TUGU JOGJA — Perdebatan mengenai kanonisasi dan arah perkembangan sastra Indonesia kembali mengemuka dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026. Melalui agenda Seminar Nasional, sejumlah akademisi, kurator, dan komunitas sastra membahas kemungkinan membaca ulang kanon sastra Indonesia agar lebih plural dan mampu mengakomodasi perkembangan bentuk serta ekosistem sastra kontemporer.
Seminar tersebut menjadi ruang untuk meninjau kembali peta sastra Indonesia modern, termasuk cara karya dan penulis selama ini memperoleh posisi dalam kanon sastra. Pembahasan juga diarahkan pada munculnya perspektif baru dari komunitas, berbagai bentuk sastra kontemporer, serta ekosistem di luar jalur konvensional.
Mungkinkah Ada “Kanon” yang Lebih Plural dan Adil?
Langkah ini diambil untuk membuka kembali ruang diskursus kritis yang sempat stagnan mengenai pembacaan ulang peta sastra Indonesia modern.
Perbincangan mengenai kanonisasi—atau pengangkatan karya/penulis ke dalam strata “kanon” karya unggulan—selama ini cenderung didominasi oleh peran media cetak arus utama, kritikus tunggal, atau dikaitkan dengan peristiwa politik besar tertentu. Di samping itu, pengelompokan sastrawan ke dalam kategori “angkatan” dalam khazanah sastra Indonesia kerap terhenti pada era dekade 2000-an.
Melalui FSY 2026, pihak penyelenggara menekankan bahwa pembahasan kanonisasi ini bukan bertujuan untuk membuat satu “angkatan” sastra baru secara sepihak atau kaku, melainkan untuk menggali indikator-indikator baru di tengah dinamika saat ini.
Kurator FSY 2026, Fairuzul Mumtaz, menyoroti bagaimana seminar ini mencoba membaca ulang perkembangan estetika sastra Indonesia modern yang lahir di luar jalur konvensional:
“Targetnya kita ingin melihat apakah ada kemungkinan-kemungkinan estetika baru di dalam sastra Indonesia yang akan lahir dari event ini. Makanya kita ada lokakarya penulisan puisi, cerpen, esai, termasuk mengapresiasi karya sastra dalam bentuk yang selama ini jarang dijamah. Sejauh ini kita mengamini saja bahwa kanon itu dibentuk dari sastra (koran/media). Kita mencoba memberikan tawaran-tawaran perspektif lain kepada publik sastra bahwa ada komunitas dan event yang juga berperan memunculkan nama-nama dalam dunia sastra.”
Senada dengan Fairuzul, kurator FSY 2026 Ramayda Akmal menilai bahwa perbincangan kanonisasi di masa sekarang sudah harus mempertimbangkan banyak elemen yang lebih luas dan plural:
“Kanonisasi sangat berisiko, berisiko memikirkan yang satu dan mengutamakan yang lainnya. Justru perbincangan ini—judulnya antara komunitas dan kanon—itu sudah dialektis judulnya. Itu mengisyaratkan mungkinkah kanon atau kecenderungan dibentuk dengan cara yang lebih adil dan melibatkan bukan hanya satu aspek tertentu. Di era sekarang, tidak terelakkan kita harus melihat semuanya. Bahkan mungkin tidak bisa lagi kita menyebut angkatan 2000-an dalam bayangan angkatan ’66 atau ’45 dengan logika yang sama.”
Komunitas dan Bentuk Sastra Kontemporer
Dalam konteks kontemporer, hadirnya berbagai genre baru, bentuk sastra digital (sastra coding), pameran apresiasi karya sastra yang diolah sinematik/seni rupa, hingga peran aktif komunitas independen seperti Lesbumi DIY, Jembatan Silo, Rumah Puisi Indonesia, dan Kantor Sajak Indonesia dinilai perlu dibaca ulang dalam lanskap kesastraan tanah air.
Gagasan-gagasan yang dirumuskan oleh para narasumber dari berbagai perguruan tinggi dan komunitas dalam seminar ini nantinya akan didaftarkan sebagai bentuk rekomendasi resmi dari FSY 2026.
Latar Belakang FSY 2026: Sastra sebagai “Laku”
Diskusi mengenai kanonisasi ini menjadi bagian dari tema besar FSY 2026, yaitu “LAKU”. Diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan), FSY tidak dirancang sekadar sebagai ajang pertunjukan seremonial, melainkan sebagai wadah yang mempertemukan seluruh ekosistem sastra.
Perjalanan tema FSY dari tahun ke tahun mencerminkan pembacaan atas perkembangan masyarakat dan dunia sastra:
2022: Mulih
2023: Sila
2024: Siyaga
2025: Rampak
2026: LAKU
Melalui tema “Laku”, sastra dimaknai sebagai proses dan praktik berkelanjutan yang melibatkan banyak pihak—mulai dari penulis, editor, penerjemah, ilustrator, penerbit, komunitas, hingga pembaca.
Kurator FSY 2026, Paksi Raras Alit, menyampaikan bahwa FSY merupakan wujud kerja panjang kebudayaan yang dirintis sejak masa pandemi tahun 2021 dan terus berkembang hingga kini menjadi perhelatan milik publik yang dapat diakses secara gratis.
Ragam Agenda FSY 2026 Lainnya
Selain Seminar Nasional mengenai Kanonisasi Sastra, FSY 2026 yang berlangsung pada 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta ini turut menghadirkan rangkaian acara menarik lainnya selama 8 hari penuh:
- Pasar Buku Sastra: Berkolaborasi dengan IKAPI DIY, menghadirkan bazar ribuan judul buku sastra dan umum dengan harga khusus selama festival.
- Program Literasi & Diskusi: Meliputi gunungan buku, bedah buku, workshop penulisan kreatif (puisi, cerpen, esai), poetry jam, haul sastrawan Jogja, orasi budaya, open stage sastra ‘Bacalah’, serta pameran interaktif sastra coding.
- Panggung Pertunjukan Pembukaan (23 Agustus 2026, 19.30 WIB): Menghadirkan orasi budaya “Sastra sebagai Laku Akademik dan Laku Hidup” serta penampilan anak-anak pemenang kompetisi bahasa dan sastra.
- Panggung Pertunjukan Penutupan (29 Agustus 2026, 19.30 WIB): Pengumuman Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional FSY 2026 (yang diikuti lebih dari 2.500 peserta dari seluruh Indonesia), serta penampilan dari Dee Lestari dan Kiai Kanjeng.
- Integrasi Sastra Indonesia dan Sastra Jawa: FSY 2026 secara khusus meruntuhkan sekat antara tradisi sastra Indonesia modern dan sastra Jawa untuk bergerak bersama dalam satu ekosistem kebudayaan Yogyakarta.
Seluruh rangkaian acara FSY 2026 dapat dikunjungi oleh masyarakat umum mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB tanpa dipungut biaya.





