TUGU JOGJA – Kawasan Taman Siswa atau yang populer disebut Tamsis merupakan salah satu wilayah yang lekat dengan kehidupan Kota Yogyakarta.
Di balik aktivitas kuliner, tempat berkumpul, dan suasana kawasan yang ramai, Taman Siswa memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjuangan Ki Hadjar Dewantara membangun pendidikan bagi masyarakat Indonesia.
Nama Taman Siswa tidak muncul begitu saja. Istilah tersebut berkaitan dengan sekolah yang didirikan Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, sekaligus menjadi bagian dari gagasan pendidikan yang menempatkan kebudayaan, kepribadian bangsa, dan semangat kemerdekaan sebagai dasar pembelajaran.
Makna Nama Taman Siswa dan Filosofi Pendidikan
Secara kebahasaan, nama “Taman Siswa” memiliki makna yang erat dengan dunia pendidikan. Kata “taman” berarti tempat bermain, taman, atau tempat yang menyenangkan, sedangkan “siswa” berarti murid atau peserta didik.
Jika digabungkan, Taman Siswa dapat dimaknai sebagai tempat yang menyenangkan bagi para murid untuk belajar, bermain, serta tumbuh dan berkembang.
Makna tersebut menggambarkan gagasan pendidikan yang tidak semata-mata berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga memberikan ruang bagi perkembangan anak.
Dalam perkembangannya, nama Taman Siswa kemudian melekat pada kawasan di Yogyakarta yang kini dikenal luas sebagai Tamsis.
Kawasan tersebut sekaligus menjadi salah satu bagian yang mengingatkan masyarakat pada sejarah perjuangan pendidikan yang dirintis Ki Hadjar Dewantara.
Sekolah Taman Siswa Didirikan di Yogyakarta pada 3 Juli 1922
Melansir media sosial resmi Instagram @arsipnasionalri, Sekolah Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta.
Pada awal berdirinya, sekolah tersebut diberi nama “National Onderwijs Institut Taman Siswa”. Pendirian sekolah ini merupakan realisasi gagasan Ki Hadjar Dewantara bersama teman-temannya di paguyuban Sloso Kliwon.
Tanggal pendirian tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan nasional Indonesia. Sekolah Taman Siswa lahir pada masa penjajahan ketika akses dan sistem pendidikan masih berada dalam kondisi yang dipengaruhi kepentingan pemerintah kolonial.
Kehadiran Taman Siswa menjadi salah satu upaya untuk membangun pendidikan yang berakar pada kebudayaan dan kepribadian bangsa sendiri.
Gagasan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Berawal dari Taman Siswa
Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat. Melalui Taman Siswa, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan menumbuhkan jiwa merdeka pada anak-anak Indonesia.
Pada masa awal perintisannya, Raden Mas (RM) Suwardi Suryaningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, mendapat mandat dari forum Sarasehan “Selasa Kliwonan” untuk mengelola pendidikan anak-anak.
Bagian pendidikan untuk anak-anak tersebut kemudian berkembang melalui Taman Lare atau Taman Indria yang berfungsi sebagai taman kanak-kanak. Pada awalnya, pendidikan tersebut hanya dimulai dengan satu kelas.
Gedung pertama berada di Kampung Tanjung, yang kini menjadi kawasan Jalan Gajah Mada, Yogyakarta. Bangunan tersebut saat ini digunakan oleh Yayasan Taman Ibu.
Selain pendidikan untuk anak-anak, Ki Hadjar Dewantara juga mengembangkan Taman Guru atau Kursus Guru. Tempat tersebut menjadi wadah belajar bagi calon pamong atau guru Taman Siswa yang nantinya mengajar di berbagai cabang.
Taman Siswa Menjadi Jalan Perjuangan Melalui Pendidikan
Pendirian Taman Siswa berlangsung dalam situasi Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan. Ki Hadjar Dewantara bersama sejumlah tokoh kemudian menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalur perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain Nyi Hadjar Dewantara, R.M. Soetatmo Soerjokoesoemo, R.M.H. Soerjo Poetro, B.R.M. Soebono, Ki Prono Widigdo, Ki Soetopo Wonobojo, dan Ki Tjokrodirdjo.
Mereka bersepakat untuk merintis kemerdekaan melalui jalur pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai sarana penting untuk mencerdaskan kehidupan rakyat sekaligus menanamkan kesadaran dan jiwa merdeka.
Pendidikan yang dikembangkan Taman Siswa juga berlandaskan kebudayaan serta kepribadian bangsa sendiri. Gagasan tersebut diarahkan untuk menanamkan dan menyebarkan benih-benih jiwa merdeka di kalangan anak-anak Indonesia.
Tujuan akhirnya adalah mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia serta membangun masyarakat yang tertib, damai, salam, dan bahagia.
Sekolah Taman Siswa Kini Berpusat di Jalan Taman Siswa
Seiring perkembangannya, Taman Siswa terus menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Indonesia. Melansir keterangan dari akun Instagram resmi @arsipnasionalri, Sekolah Taman Siswa saat ini berpusat di Balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur), Jalan Taman Siswa, Yogyakarta.
Jaringan pendidikan tersebut juga telah berkembang ke berbagai daerah. Saat ini, Taman Siswa mempunyai 129 sekolah cabang yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Keberadaan pusat kegiatan di Jalan Taman Siswa sekaligus memperkuat hubungan antara nama kawasan Tamsis dengan sejarah pendidikan yang dirintis Ki Hadjar Dewantara sejak 1922.
Mengapa Kawasan Ini Disebut Taman Siswa?
Dari sejarah tersebut, nama Taman Siswa memiliki kaitan langsung dengan keberadaan sekolah yang didirikan Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta.
Nama itu bukan sekadar sebutan kawasan, melainkan memiliki latar belakang sejarah pendidikan yang panjang.
Kini, kawasan Tamsis dikenal sebagai salah satu area yang hidup di Kota Yogyakarta. Aktivitas masyarakat, kuliner, tempat berkumpul, serta mobilitas warga dan pelajar membuat kawasan ini terus berkembang mengikuti dinamika kota.
Namun, di balik kehidupan tersebut terdapat sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari perjuangan pendidikan nasional.
Nama Taman Siswa menjadi pengingat terhadap gagasan Ki Hadjar Dewantara yang menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan rakyat dan menumbuhkan jiwa merdeka.
Dengan demikian, ketika menyebut Taman Siswa di Yogyakarta, yang teringat bukan hanya sebuah nama kawasan.
Di dalamnya terdapat jejak sejarah berdirinya Sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922, gagasan “National Onderwijs Institut Taman Siswa”, serta perjalanan pendidikan yang kemudian berkembang hingga memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia.
Nah, itu tadi penjelasan mengenai asal usul nama serta sejarah berdirinya Taman Siswa di Jogja.***