
TUGUJOGJA-Situasi di Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Jumat (29/8/2025) malam berubah mencekam. Pukul 18.43 WIB, aliran listrik padam. Halaman Polda gelap gulita, hanya ada cahaya merah dari kobaran api yang melalap bangunan humas di sisi timur.
Gedung lantai dasar terbakar bersamaan dengan dua mobil yang terlalap api di halaman. Dalam kekacauan itu, tiga kali suara ledakan terdengar menghentak. Hingga kini, belum ada kepastian dari mana sumber dentuman itu berasal.
Satu unit pemadam kebakaran datang untuk menaklukkan amukan api. Namun, massa terus bertahan di halaman Mapolda, seolah menantang situasi yang semakin panas. Mereka merangsek ke arah barat, menghantam gedung Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Kaca pecah berhamburan, kursi berserakan, dan suasana semakin tak terkendali.
Aksi Jogja Memanggil Berkobar di Pusat Kota
Sejak pukul 15.30 WIB, sekitar seribu orang berkumpul dalam Forum Konsolidasi Jogja Memanggil di Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (YBW UII), Jalan Cik Ditiro. Forum ini dipimpin Prof. Masduki dari Forum Cik Ditiro. Dari titik itu, massa bergerak ke Mapolda DIY.
Barisan mahasiswa dari BEM, HMI, PMII, GMNI, KAMMI, hingga LMND memimpin langkah. Serikat buruh dari FSPMI, KSPI, KSBSI, dan KASBI turut bergabung. Petani, nelayan, organisasi perempuan, komunitas digital, tokoh agama, UMKM, hingga ratusan pengemudi ojek online ikut memenuhi barisan.
Orasi demi orasi menggema di udara Yogyakarta. Suara mereka melantang menuntut keadilan atas kematian pengemudi Affan Kurniawan di Jakarta. Mereka meneriakkan desakan agar DPR RI dibubarkan, Kapolri dicopot, program MBG dihapus, hingga Presiden Prabowo-Gibran diturunkan.
โHari ini kita turun bukan untuk hura-hura! Kita menuntut keadilan, kita menuntut nyawa rakyat tidak lagi dipermainkan!โ teriak seorang orator. Sorak-sorai dan kepalan tangan massa menggema, mengguncang suasana kota yang biasanya damai.
Mapolda DIY Mencekam
Sekitar pukul 17.00 WIB, massa mulai mengalir ke Mapolda DIY. Mereka membawa bendera Merah Putih dan spanduk bertuliskan Polisi Pembunuh. Awalnya situasi berjalan terkendali. Namun, hanya dalam hitungan menit, kericuhan pecah.
Massa menyeret kursi plastik, lalu menyalakan api yang melahap tenda pleton polisi. Asap hitam pekat membubung ke langit sore. Masa merusak mesin ATM di sekitar lokasi. Kemudian, aksi brutal terjadi, membakar sebuah mobil yang terparkir.
Api menjilat tinggi, memantulkan cahaya merah di wajah-wajah tegang pengunjuk rasa. Suasana berubah dramatis, Yogyakarta seakan berada di titik nadir malam itu.
Tidak semua massa larut dalam aksi anarkis. Kelompok ojek online berusaha menenangkan kerumunan. Mereka memisahkan kelompok perusak, berusaha menghentikan amukan agar situasi tidak semakin parah. Namun, kobaran api yang terus membesar memicu langkah tegas polisi.
Pukul 17.44 WIB, suara letupan memecah udara. Polisi menembakkan gas air mata. Kepulan putih menyebar cepat, menusuk mata dan menyesakkan dada. Massa berhamburan. Sebagian mundur ke arah jalan, sementara yang lain bertahan dengan wajah tertutup kain basah.
Sorakan bercampur dengan teriakan panik. Malam Yogyakarta berubah menjadi panggung perlawanan yang penuh api, gas, dan tangis. Asap gas air mata masih menggantung di udara malam. (ef linangkung)