
TUGUJOGJA- Dari sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun bergulat dengan persoalan stunting, lahir sebuah inovasi berbasis gotong royong yang kini mendapat pengakuan tingkat nasional.
Inovasi Semangat Gotong Royong Bebas Stunting (Segoro Bening) di Kemantren Wirobrajan berhasil mengantarkan Pemerintah Kota Yogyakarta meraih Piagam Penghargaan sebagai Finalis Top Inovasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2025 Kelompok Umum dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).
Penghargaan tersebut menjadi penanda keberhasilan kerja kolektif lintas sektor dalam menurunkan angka stunting secara nyata. Segoro Bening tumbuh sebagai gerakan sosial yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam wajah pelayanan publik modern.
Awal Segoro Bening di Kemantren Wirobrajan
Jawatan Sosial Kemantren Wirobrajan, Eka Kusumawati, menegaskan bahwa Segoro Bening lahir dari kesadaran mendalam bahwa stunting tidak bisa ditangani secara parsial.
Pemerintah wilayah melihat stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi persoalan sosial yang menyentuh banyak aspek kehidupan keluarga.
“Sejak awal 2023, setelah data stunting tersedia, kami langsung bertanya, apa intervensi yang paling tepat. Dari situ kami merumuskan Segoro Bening sebagai gerakan bersama. Kami mengajak semua pihak bergerak serentak,” ujar Eka di kantornya, Kamis (22/1).
Pada tahun 2023, prevalensi stunting di Kemantren Wirobrajan masih berada di angka 10,56 persen. Kondisi tersebut menunjukkan kondisi berikut.
- Terbatasnya keterlibatan masyarakat
- Belum optimalnya koordinasi lintas sektor
- Belum meratanya edukasi kepada keluarga berisiko stunting
Data itu menjadi titik balik yang mendorong perubahan pendekatan.
Melalui Segoro Bening, Kemantren Wirobrajan memperluas pendekatan penanganan stunting secara menyeluruh. Pemerintah wilayah mengoptimalkan peran seluruh pemangku kepentingan, dari puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), Polsek, Koramil, hingga dunia usaha dan komunitas masyarakat.
Intervensi berjalan dari hulu ke hilir. Puskesmas menjalankan pemeriksaan kesehatan rutin dan pemberian tablet tambah darah. KUA melakukan pembinaan intensif kepada calon pengantin.
Jadi, mereka siap secara kesehatan dan gizi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga. Aparat kewilayahan mendukung penguatan edukasi dan pengawasan di tingkat komunitas.
“Segoro Bening tidak hanya berbicara soal Pemberian Makanan Tambahan. Gerakan ini membangun sistem gotong royong. ASN, Forkopimtren, dunia usaha, hingga komunitas ikut urunan membantu balita dan keluarga berisiko stunting,” tegas Eka.
Dunia Usaha Turun Tangan, Gotong Royong Menjadi Nyata
Segoro Bening melibatkan berbagai mitra strategis seperti Bank Jogja, BPD DIY, Lazismu, pelaku UMKM, jasa katering, hingga produsen makanan balita.
Kolaborasi ini memungkinkan penyediaan PMT bagi balita dan baduta berisiko stunting, bahkan saat dukungan anggaran khusus belum tersedia.
Keterlibatan dunia usaha memperkuat daya tahan program. Bantuan tidak hanya bersifat insidental, tetapi terintegrasi dengan kebutuhan gizi balita.
Melalui pola kolaborasi ini, Segoro Bening membuktikan bahwa penanganan stunting dapat berjalan berkelanjutan ketika masyarakat merasa memiliki.
Selain intervensi gizi, Segoro Bening menempatkan pendampingan pola asuh sebagai pilar utama. Kemantren Wirobrajan menggandeng Poltekkes Kemenkes melalui program One Student One Family. Mahasiswa kesehatan mendampingi keluarga berisiko stunting selama tiga bulan penuh.
Pendampingan tersebut mencakup edukasi pola makan, pemenuhan gizi seimbang, hingga pengasuhan anak berbasis kebutuhan tumbuh kembang. Program ini membawa perubahan nyata di tingkat keluarga karena edukasi dilakukan secara personal dan berkelanjutan.
Pada tahun 2025, kolaborasi diperluas dengan Universitas Widya Mataram. Mahasiswa mendampingi kegiatan posyandu sekaligus memberikan edukasi langsung kepada orang tua balita. Kemantren merencanakan kerja sama ini berlanjut pada 2026 sebagai bagian dari keberlanjutan Segoro Bening.
Eka Kusumawati menegaskan bahwa penurunan angka stunting tidak membuat pihaknya berpuas diri. Kemantren Wirobrajan terus melakukan evaluasi secara mendalam dan menyeluruh.
Pada akhir 2025, tim melakukan evaluasi case by case dengan melibatkan langsung orang tua balita. Evaluasi ini bertujuan memahami faktor penyebab stunting secara komprehensif, mulai dari kondisi bawaan, faktor genetik, hingga kendala ekonomi keluarga. Model evaluasi ini akan terus berlanjut pada 2026.
“Segoro Bening tidak sekadar mengejar angka. Kami memastikan setiap anak mendapatkan perhatian sesuai kebutuhannya. Penanganan stunting harus manusiawi dan berkeadilan,” kata Eka dengan nada tegas.
Apresiasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inovasi Segoro Bening. Ia menilai pendekatan kolaboratif yang tumbuh dari wilayah menjadi kunci keberhasilan penanganan stunting.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi di wilayah. Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri. Harus melibatkan semua unsur lintas sektoral. Keberhasilan Wirobrajan ini harus bisa direplikasi di wilayah lain,” ujar Aan.
Aan menekankan bahwa semangat pemberdayaan masyarakat dan keterlibatan aktif pemangku kepentingan menjadikan Segoro Bening sebagai praktik baik penanganan stunting. Ia juga mendorong penguatan intervensi di tingkat kelurahan, terutama di wilayah dengan prevalensi stunting yang masih relatif tinggi.
Menanggapi dinamika kebijakan efisiensi anggaran, Aan Iswanti memastikan bahwa penanganan stunting tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Yogyakarta.
“Penanganan stunting tidak hanya menyasar balita stunting, tetapi juga balita dengan gizi kurang, gizi buruk, dan balita yang berat badannya tidak naik. Kami memastikan kualitas layanan tetap terjaga. Stunting tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Keberhasilan Segoro Bening di Kemantren Wirobrajan menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi dari keberanian membangun kolaborasi dan menghidupkan nilai gotong royong.
Dari tingkat kampung hingga pengakuan nasional, Segoro Bening membuktikan bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.
Di Wirobrajan, stunting tidak lagi sekadar angka statistik. Ia berubah menjadi panggilan bersama untuk menjaga masa depan generasi. Dan Segoro Bening telah menjawab panggilan itu dengan kerja nyata.(ef linangkung)