
TUGUJOGJA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intensif. Sepanjang Sabtu, 3 Mei 2025, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat belasan guguran lava pijar meluncur dari puncak Merapi, dengan jarak terjauh mencapai 1.800 meter ke arah Kali Bebeng.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyebutkan bahwa selama periode pengamatan pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, pihaknya merekam 111 kali guguran lava dengan amplitudo 2–16 mm dan durasi hingga 213 detik.
Dari total kejadian tersebut, sebanyak 11 kali guguran lava tampak jelas mengarah ke Kali Sat/Putih dan Kali Bebeng.
“Jarak luncur terjauh terjadi di Kali Bebeng, yang mencapai 1.800 meter. Ini masih berada dalam area potensi bahaya,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Minggu, 4 Mei 2025.
Suplai Magma Masih Aktif, Potensi Awan Panas Masih Tinggi
Selain guguran lava, BPPTKG juga mencatat 131 kali gempa hybrid/fase banyak dan 3 kali gempa tektonik jauh yang menunjukkan masih aktifnya suplai magma dari dalam tubuh gunung.
Kondisi cuaca saat pengamatan dilaporkan berawan dan mendung, dengan suhu berkisar antara 18,2–24°C, kelembapan mencapai 98%, dan angin bertiup tenang ke arah timur dan barat.
Saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya masih berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi:
- Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 km
Agus mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di area potensi bahaya dan tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya awan panas guguran (APG), terutama saat hujan turun di sekitar puncak Merapi.
“Data pemantauan kami menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Ini bisa memicu awan panas guguran dalam waktu dekat jika terjadi longsoran kubah lava,” tambahnya.
BPPTKG juga meminta masyarakat untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik serta mengikuti informasi resmi dari instansi terkait.***