
TUGUJOGJA– Misteri kemunculan api secara tiba-tiba di sebuah rumah di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman, perlahan mulai menemukan titik terang.
Setelah berhari-hari menyita perhatian warga, aparat kepolisian, hingga kalangan akademisi, tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya mengungkap sejumlah temuan penting.
Api yang berkali-kali muncul tanpa penyebab yang jelas itu sempat menimbulkan ketakutan sekaligus rasa penasaran. Warga berbondong-bondong mendatangi lokasi.
Berbagai spekulasi pun bermunculan. Sebagian mengaitkannya dengan fenomena gaib, sementara yang lain menduga adanya reaksi kimia yang tidak biasa.
Di tengah derasnya spekulasi tersebut, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM turun langsung ke lapangan untuk melakukan penyelidikan ilmiah secara menyeluruh.
Hasil investigasi selama beberapa hari terakhir mulai mengerucut pada satu dugaan kuat, yakni keterlibatan gas hidrogen sebagai pemicu utama kemunculan api misterius tersebut.
Observasi Awal Api Seyegan
Tim PKPE FT UGM yang dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi pertama kali melakukan observasi lapangan pada Sabtu, 30 Mei 2026. Dalam kegiatan tersebut, tim menerima informasi dari personel Gegana Polda DIY yang sebelumnya melakukan pengukuran di lokasi.
“Kami mendapat informasi jika Petugas Gegana mendeteksi keberadaan gas CH4 atau metana tepat pada titik munculnya api,” tutur Prof Alva.
Temuan tersebut langsung menjadi perhatian para peneliti karena gas metana merupakan salah satu gas yang mudah terbakar. Namun, hasil pengamatan berikutnya justru memunculkan fakta lain yang cukup mengejutkan.
Tim UGM mengoperasikan kamera termal untuk memetakan kondisi suhu di sekitar rumah. Kamera tersebut memang menunjukkan adanya anomali suhu di area kemunculan api. Akan tetapi, anomali yang muncul ternyata tidak signifikan.
Suhu tertinggi yang terekam hanya berkisar 29 derajat Celsius. Angka itu masih berada dalam rentang suhu lingkungan normal atau suhu ambien. Tim juga tidak menemukan titik panas ekstrem yang biasanya muncul pada lokasi dengan aktivitas pembakaran intensif.
Temuan tersebut membuat para peneliti menyimpulkan bahwa sumber persoalan kemungkinan tidak berasal dari panas berlebih yang tersimpan di dalam tanah maupun bangunan.
Momen paling menarik sekaligus menegangkan terjadi pada Senin, 1 Juni 2026. Tim PKPE FT UGM yang dipimpin Prof. Agung Harijoko dari Departemen Teknik Geologi kembali datang ke lokasi untuk melakukan pengukuran kandungan gas secara lebih detail.
Saat melakukan pemetaan gas di berbagai titik rumah, alat ukur menunjukkan adanya anomali gas hidrogen dalam konsentrasi cukup tinggi.
Di area kamar mandi yang sebelumnya sempat mengeluarkan api, alat mendeteksi konsentrasi gas hidrogen hingga mencapai angka 0,11. Namun peristiwa yang tidak terduga kemudian terjadi.
Ketika tim masih melakukan pengukuran, api kembali muncul di salah satu kamar rumah tersebut. Peristiwa itu berlangsung tepat di hadapan para peneliti.
Kesempatan langka tersebut langsung dimanfaatkan untuk melakukan pengukuran secara real time di sekitar titik api. Hasilnya membuat tim semakin yakin dengan dugaan awal mereka.
Alat ukur menunjukkan konsentrasi gas hidrogen yang melonjak sangat tinggi hingga mencapai angka 0,40 di dekat lokasi kemunculan api. Lonjakan tersebut menjadi petunjuk penting bagi para peneliti.
Gas hidrogen memiliki sifat sangat mudah terbakar dan mampu menghasilkan nyala api ketika bertemu sumber pemantik yang sesuai.
Pengukuran Ketiga Persempit Dugaan Penyebab
Tim PKPE FT UGM tidak berhenti pada satu kali pengukuran. Pada Rabu, 3 Juni 2026, tim lain yang dipimpin Prof. Sarto dan Prof. Chandra Wahyu Purnomo dari Teknik Kimia kembali melakukan investigasi menggunakan perangkat yang berbeda.
Langkah itu memastikan validitas data sekaligus menghindari kemungkinan kesalahan pembacaan alat. Hasilnya semakin memperkuat temuan sebelumnya.
Tim tidak menemukan keberadaan gas mudah terbakar lain dalam jumlah signifikan selain gas hidrogen. Fakta tersebut membuat fokus penyelidikan kini mengarah pada satu pertanyaan utama yang menjadi kunci penyelesaian misteri rumah api Seyegan.
Untuk memastikan asal gas hidrogen itu, Para peneliti saat ini mengerucutkan penyelidikan pada dua kemungkinan sumber. Kemungkinan pertama berasal dari limbah cair yang berada di sekitar lingkungan rumah. Kemungkinan kedua berasal dari gas yang keluar dari dalam tanah.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim menjadwalkan penggalian dangkal di sejumlah titik pada Kamis, 4 Juni 2026. Penggalian itu bertujuan memastikan keberadaan gas di dalam tanah sekaligus memetakan jalur keluarnya gas ke permukaan. Sementara itu, sampel limbah cair di sekitar lokasi juga masih menjalani analisis laboratorium.
Berdasarkan hasil investigasi sementara, para peneliti mulai menyusun hipotesis ilmiah mengenai asal-usul gas hidrogen tersebut. Tim menduga kuat gas hidrogen terbentuk dari proses fermentasi limbah organik yang berkaitan dengan aktivitas pemotongan ayam.
Proses pembusukan material organik dalam kondisi tertentu dapat menghasilkan berbagai jenis gas, termasuk hidrogen. Gas tersebut kemudian diduga terakumulasi dan merembes ke area rumah hingga mencapai konsentrasi tertentu.
Namun, gas hidrogen saja belum sepenuhnya menjelaskan fenomena api yang muncul secara spontan. Karena itu, tim juga mengembangkan dugaan lain yang tidak kalah menarik.
Keberadaan Fosfin
Dalam penyelidikan terbaru, tim peneliti menduga keberadaan gas fosfin atau PH3 turut memainkan peran penting. Gas fosfin adalah senyawa yang sangat mudah terbakar bahkan pada suhu kamar.
Para peneliti menduga gas tersebut dapat terbentuk dari material yang kaya kandungan fosfat, seperti tulang ayam maupun bagian keras dari bulu ayam yang mengalami proses pembusukan.
Jika dugaan tersebut benar, gas fosfin kemungkinan muncul bersamaan dengan gas hidrogen. Saat bertemu oksigen di udara, fosfin dapat langsung terbakar dan memunculkan nyala api.
Nyala api itulah yang kemudian mungkin memantik gas hidrogen di sekitarnya sehingga menghasilkan fenomena api yang selama ini membingungkan warga. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hipotesis tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Gas fosfin dikenal sulit dideteksi karena jumlahnya biasanya sangat kecil dan cepat habis terbakar ketika bereaksi dengan oksigen. Karena itu, tim masih terus mengumpulkan data tambahan untuk memastikan mekanisme yang sebenarnya terjadi.
Imbauan untuk Warga
Sambil menunggu hasil penyelidikan lanjutan, tim PKPE FT UGM mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi risiko kemunculan api berikutnya. Tim meminta penghuni rumah membuka seluruh ventilasi dan jalur sirkulasi udara selebar mungkin agar gas tidak terkumpul di dalam ruangan.
Tim juga menyarankan pemasangan blower maupun kipas angin untuk membantu menghalau kemungkinan rembesan gas yang terakumulasi dalam konsentrasi berbahaya. Selain itu, penghuni rumah sebaiknya mengeluarkan berbagai barang yang mudah terbakar dari dalam bangunan.
Langkah tersebut bertujuan meminimalkan potensi kerugian apabila api kembali muncul sewaktu-waktu. Tidak hanya itu, tim UGM juga berencana melakukan penjenuhan tanah dan lantai rumah menggunakan cairan basa berupa air kapur.
Metode tersebut akan menekan aktivitas bakteri Clostridium yang diduga berperan dalam pembentukan gas hidrogen.
Meski sejumlah fakta ilmiah mulai terungkap, misteri rumah api Seyegan belum sepenuhnya berakhir. Setiap temuan baru justru membuka pertanyaan baru yang menantang untuk dijawab.
Fenomena yang semula di luar nalar perlahan mulai mendapatkan penjelasan ilmiah yang masuk akal.
Tim peneliti UGM terus bekerja memburu sumber gas yang sesungguhnya. Mereka menggali tanah, mengukur kandungan gas, menganalisis sampel limbah, hingga menelusuri kemungkinan reaksi kimia yang selama ini tersembunyi di balik kemunculan api misterius tersebut. (ef linangkung)