
TUGU JOGJA – Dalam menjalani kehidupan, setiap individu pasti memiliki cita-cita dan impian. Namun, sering kali batas antara harapan yang tulus dengan angan-angan kosong menjadi kabur. Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan, seorang pakar studi Islam dan tasawuf, memberikan ulasan mendalam mengenai perbedaan mendasar antara harapan sejati (ar-raja’) dan lamunan yang kini sering disebut sebagai “halu” (umniyatun).
Mengulas hikmah ke-81 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, Prof. M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa dalam dunia sufistik, sebuah harapan tidak bisa berdiri sendiri tanpa tindakan nyata. Beliau menjelaskan bahwa istilah ar-raja’ dalam tradisi tasawuf memiliki landasan yang sangat logis dan aplikatif bagi kehidupan modern saat ini.
Definisi Harapan Sejati: Lebih dari Sekadar Keinginan
Menurut Prof. M. Nur Kholis Setiawan, harapan yang sejati bukanlah sekadar keinginan kuat di dalam hati, melainkan sebuah dorongan yang membuahkan aksi. Ia menegaskan bahwa sufisme sama sekali tidak menegasikan upaya keras atau ikhtiar. Harapan untuk menjadi orang baik, bermanfaat, atau memiliki posisi strategis harus dipandang sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat.
“Adapun pengharapan yang Hakiki (harapan yang sejati) adalah sesuatu yang dibarengi dengan aktivitas atau ikhtiar atau usaha, atau sesuatu yang membangkitkan kesungguhan untuk melakukan sesuatu,” jelasnya.
Tanpa adanya kesungguhan tersebut, maka apa yang dianggap sebagai cita-cita sebenarnya hanyalah kepalsuan. Hal ini disejajarkan dengan konsep kesedihan palsu, di mana seseorang merasa sedih tidak bisa berbuat baik namun tidak melakukan upaya perbaikan apa pun.
Mengapa Hanya Berdoa Saja Disebut ‘Halu’?
Fenomena “halu” atau angan-angan kosong muncul ketika seseorang memisahkan antara keinginan dengan realitas usaha. Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa bermimpi besar tanpa langkah konkret hanyalah sebuah fatamorgana mental. Jika seseorang ingin sukses tetapi hanya menghabiskan waktu dengan tidur atau berdoa tanpa bekerja, maka ia terjebak dalam umniyatun.
“Ketika hanya harapan saja tanpa dibarengi dengan upaya yang serius, upaya yang keras untuk mewujudkan harapan itu, yaitu hanya angan-angan, umniyatun kata Al-Hikam, atau lamunan yang orang sekarang nyebutnya halu,” jelasnya.
Logika yang dibangun sangat sederhana namun tajam: jika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, ia pasti akan mengejarnya. Sebaliknya, jika ia takut akan sesuatu, ia akan lari menjauhinya. Ia memberikan contoh konkret dalam dunia profesional, seperti jabatan tinggi di struktur ASN, di mana seseorang yang berharap menduduki posisi tersebut harus membuktikan kinerjanya dan mengikuti proses seleksi atau lelang jabatan secara maksimal.
Keseimbangan Antara Usaha Maksimal dan Penyerahan Diri
Satu hal penting yang digarisbawahi oleh Prof. M. Nur Kholis Setiawan adalah perlunya keseimbangan antara dimensi ikhtiar (usaha) dan dimensi tawakal (doa/kepasrahan). Dunia sufistik sangat mengenal kedalaman hubungan antara upaya manusia dengan kekuasaan Tuhan. Keseimbangan ini berfungsi sebagai penstabil kondisi psikologis seseorang dalam menghadapi hasil.
“Barang siapa yang mengharapkan sesuatu, dia akan mencarinya. Doa tadi adalah untuk menyeimbangkan; ketika sukses kita tidak takabur, sebaliknya ketika kita gagal kita tidak menjadi orang yang putus asa,” katanya.
Usaha keras adalah bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan diri pada cita-cita, sementara doa menjaga hati agar tetap rendah hati saat berhasil dan tetap tegar saat mengalami kegagalan. Tanpa doa, kesuksesan rentan membuat manusia merasa sombong karena menganggap pencapaian tersebut semata-mata hasil kekuatannya sendiri.
Melalui ulasan hikmah Al-Hikam ini, Prof. M. Nur Kholis Setiawan mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali setiap keinginan yang dimiliki. Apakah keinginan tersebut sudah dibarengi dengan langkah nyata, ataukah kita hanya sedang terbuai dalam lamunan kosong yang kontraproduktif.
Dengan menyelaraskan aktivitas positif sebagai manifestasi dari harapan, seseorang tidak hanya akan mendekat kepada tujuannya, tetapi juga mendapatkan ketenangan batin melalui penyerahan diri yang total kepada Sang Pencipta setelah usaha maksimal dilakukan. Hal inilah yang membedakan seorang pejuang harapan dengan mereka yang hanya terjebak dalam “halu”.