra kuliner kota ini mulai bergeser. Di kalangan mahasiswa, terutama mereka yang datang dari luar daerah, ayam geprek justru menjelma menjadi simbol baru kuliner Jogja yang tak kalah populer dari gudeg.
Dari Gudeg ke Ayam Geprek: Pergeseran Ikon Kuliner Jogja
Gudeg memang lekat dengan sejarah dan budaya Yogyakarta. Cita rasanya yang manis berpadu dengan kuah kental santan menjadikannya kuliner tradisional yang ikonik. Namun, selera generasi muda kini semakin dinamis.
Mahasiswa yang membutuhkan makanan cepat saji, terjangkau, dan bisa disesuaikan tingkat kepedasannya, lebih memilih ayam geprek dibandingkan gudeg.
Fenomena ini bermula sekitar tahun 2010-an ketika warung-warung ayam geprek mulai bermunculan di sekitar kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), hingga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Menu sederhana berupa ayam goreng tepung yang digeprek bersama sambal pedas langsung mencuri perhatian mahasiswa karena praktis, murah, dan cocok dengan lidah anak muda.
Alasan Ayam Geprek Jadi Favorit Mahasiswa
Ada beberapa faktor yang membuat ayam geprek begitu digemari di Jogja:
- Harga Terjangkau
Mahasiswa tentu membutuhkan makanan yang ramah kantong. Dengan kisaran harga Rp10.000โRp20.000, ayam geprek menjadi solusi makan hemat tanpa mengorbankan rasa. - Fleksibilitas Rasa
Tingkat kepedasan bisa dipilih sesuai selera, mulai dari level rendah hingga super pedas. Fleksibilitas inilah yang membuat ayam geprek lebih variatif dibandingkan gudeg yang memiliki cita rasa dominan manis. - Mudah Ditemukan
Hampir di setiap sudut Jogja, terutama kawasan kos mahasiswa, warung ayam geprek berjejer dengan aneka variasi menu. Bahkan beberapa brand lokal sukses berkembang menjadi franchise nasional berawal dari kota ini. - Praktis dan Cepat Disajikan
Gaya hidup mahasiswa yang serba cepat membuat ayam geprek jadi pilihan utama. Cukup menunggu beberapa menit, seporsi nasi hangat, ayam, dan sambal sudah siap disantap.
Dari Warung Sederhana hingga Franchise Nasional
Kesuksesan ayam geprek di Jogja tidak hanya berhenti pada popularitas di kalangan mahasiswa. Banyak warung ayam geprek lokal yang kemudian berkembang menjadi jaringan usaha besar.
Sebut saja Geprek Bensu, Ayam Geprek Saโi, hingga berbagai brand lokal lain yang kini memiliki cabang di berbagai kota Indonesia. Fenomena ini membuktikan bahwa Jogja bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga tempat lahirnya tren kuliner baru.
Gudeg Tetap Ikonik, Tapi Ayam Geprek Lebih Membumi
Meski ayam geprek kini mendominasi sebagai makanan favorit mahasiswa, gudeg tetap memiliki tempat spesial dalam dunia kuliner Jogja.
Gudeg adalah simbol budaya dan identitas kota, sedangkan ayam geprek lebih merepresentasikan gaya hidup generasi muda yang praktis dan dinamis. Dengan kata lain, gudeg adalah wajah tradisional Jogja, sementara ayam geprek menjadi ikon kekinian yang membumi di kalangan pelajar dan perantau.
Pergeseran tren kuliner di Yogyakarta menunjukkan bagaimana selera masyarakat, khususnya mahasiswa, ikut membentuk identitas baru kota ini.
Jika dulu Jogja identik dengan gudeg, kini ayam geprek hadir sebagai ikon kuliner baru yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Murah, pedas, dan mudah dijangkau, ayam geprek berhasil mengukuhkan diri sebagai makanan khas generasi muda Jogja.
***