
TUGUJOGJA- Dugaan keracunan makanan yang menimpa mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat mengikuti kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia memicu perhatian serius berbagai pihak.
Insiden yang terjadi pada akhir Desember 2025 itu kini memasuki tahap penyelidikan intensif oleh manajemen rumah sakit dan instansi kesehatan terkait.
Direktur RSJ Grhasia, dr. Akhmad Akhadi S, secara terbuka mengungkapkan bahwa hasil analisis awal mengarah pada satu jenis snack yang paling berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, yakni risoles mayo.
Ia menyebut dua snack lainnya, tahu sarang burung dan banana cake, memiliki risiko lebih rendah dibandingkan risoles mayo.
Dugaan Pemicu Utama Keracunan RSJ Grhasia
Akhmad menjelaskan bahwa mahasiswa mengonsumsi paket snack tersebut saat mengikuti ECE gelombang ketujuh yang berlangsung pada 28–29 Desember 2025.
Setelah kejadian, pihak rumah sakit langsung melakukan penelusuran kronologis terhadap proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi makanan.
“Dari tiga jenis snack yang dikonsumsi, risoles mayo memiliki tingkat kerentanan paling tinggi dari sisi perlakuan dan pengelolaan. Kami menduga snack ini menjadi pemicu utama berdasarkan analisis awal,” kata Akhmad dalam konferensi pers di RSJ Grhasia, Senin (5/1/2025).
Ia menegaskan bahwa pihaknya belum menetapkan kesimpulan akhir, namun fokus penyelidikan sementara mengarah pada produk tersebut.
Akhmad memaparkan bahwa vendor memproduksi risoles mayo pada Minggu, 28 Desember 2025. Setelah proses produksi, vendor menyimpan risoles tersebut di dalam freezer sebelum mengirimkannya ke RSJ Grhasia keesokan harinya.
“Pada Senin dini hari, pihak vendor kembali menggoreng snack tersebut. Sekitar pukul 08.00 WIB, makanan sudah tiba di RSJ Grhasia dan langsung dikonsumsi mahasiswa. Rangkaian proses produksi, penyimpanan di freezer, hingga pengolahan ulang inilah yang kini menjadi fokus utama penelusuran kami,” jelasnya.
Menurut Akhmad, proses tersebut berpotensi memicu kontaminasi mikroorganisme apabila tidak dilakukan sesuai standar keamanan pangan.
Vendor Boga Besar Harus Bertanggung Jawab
Dalam kesempatan yang sama, Akhmad menegaskan bahwa vendor penyedia konsumsi merupakan perusahaan boga besar yang terdaftar resmi dalam sistem marketplace pengadaan elektronik pemerintah. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pertanggungjawaban dari pihak penyedia.
“Perusahaan boga ini terdaftar dalam sistem pengadaan elektronik pemerintah. Sesuai kebijakan, setiap transaksi pengadaan di atas Rp2 juta wajib melalui sistem tersebut. Maka, penyedia konsumsi juga harus bertanggung jawab penuh atas insiden ini,” tegas Akhmad.
Ia memastikan bahwa RSJ Grhasia akan bersikap kooperatif dan transparan dalam mengawal proses penyelidikan hingga tuntas.
Dari sisi medis, Akhmad menjelaskan bahwa gangguan gastrointestinal akibat keracunan makanan umumnya memerlukan waktu pemulihan antara lima hingga tujuh hari. Ia menyebut tingkat keparahan dan kondisi individu sangat memengaruhi proses penyembuhan.
“Pemulihan sangat bergantung pada jenis kuman, jumlah mikroorganisme yang masuk ke tubuh, serta daya tahan masing-masing pasien,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah mahasiswa masih menjalani pemantauan medis karena belum melewati masa observasi.
“Saat ini pemeriksaan laboratorium di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Dinas Kesehatan DIY masih berjalan. Proses biakan mikrobiologi memerlukan waktu minimal tujuh hari,” tambahnya.
UNISA Lakukan Pemantauan Intensif Mahasiswa
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta, Dewi Rohanawati, menyampaikan bahwa tidak seluruh mahasiswa yang mengikuti ECE gelombang terakhir mengalami gejala keracunan. Dari total 40 mahasiswa, hanya sebagian yang melaporkan keluhan kesehatan.
“Sebagian mahasiswa hanya mengonsumsi sedikit snack, bahkan ada yang membawanya pulang. Gejala muncul dalam waktu yang berbeda-beda, mulai dari sore hari, malam hari, hingga keesokan paginya,” jelas Dewi.
Ia menyebut kondisi sebagian besar mahasiswa telah membaik. Namun, dua mahasiswa masih menjalani perawatan inap di RS Sakinah Idaman dan RS PKU Gamping.
Dewi menegaskan bahwa pihak kampus langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan pemantauan intensif selama 24 jam.
UNISA juga membuka jalur komunikasi melalui grup khusus untuk memastikan mahasiswa yang mengalami gejala segera mendapatkan penanganan medis.
“Kami melakukan koordinasi terus-menerus agar setiap mahasiswa yang merasakan keluhan bisa segera tertangani,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan Early Clinical Exposure merupakan bagian dari kurikulum rutin mahasiswa keperawatan semester lima dan telah berlangsung setiap tahun. Selama ini, UNISA belum pernah menghadapi kejadian serupa.
“Kejadian dugaan keracunan ini merupakan yang pertama kali terjadi selama pelaksanaan ECE. Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas Dewi. (ef linangkung)