
TUGU JOGJA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Dua mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik angkatan 2022, Wahyu Hanavira dan Jivan Aruna, sukses meraih Juara 2 dalam ajang Architectural Competition Wiswakharman Expo (WEX) 2026, kompetisi arsitektur tingkat nasional yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Sarjana Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM).
Keberhasilan tersebut diraih melalui karya bertajuk Gorong Olah Karya Plus (GOK+), sebuah konsep desain yang menawarkan pengembangan kawasan bantaran sungai agar menjadi ruang publik produktif sekaligus mampu mendukung aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kompetisi berlangsung hampir empat bulan, mulai dari proses pendaftaran hingga presentasi final lima besar yang digelar secara langsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
Kompetisi Arsitektur Nasional Angkat Potensi Bantaran Sungai Indonesia
Architectural Competition Wiswakharman Expo (WEX) merupakan agenda tahunan yang mempertemukan mahasiswa arsitektur dari berbagai perguruan tinggi untuk menghadirkan solusi desain terhadap isu-isu lingkungan binaan.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, kompetisi mengusung tema “Reviving Spaces, Renewing Chances”, yang menitikberatkan pada perancangan arsitektur untuk mengoptimalkan potensi bantaran sungai di Indonesia. Fokus utamanya ialah menghadirkan solusi bagi kawasan sungai yang masih minim pengelolaan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM.
Dalam proses kompetisi, seluruh peserta melalui beberapa tahapan seleksi sebelum akhirnya dipilih lima tim terbaik yang berhak mempresentasikan gagasannya secara luring di hadapan dewan juri.
Pada kompetisi tersebut, Wahyu Hanavira dan Jivan Aruna mendapat pendampingan dari dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UAJY, Maria Vika Wirastri, S.Ars., MUrbMgt & Plan.
GOK+ Tawarkan Konsep Kawasan Sungai Produktif di Kota Semarang
Melalui karya Gorong Olah Karya Plus (GOK+), kedua mahasiswa memilih kawasan Kali Semarang sebagai lokasi pengembangan. Kawasan tersebut dinilai memiliki posisi strategis karena berada di pusat Kota Semarang sehingga berpotensi dikembangkan menjadi ruang publik yang lebih produktif.
Konsep yang mereka usung mengarah pada proyek utopis (utopian project), yaitu sebuah gambaran mengenai kondisi ideal kawasan bantaran sungai pada masa mendatang apabila dikelola secara optimal.
โProyek ini mengarah pada konsep utopian untuk memberikan gambaran tentang bagaimana jika nantinya sungai ini diolah menjadi lebih produktif,โ jelas Hana.
Melalui pendekatan tersebut, tim berharap kawasan sungai tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur kota, tetapi juga mampu menjadi ruang ekonomi, sosial, dan rekreasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Survei Lapangan Jadi Bagian Penting Penyusunan Desain
Dalam menyusun rancangan tersebut, Hana dan Jivan tidak hanya mengandalkan studi literatur. Keduanya juga melakukan observasi langsung ke lokasi yang dipilih untuk memperoleh data lapangan sebagai dasar penyusunan konsep desain.
Menurut mereka, proses tersebut menjadi bagian penting agar rancangan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi nyata kawasan yang akan dikembangkan.
Selain itu, tantangan terbesar selama mengikuti kompetisi adalah menciptakan desain yang tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga mampu menarik perhatian dewan juri melalui tampilan visual yang kuat.
โChallenging-nya ada di bagian desain yang harus eye catching, juga kita harus berusaha agar desain yang kami hadirkan bisa menjadi space eksploratif yang tak terlupakan dan ingin dikunjungi berulang kali oleh pengunjung,โ ujar Jivan.
Persaingan yang melibatkan ratusan karya dari berbagai peserta membuat setiap tim dituntut menghadirkan inovasi yang memiliki nilai estetika sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan kawasan bantaran sungai.
Pengalaman Lomba Dinilai Penting untuk Mengembangkan Kompetensi Mahasiswa
Usai meraih penghargaan, Hana dan Jivan mengajak mahasiswa UAJY agar tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Menurut keduanya, pengalaman mengikuti perlombaan bukan hanya menjadi sarana mengukur kemampuan, tetapi juga membuka kesempatan untuk belajar dari karya peserta lain serta memperkaya portofolio yang akan berguna ketika memasuki dunia kerja.
Mereka juga berharap mahasiswa tidak takut menghadapi kegagalan dan terus berani mencoba tantangan baru sebagai bagian dari proses pengembangan diri.
Prestasi yang diraih Wahyu Hanavira dan Jivan Aruna di ajang Architectural Competition Wiswakharman Expo 2026 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa UAJY lainnya untuk terus berkarya, menghasilkan inovasi, serta mengukir prestasi di tingkat nasional melalui bidang keilmuan masing-masing.